July 07, 2014

Tidak Menangis Sebelum Menangis

Saya pernah membuat review tentang novel fiksi berjudul The Fault In Our Stars karangan John Green. First impression yang baik untuk penulis yang baru saya kenal. Di saat novel ini belum se-booming sekarang, sampai begitu banyak ada penggemar yang hanya sekedar ikut-ikutan, saya sudah mencintai kisah ini. Setahun lalu saat saya membeli novel ini dan banyak hal yang saya dapat dari hanya membaca interaksi antara Hazel Grace dan Augustus Waters.
Saya banyak mengutip kata mutiara dari novel ini, hingga saya dapat kesempatan untuk menonton filmnya. Sesungguhnya saya bukan penikmat film, tetapi selalu ada pengecualian untuk setiap hal, bukan?
Bagian yang paling saya nanti-nantikan agar terwujud dalam bentuk visual ternyata sesuai dengan bayangan saya selama ini. Perfect! Air mata saya keluar begitu saja saat menonton film ini, yang, well, notabene saya amat sangat jarang menangis. Bahkan di saat bapak saya meninggal pun, tidak ada air mata yang meluncur dari pipi saya.
Okay, menangis. Sama halnya dengan tertawa, menangis adalah sebuah respon dari otak terhadap sebuah kejadian yang dialami oleh manusia. Takut, marah, dengki, apapun itu, pusat kendalinya adalah otak.
Back to menangis.
Saya tidak sebegitu naifnya jadi manusia bahwa saya berkomitmen untuk tidak akan menangis, tidak akan marah, tidak akan tertawa, tidak akan bahagia, tidak akan jatuh cinta, maka teori saya adalah, segala hal yang berhubungan tentang perasaan itu sifatnya tidak konsisten, tidak abadi dan akan selalu berubah-ubah. Dan ini juga tidak bisa dikatakan bahwa kita orang yang tidak tetap pendirian. Karena dalam hidup ini begitu banyak hal yang tidak bisa kita kotak-kotakkan dan kita cap seperti apa yang kita persepsikan. We are alive, we are who run the world. Tentunya dalam konteks yang benar (kita sudah cukup dewasa untuk bisa membedakan yang mana).
Saat dalam perjalanan pulang saya memikirkan banyak hal, tentang betapa dulunya saya sangat antipati untuk menangis, terutama menangisi orang meninggal, karena justru saya sangat mendoakan seseorang yang memang pantas untuk melepaskan diri dengan jiwanya, belakangan menjadi begitu berbeda. Saat mendapat kabar nenek saya meninggal, saya menangis sejadi-jadinya di dalam mobil saat sedang menyetir, dan adik asuh saya hanya diam melihat saya yang begitu rapuh saat itu. Itu baru pertama kalinya ia melihat saya menangis sejadi-jadinya. Tapi, saat saya memutar kembali kaset masa lalu saya enam tahun yang lalu, saat bapak saya meninggal, saya justru menjadi satu-satunya orang terkuat di rumah, karena semua, I mean every single one, menangisi kedatangan ambulans, dan saya hanya tertawa-tawa ceria seperti biasa. See? Lihat saya sekarang menjadi sensitif karena sebuah buku dan film!
Terkadang, kita harus menyalurkan perasaan-perasaan yang dulunya mungkin kita rasa bertolak belakang dengan kepribadian kita. Untuk apa begitu? Tanya dirimu sendiri. Kalau alasan saya, sih, karena saya tidak ingin suatu saat nanti menyesal karena terlewat untuk menikmati semua perasaan-perasaan semasa hidup menjadi manusia, karena umur adalah rahasia Tuhan, jadi saya menikmati tangisan saya karena dulu saya tidak pernah terpikir untuk menangis.
Jangan pernah takut untuk menjadi apa yang bertolak belakang dengan kebiasaanmu. Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang memiliki hak untuk menghakimi, semasih dalam batasan norma, dan semasih kita hidup sebagai manusia, just do it.
Selamat menjadi berbeda!



-PYM
thanks to John Green who taught me how to cry on

No comments:

Post a Comment