Menjadi diri sendiri. Mudah sekali rasanya, menjadi berbeda diantara sekian banyak orang yang cenderung 'sama'. Tapi, jika kita telusuri lebih jauh, menajdi diri sendiri bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Banyak kompensasi pada diri sendiri yang akan menggeser makna dari seberapa pentingnya menjadi diri sendiri dan bahwa, menjadi diri sendiri adalah kunci keberhasilan kita. Penasaran?
Saya sangat tertarik untuk mempelajari fenomena sosial masyarakat dan pola-pola pikir manusia serta merangkumnya untuk dijadikan sebuah tulisan dan Buku Pedoman Menjalankan Kehidupan dalam benak saya sendiri. Saya suka makan pedas, saya tidak ingin gendut, saya suka membaca, tetapi tidak suka menonton, saya sedang tertarik untuk mengeksplor dunia bisnis, keluarga dan pacar adalah kebahagiaan saya, dan saya suka mendengarkan karya Beethoven, dan sedang membaca all-american girl. See? Itu adalah hal-hal yang saya sukai jika saya ditanya oleh orang lain. Orang mulai akan membandingkan dengan kesukaan dirinya sendiri, "wah, gue lebih suka nonton.", "ih, Beethoven apaan, tuh? Mending One Direction." atau "Kok lo suka pedas, sih? Kan gak bagus buat perut." Sadar, tidak? Kalau kita semua pernah berkata sedemikian rupa kepada lawan bicara kita. Kita berusaha untuk mendikte kehidupan orang lain. Dan itu menuru saya tidak normal, sebetulnya, kita belum sepenuhnya memahami suatu hal yaitu: demokrasi. Lho, kenapa tiba-tiba bawa demokrasi ke sini?
Menjadi diri sendiri sama artinya dengan demokrasi. Kita bisa menyerukan, for crying out loud, tentang apapun yang kita inginkan tanpa takut orang lain untuk merasa tersinggung ataupun marah. Saya sangat memercayai bahwa manusia tidak ada yang sempurna, saya meyakini bahwa tidak ada satupun manusia di dunia ini bahkan Thomas Alfa Edison atau Bonaparte sekalipun yang bisa menjadi dirinya sendiri. Betapa kehidupan menjadi sangat membosankannya jika semua manusia dengan mudah bisa mencapai segala keinginan dan bisa mengerti penuh atas dirinya sendiri. Karena kehidupan yang berjalan di dunia ini seperti roda yang berputar, kita membutuhkan waktu untuk bisa benar-benar menjadi diri sendiri. Dan masing-masing individu, tidak ada yang memiliki jalan kehidupan yang sama. Ingat ini, TIDAK ADA YANG MEMILIKI JALAN KEHIDUPAN SAMA.
Menjadi diri sendiri artinya menghargai jiwa dan badan yang kita lakoni. Memberikan yang terbaik dan tahu apa yang benar dan apa yang salah pada diri sendiri. Self-Actualize. Sebelum kita bisa benar-benar bersahabat dengan diri sendiri, jangan bermimpi untuk bisa bersahabat dengan orang lain. Ingat satu hal bahwa yang melihat seberapa baik personaliti kita adalah bukan diri kita sendiri, bukan orangtua, bukan keluarga, tetapi orang-orang yang tidak mengetahui dan yang tidak memiliki interaksi intens terhadap kita. Jika kita tidak bisa menjadi diri sendiri, jangan bermimpi lagi untuk bisa diterima di pergaulan. Bagaiama cara untuk bisa menjadi diri sendiri?
Jangan takut untuk menjadi berbeda dan sangat berbeda dari orang lain, stop membandingkan diri, "dia saja bisa, kenapa kita enggak?" Ini istilah yang biasanya diucapkan orangtua kepada anak, yang maksudnya bagus, untuk memotivasi anak, tetapi banyak yang tidak menyadari bahwa kata-kata ringan tersebut bermakna psikologis yang sangat dalam di jiwa seorang anak. Rasa percaya diri dan jalan anak untuk mulai menemukan dirinya sendiri akan tertutup oleh ego orangtua yang menginginkan anaknya menjadi apa yang mereka inginkan, bukan apa yang anak-anak inginkan, mungkin maksudnya untuk menuntun anak menuju kebaikan karena bagaimanapun pengalaman orangtua lebih besar, tetapi, pernahkah kita berpikir bahwa anak juga memiliki jalan kehidupan sendiri? Bukan jalan kehidupan yang kita obsesikan. Dalam dunia pergaulan, lebih ekstrem lagi. Jika salah memilih pergaulan, kata-kata simple di atas bisa menjadi boomerang buat kita sendiri. Menjadi diri sendiri adalah melepas ego untuk menjadi sama dengan orang lain, belajarlah untuk bisa menentukan sendiri apa yang disukai dan apa yang tidak. Bukan hidup berdasarkan apa yang orang lain sukai dan apa yang orang lain tidak. Untuk menjadi diri sendiri seutuhnya, saya rasa hanya bisa dicapai saat usia kita sudah menurun senja. Saat kita sudah meninggalkan segala atribut keduniawian, dan hanya berfokus pada kehidupan diri sendiri. Semasih kita berinteraksi dengan dunia luar dan menikmati proses bersosialisasi seperti saat ini, untuk sepenuhnya menjadi diri sendiri, tidak akan sukses 100%. Namun, alangkah baiknya kita minimal bisa menjalin persahabatan dengan diri sendiri, sehingga tidak ada orang lain yang mampu semena-mena men-copy jalan kehidupan dan mem-paste-kannya dalam track kehidupan kita yang pastinya akan sangat jauh berbeda.
Saya tidak berkata bahwa kita harus bisa sepenuhnya menjadi diri sendiri. Kehidupan ini hanya sekali, jadi, cobalah banyak hal, gagal dalam banyak hal, bahagia dalam banyak hal, sekaligus bersedih dalam banyak hal juga. Menjadi diri sendiri adalah menghargai kehidupan. Sebagai manusia, Tuhan telah memberikan satu buah ruang untuk kita pakai berjalan menemukan apa yang kita cari, dan jangan berharap jalan hidup kalian, dan jalan hidup saya adalah sama. Salah besar, bahkan seorang kembar pun tidak mungkin memiliki jalan kehidupan yang sama. Setelah kita mampu menghargai hidup kita sendiri, secara otomatis kita akan bisa menghargai kehidupan orang lain.
Terakhir, tentang bagaimana kita menjadi diri sendiri. Seperti cara saya melatih diri saya untuk menjadi 'inilah saya', adalah melakukan hal-hal yang saya cintai. Jangan pernah takut untuk memberikan kebahagiaan pada diri sendiri, dan mengeksplorasi apa yang menjadi potensi dalam diri sendiri. Namanya hidup sebagai manusia, halangan dan rintangan tidak akan luput menghampiri kita, tidak perlu dirisaukan, karena yang menjadi setir dalam hidup kita adalah diri kita sendiri tanpa adanya intervensi dari orang lain, karena yang mengisi kehidupan kita adalah jiwa kita sendiri, bukan dia, mereka, atau siapapun.
Jangan takut menjadi diri sendiri~
-PYM

No comments:
Post a Comment