August 18, 2014

Memanusiakan Manusia

Human Trafficking. Tahukah kalian apa itu? Secara singkat, human trafficking berarti praktek perdagangan manusia oleh oknum-oknum yang memiliki latar belakang keuangan. Praktek perdagangan manusia ini tidak main-main, lho... Ini menjadi persoalan serius di mata dunia, dan hal ini juga pernah dan masih terjadi di Indonesia. Saya tidak akan membahas masalah human trafficking pada post kali ini, karena saya ingin membawa kalian pada obrolan menarik yang masih ada kaitannya dengan human trafficking, yaitu memanusiakan manusia.




Apa yang kalian tafsirkan dalam pikiran saat melihat gambar gadis terangkat dan ada sangkar terbuka di bawahnya? Jika diibaratkan sangkar tersebut adalah sebuah kehidupan dan tangan besar adalah sebuah perintah, maka bisa diartikan sebagai seseorang yang memiliki kehidupan atas dasar keinginan orang lain. Singkatnya, manusia yang hidup seperti sebuah boneka. 
Manusia terlahir sebagai makhluk sosial, sudah tentu harus disadari bahwa kita tidak akan bisa lepas untuk berinteraksi dengan manusia lain setiap saat. Apakah kalian punya keluarga? Apakah keluarga mencintai kalian? Apakah kalian punya sahabat? Orang-orang kepercayaan yang selalu bisa diandalkan saat kalian dalam kesulitan? Jika semua pertanyaan terjawab dengan iya, bagus sekali, kalian berarti sudah sukses dalam menjalin relasi antar sesama umat manusia, dan saya yakin bahwa kehidupan kalian pasti berjalan dengan sangat baik. Lalu, jika tidak, ini yang akan saya bagi kepada kalian.

Treat the other selves, as you want to be treated. Pernah mendengar istilah itu? Perlakukanlah orang lain seperti bagaimana kalian ingin diperlakukan. Ini akan mudah saja berlaku bagi mereka yang memiliki rasa empati dan jiwa sosial yang tinggi, karena berinteraksi dengan manusia adalah sebuah kesenangan dan hal membahagiakan bagi mereka, sehingga memahami orang lain tidaklah begitu sulit. Lalu, bagaimana jika sebaliknya? Tidak bisa dipungkiri, bahwa manusia terlahir untuk memiliki ego. Hal ini tertanam sejak kecil, rasa ego terbawa, terpelihara dengan baik hingga dewasa sehingga menciptakan sebuah karakter terhadap masing-masing individu itu sendiri tergantung dari pola asuh dan pergaulan yang dimiliki oleh orang tersebut. Kesalahan terbesar dalam memainkan ego adalah menjadikan ego sebagai penunjuk arah dalam bagaimana kita menjalani kehidupan.Yang artinya, kepentingan diri sendiri menjadi prioritas utama di atas segala-galanya tanpa kita pernah memikirkan perasaan orang-orang yang bersinggungan dengan kita. Orang-orang yang memiliki rasa ego yang tinggi, akan sulit untuk menerima masukan orang lain, memandang sesuatu dari sisi yang bertentangan, dan memaksakan kehendak terhadap apa hal yang menurut mereka benar. Opininya, mereka bangga kalau bisa menjadi pusat perhatian. Ini wajar saja terjadi, dan tidak ada yang berhak menghakimi orang-orang seperti ini, tetapi, orang lain juga memiliki hak untuk menentukan apakah orang seperti ini pantas untuk dihargai atau tidak. Karena, sudah terlihat, orang-orang yang mementingkan ego dalam bergaul, sangat sulit menjalin kerjasama dengan orang lain.




Memanusiakan manusia mungkin kedengarannya mudah. Tetapi jangan salah, memperlakukan orang lain itu seperti bermain labirin. Kita tidak tahu apakah belokan selanjutnya menuju jalan yang benar, atau malah buntu. Memperlakukan manusia seperti barang juga bukanlah tindakan yang patut dibanggakan. Maka sangat penting bagi kita untuk memikirkan bukan hanya kesenangan bagi diri kita, tetapi perasaan orang lain. Orang yang dicintai oleh teman-temannya, biasanya adalah orang yang sangat bisa menghargai perasaan mereka. Sehingga tercipta rasa nyaman dan percaya bagi mereka untuk berbagi dan berkonsultasi terhadap suatu hal tanpa ada rasa takut atau cemas. Keluwesan dalam bergaul, bukan bagaimana kita agar 'dianggap', tetapi bagaimana orang-orang merasa menginginkan kita untuk ada di dekatnya. Mendengarkan apa yang kita bicarakan, melakukan apa yang kita sarankan, dan membagi apa yang mereka punya. Untuk mencapai itu semua tidak berlaku ego, yang ada hanya rasa empati. Perasaan tulus, tidak menganggap remeh orang lain, tidak merasa diri paling benar, dan menyadari bahwa manusia bukanlah makhluk yang sempurna. 
Jangan pernah memperlakukan orang lain semena-mena, karena apapun yang terjadi, kita dan mereka akan berada dalam sebuah lingkaran kehidupan yang tidak bisa diprediksi keadaannya. Berlaku baik pada semua orang, hargai mereka, tebar kasih sayang sebanyak-banyaknya, banyak membantu, turunkan rasa ego, tinggikan empati, maka kalian tidak perlu membuat sebuah pencitraan agar orang-orang mengetahui siapa diri kalian yang sebenarnya. 

Di masa depan kita akan menyadari pentingnya menghargai perasaan orang lain, percayalah, kehidupan akan jadi lebih indah dan langkah kita akan semakin ringan jika kita mampu menjaga empati dengan orang-orang di sekitar. Tidak akan ada orang yang memandang kita sebelah mata, menyepelekan kita, membicarakan kita di belakang, mencemooh, atau tidak menganggap eksistensi kita dalam kehidupan ini. Jika kalian merasakan hal-hal yang saya sebutkan terjadi pada diri kalian, sudah saatnya kalian membuka mata, bangun dari angan-angan tinggi yang naif, dan mulailah untuk bergerak untuk #revolusimental seperti kata Pak Joko Widodo.
Semoga semakin banyak orang yang mencintai kalian!


-PYM

No comments:

Post a Comment