Beberapa waku lalu saya dikejutkan oleh headline berita online mengenai kasus mutilasi yang dilakukan oleh seorang pria terhadap teman dekat wanitanya. Bisa jadi karena motif percintaan, dendam, lalu memutuskan untuk menghabisi nyawa seseorang begitu saja. Tidakkah kalian berpikir, apa yang dipikirkan oleh orang semacam ini saat melakukan tindakan tersebut? Apakah sudah direncanakan, ataukah karena emosi sesaat?
Saya mengundang banyak pertanyaan terhadap hal tersebut, sampai-sampai saya satu waktu saya memutuskan untuk duduk, menutup mata, dan membayangkan bahwa saya adalah pelaku kriminal. Saya posisikan diri saya sebagai seorang yang memiliki tingkat emosional tidak stabil. Lalu, saya hadapkan diri saya pada medan di mana ada satu kejadian yang tidak saya kehendaki, tetapi sudah terjadi. Daripada saya menanggung malu seumur hidup, dan berhubung kejadian yang tidak saya kehendaki tersebut berkaitan dengan satu individu, saya berpikir pelan. Seolah-olah saya berdiri di dua ambang pintu dan jika saya buka pintu tersebut, yang saya lihat adalah; satu: mengikhlaskan kejadian tersebut dan bersiap bertatapan dengan orang-orang yang mungkin akan melihat saya sebelah mata. dan kedua: saya tidak siap menanggung malu, dan tidak tega melihat masa depan keluarga yang hancur, maka penyebab kejadian ini harus saya binasakan.
Saat saya berpikir dengan akal sehat normal saya, pilihan kedua jelas akan saya buang jauh-jauh, karena saya berpikir efek jangka panjang (domino's effect) dari saya melakukan tindak kejahatan yang disengaja adalah akan membuat masa depan saya hancur tak berbentuk. Lebih baik saya mengikhlaskan kejadian itu, toh, seiring berjalannya waktu, semuanya akan berlalu. Oke.
Tapi saat ini saya sedang memosisikan diri saya sebagai seorang yang sedang dimabuk oleh rasa galau dan tertekan, kegelisahan, depresi tingkat tinggi serta kekecewaan, ditambah rasa takut berlebihan. Saya tidak siap menanggung malu, jadi saya memilih untuk melakukan apa yang insting saya arahkan; eksekusi. Buat penyebab dari permasalahan saya ini hilang selama-lamanya dari muka bumi, karena saya diliputi oleh rasa benci yang tidak bisa dibendung lagi. Saya pun tanpa rasa bersalah, bahkan dengan kepuasan, bisa menghabisi nyawa seseorang yang dulunya pernah berarti dalam hidup saya. Saya menghabisinya dengan perasaan tenang karena sudah terbentuk rencana dalam otak saya akan apa yang arus saya lakukan.
Kembali otak saya berpikir, berarti setiap manusia memiliki insting untuk membunuh satu sama lain, dong? Jawabannya, secara alamiah menurut saya, iya. Tetapi, manusia dicipitakan otak untuk berpikir, sehingga mereka bisa memilah apa yang baik dan apa yang buruk untuk dirinya. Bagaimana masa lalu seseorang bisa memberi pengaruh begitu signifikan pada kehidupan masa kini orang tersebut, bagaimana pola asuh, pola pikir internal, eksternal, tekanan sosial, kurangnya pendidikan, dan rendahnya kontrol diri dapat membawa seseorang menuju penderitaan. Lalu, jika kita sudah mengalami gejala-gejala seperti itu, sebetulnya pantas tidak sih, kita jadi manusia?
Saya bertanya pada diri saya, dan melihat apa yang telah saya lakukan selama 20 tahun ini, saya pribadi merasa pantas untuk menjadi manusia. Kenapa? Karena Tuhan menghendaki saya untuk jadi manusia. Tuhan mengisi badan saya dengan jiwa, dan saya memerankan jiwa ini sebagai seorang Prani. Saya membantu orang, saya memberi apa yang saya punya, saya mencintai kehidupan saya, saya memiliki orang-orang yang mencintai saya, saya diremehkan, saya tidak dihargai, saya dikecewakan, saya dipermainkan, saya dihormati, saya disanjung, membuat saya memiliki pengalaman untuk membawa diri saya pada prinsip bahwa saya lahir sebagai manusia bukan untuk menjadi hujatan masyarakat, kehidupan di dunia ini tidak bisa diukur dengan kebahagiaan semata, tetapi bagaimana kita bisa menjadi kuat dengan pengalaman masa lalu yang menjatuhkan, tetapi kita bisa bangkit dan berjalan seperti semula. saya ingin menjadi ibu, dan memiliki keluarga yang bahagia kelak.
Lalu, tanya pada diri kalian sendiri, di saat punya masalah berat, adakah dua pintu bertolak belakang yang kalian lihat? pintu mana yang akan kalian pilih? Bayangkan diri anda, lalu simpulkan sendiri seberapa pantas anda menjadi seorang manusia.
-human activist
PYM
No comments:
Post a Comment