Dulu kalau aku tak begitu, kini bagaimana aku?
Dulu kalau aku tak di situ, kini di mana aku?
Kini kalau aku begini, kelak bagaimana aku?
Kini kalau aku di sini, kelak di mana aku?
Tak tahu kelak ataupun dulu
Cuma tahu kini aku begini
Cuma tahu kini aku di sini
Dan kini aku melihatmu
-
Summer in Seoul, Ilana Tan
Cuaca Selasa yang cerah, membuat mood saya untuk menulis meningkat tajam. Sesaat melihat tulisan di atas saya tertegun, hari ini sudah memasuki awal bulan Juli, summer time, orang-orang pergi berlibur, teman saya berulang tahun, ada yang gajian, dan kalau saya... menikmati waktu yang telah saya lalui dan membaginya dengan orang terkasih.
Masih pensaran dalam benak saya tentang bagaimana waktu bisa menjadi patokan untuk jalannya kehidupan di bumi ini. Tidak ada satupun makhluk hidup yang mampu hidup tanpa waktu. Lalu, sebetulnya bagaimana waktu itu terbentuk? Terlalu banyak pertanyaan dalam hati yang tidak bisa terungkap dan akhirnya tersimpan rapi. Jika dilihat dari di mana saya berdiri sekarang, peran waktu menjadi seperti cahaya yang menuntun setiap langkah saya. Seperti melihat hamparan padang rumput yang luas, saya melihat begitu banyak hal yang telah saya lalui dari setiap titik titik kehidupan. Dan di sinilah saya berdiri sekarang.
Saya percaya setiap momentum dalam hidup ini tidak ada yang sia-sia. Semuanya saling berkaitan seperti sulaman benang, satu persatu terjalin sebuah pola yang jika dirajut dengan sabar dan tenang, akan menghasilkan sesuatu yang berarti. Kembali lagi, Sang Waktu menunjukkan perannya.
Waktu yang berlalu begitu cepat tanpa kita semua mampu untuk menyadarinya. Sungguh menakjubkan. Saya bisa saja menjadikan waktu sebagai sahabat sekaligus senjata bagi saya untuk berjalan ke depan. Bekal saya adalah kepergian Sang Waktu, yaitu pengalaman. Apa yang saya rasakan di masa lalu, akan menjadi dasar pijakan untuk saya kembali melangkah di masa depan. Keputusan-keputusan yang saya ambil dalam hidup inilah yang akan dibawa pergi oleh Sang Waktu dan membawa saya ke masa di mana saya bisa melihat hamparan padang rumput yang luas; sebuah perjalanan.
Saya sangat menghargai waktu dan tidak pernah ingin bermusuhan dengannya. Saya ingin bersahabat dengan alam semesta dan seluruh isinya. Saya berusaha untuk berlaku baik, menjadi diri sendiri, apa adanya dan tidak berpura-pura, berekspresi, independen, dan tidak berusaha untuk menyangkut-pautkan diri pada hal yang tidak berkaitan dengan diri saya. Saya memiliki kehidupan, orang terkasih, keluarga, serta sahabat yang di mana perjalanan kami akan terus dibawa pergi oleh Sang Waktu, saya ikhlas. Karena Sang Waktu teramat baik hati pada saya, memberikan kesempatan untuk saya menikmati moment hidup, hari ini.
Semoga dapat menginspirasi untuk lebih mensyukuri hari ini.
-PYM
No comments:
Post a Comment