Menjadi diri sendiri. Mudah sekali rasanya, menjadi berbeda diantara sekian banyak orang yang cenderung 'sama'. Tapi, jika kita telusuri lebih jauh, menajdi diri sendiri bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Banyak kompensasi pada diri sendiri yang akan menggeser makna dari seberapa pentingnya menjadi diri sendiri dan bahwa, menjadi diri sendiri adalah kunci keberhasilan kita. Penasaran?
July 31, 2014
July 26, 2014
Cinta Untuk Dikritik, Cinta Untuk Memuji
Kemarin, tepat tanggal 25 Juli 2014, saya dan pacar saya resmi membuka sebuah situs pribadi berbayar yang berawal dari ide iseng, lalu akhirnya kesampaian dengan tujuan untuk menginspirasi orang banyak melalui media yang memberikan informasi. Proses yang sangat melelahkan bagi kami berdua, jujur saja, karena di situs ini, bisa dilihat di sini, kami mengerjakan setiap detailnya secara hati-hati dan penuh perhitungan. Banyak ketidak-puasan yang kami dapatkan, tetapi untuk mencapai hasil akhir yang dapat diterima publik, kami sudah berhasil melewati proses dan menyelesaikannya. Sebuah website tidak akan ada artinya tanpa pengunjung. Jadi, kami berdua sepakat untuk membuat website ini se-catchy mungkin, agar pengunjung merasa ketagihan untuk membuka website kami untuk memuaskan rasa haus terhadap informasi yang berkembang di sekitar kita.
Banyak reaksi yang muncul seiring dengan kami publish-nya website ini. Ada yang secara terang-terangan memuji, namun tidak sedikit juga hanya memandang sebelah mata, atau acuh sama sekali. Inilah hal menarik yang ingin saya bahas, sesuai dengan judul di atas, saya ingin mengungkapkan bagaimana pandangan saya tentang kritik dan pujian.
Seorang teman melihat saya me-launch website baru di media sosial, lalu menghubungi saya setelah membaca postingan saya di website dan blog ini. Ia memotivasi saya untuk terus menulis, konsisten di sini, karena tulisan-tulisan yang saya buat cenderung anti-mainstream, yaitu memberikan sudut pandang yang bertolak belakang dari pemikiran banyak orang, namun masuk akal. Saya dipuji sedemikian rupa olehnya, dan ditunggu gebrakan menarik agar website ini berhasil di kancah dunia maya. Setelah kami mengobrol beberapa lama, saya berpikir bagaimana perasaan saya setelah dipuji berdasarkan karya yang saya buat. Bangga. Saya merasa dunia sedang berfokus untuk melihat saya dan memerhatikan apa yang sedang saya kerjakan, saya adalah pusat perhatian. Ini menyenangkan sekali, dan sungguh saya menikmatinya. Yang ada di kepala saya hanya bagaimanna orang-orang memberikan ucapan selamat mereka karena tulisan-tulisan saya sangat menginspirasi mereka, dan saya merasa begitu tersanjung dengan kata-kata pujian mereka.
Lalu, tiba saatnya seorang teman lain mengatakan bahwa website saya tidak penting, alay, tidak akan ada yang melihat, dan hanya memandang sebelah mata. Saya kaget, apakah segitu buruknya? Saya hanya tersenyum, dan mengucapkan terimakasih atas kritikannya. Dan justru perasaan saya lebih dari sekedar bangga karena kritikan tersebut. Pasalnya, pacar saya memantau setiap jam mengenai trafik pengunjung website saya, dan responnya sangat bertolak belakang dengan apa yang teman saya ucapkan. Berarti kritikannya terpatahkan, namun ia tidak tahu fakta tersebut, bukan begitu? Saya tidak banyak berbicara, justru mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya atas kritikannya karena itu membuat saya dan pacar saya semakin semangat dalam membuat sebuah karya yang bermanfaat.
Banyak orang begitu mudah untuk melayang karena dipuji atas keberhasilan mereka, tulus maupun hanya untuk cari muka, pujian itu tidak bisa dipungkiri membuat ego kita jadi meningkat dan semakin meningkat, ini sangat berbahaya. Coba perhatikan orang yang sedang dipuji, ekspresi wajahnya pasti berubah dan seperti oase dalam gurun pasir, mood mereka akan meningkat secara drastis. Dan coba perhatikan orang yang habis dikritik mati-matian, kepercayaan dirinya langsung down, namun, jauh dari lubuk hatinya, ia akan mengevaluasi diri, apa kira-kira yang menjadi penyebab dari ketidak-berhasilannya dan bagaimana agar hal tersebut tidak terulang lagi padanya. Mengerti maksud saya? Padahal, kata pujian itu sendiri dapat membuat kita menjadi lupa bahwa pembuktian dari keberhasilan dari pekerjaan kita adalah bukan saat orang-orang menyukai begitu saja hasil karya kita, tetapi bagaimana orang datang dan meremehkan pekerjaan kita yang sebetulnya telah berhasil, lalu dengan bangga kita merangkul mereka dan berkata, "Hei, bud. Santailah sedikit, ingin kuperlihatkan sesuatu? Inilah hasil karyaku yang belum kaulihat tapi sudah kau komentari." Melihat ekspresi orang yang terkaget-kaget karena sesuatu yang dia pikirkan ternyata salah total, sungguh sebuah kebanggaan lebih dari apapun. Perfect!
Siapkan diri untuk menerima banyak kritikan, dan kuatkan mental saat dipuji.
Semoga menginspirasi!
Banyak reaksi yang muncul seiring dengan kami publish-nya website ini. Ada yang secara terang-terangan memuji, namun tidak sedikit juga hanya memandang sebelah mata, atau acuh sama sekali. Inilah hal menarik yang ingin saya bahas, sesuai dengan judul di atas, saya ingin mengungkapkan bagaimana pandangan saya tentang kritik dan pujian.
Seorang teman melihat saya me-launch website baru di media sosial, lalu menghubungi saya setelah membaca postingan saya di website dan blog ini. Ia memotivasi saya untuk terus menulis, konsisten di sini, karena tulisan-tulisan yang saya buat cenderung anti-mainstream, yaitu memberikan sudut pandang yang bertolak belakang dari pemikiran banyak orang, namun masuk akal. Saya dipuji sedemikian rupa olehnya, dan ditunggu gebrakan menarik agar website ini berhasil di kancah dunia maya. Setelah kami mengobrol beberapa lama, saya berpikir bagaimana perasaan saya setelah dipuji berdasarkan karya yang saya buat. Bangga. Saya merasa dunia sedang berfokus untuk melihat saya dan memerhatikan apa yang sedang saya kerjakan, saya adalah pusat perhatian. Ini menyenangkan sekali, dan sungguh saya menikmatinya. Yang ada di kepala saya hanya bagaimanna orang-orang memberikan ucapan selamat mereka karena tulisan-tulisan saya sangat menginspirasi mereka, dan saya merasa begitu tersanjung dengan kata-kata pujian mereka.
Lalu, tiba saatnya seorang teman lain mengatakan bahwa website saya tidak penting, alay, tidak akan ada yang melihat, dan hanya memandang sebelah mata. Saya kaget, apakah segitu buruknya? Saya hanya tersenyum, dan mengucapkan terimakasih atas kritikannya. Dan justru perasaan saya lebih dari sekedar bangga karena kritikan tersebut. Pasalnya, pacar saya memantau setiap jam mengenai trafik pengunjung website saya, dan responnya sangat bertolak belakang dengan apa yang teman saya ucapkan. Berarti kritikannya terpatahkan, namun ia tidak tahu fakta tersebut, bukan begitu? Saya tidak banyak berbicara, justru mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya atas kritikannya karena itu membuat saya dan pacar saya semakin semangat dalam membuat sebuah karya yang bermanfaat.
Banyak orang begitu mudah untuk melayang karena dipuji atas keberhasilan mereka, tulus maupun hanya untuk cari muka, pujian itu tidak bisa dipungkiri membuat ego kita jadi meningkat dan semakin meningkat, ini sangat berbahaya. Coba perhatikan orang yang sedang dipuji, ekspresi wajahnya pasti berubah dan seperti oase dalam gurun pasir, mood mereka akan meningkat secara drastis. Dan coba perhatikan orang yang habis dikritik mati-matian, kepercayaan dirinya langsung down, namun, jauh dari lubuk hatinya, ia akan mengevaluasi diri, apa kira-kira yang menjadi penyebab dari ketidak-berhasilannya dan bagaimana agar hal tersebut tidak terulang lagi padanya. Mengerti maksud saya? Padahal, kata pujian itu sendiri dapat membuat kita menjadi lupa bahwa pembuktian dari keberhasilan dari pekerjaan kita adalah bukan saat orang-orang menyukai begitu saja hasil karya kita, tetapi bagaimana orang datang dan meremehkan pekerjaan kita yang sebetulnya telah berhasil, lalu dengan bangga kita merangkul mereka dan berkata, "Hei, bud. Santailah sedikit, ingin kuperlihatkan sesuatu? Inilah hasil karyaku yang belum kaulihat tapi sudah kau komentari." Melihat ekspresi orang yang terkaget-kaget karena sesuatu yang dia pikirkan ternyata salah total, sungguh sebuah kebanggaan lebih dari apapun. Perfect!
Siapkan diri untuk menerima banyak kritikan, dan kuatkan mental saat dipuji.
Semoga menginspirasi!
July 22, 2014
Give And Take
What a good quote from our father, Mahatma Gandhi which is talked about how the purpose of give and take. "For it is all give and no take." "Untuk semua itu, memberilah dan jangan menerima."
Saya melihat beberapa situasi di luar sana tentang bagaimana proses memberi dan menerima ini masih rancu batasannya. Apakah kita harus lebih banyak menerima? Atau justru lebih banyak memberi? Atau tidak keduanya? Saya memiliki pemikiran yang bertolak belakang kali ini dengan Mr. Gandhi, dan koreksi saya jika ini salah.
Banyak hal dalam kehidupan ini saya pelajari kondisinya lalu saya simpan dalam jurnal pemikiran saya untuk saya analisis dan kemudian menjadikannya sebagai tapakan untuk berjalan ke depan. Salah satunya adalah bagaimana saya menghargai betul tentang interaksi mengenai memberi dan menerima. Saya tidak pernah menolak untuk diberikan sesuatu oleh orang lain. Seburuk atau sebaik apapun niat orang yang memberi, saya meyakini bahwa mereka pasti sudah ikhlas memberi saya, kalau tidak, saya pasti bisa membaca ekspresi wajahnya dan tentunya saya akan menolak. Tapi sejauh ini, banyak orang yang memberi kepada saya memang orang-orang yang penuh rasa ikhlas. Padahal sebetulnya sesuatu yang diberikan kepada saya bukanlah sesuatu yang memang menjadi idaman saya, tetapi, saya punya prinsip "saya akan merasa bahagia jika saya tidak menyakiti orang lain dengan menolak apa yang mereka berikan kepada saya." Besar ataupun kecil pemberian itu, saya pasti akan menyambutnya dengan riang dan penuh rasa suka cita. Mereka yang memberi pun merasa senang karena apa yang mereka berikan berarti di mata si penerima. Dan seterusnya, saya semakin didekatkan dengan rejeki, dalam hal apapun. So is.... kedua tangan saya terbuka lebar untuk menerima apapun pemberian orang terhadap saya, baik ataupun buruk, besar maupun kecil, ringan atau berat sekalipun, suka ataupun tak suka, saya tidak mempermasalahkan mengenai hal itu. Yang terpenting bagi saya adalah bagaimana dengan saya menerima, konektivitas antara saya dan si pemberi semakin erat dan semakin baik ke depannya. Dan di saat saya memiliki sesuatu untuk dibagi, mereka dengan tangan terbuka menerima apapun pemberian saya, kehidupan menjadi penuh canda dan tawa. Harmonis. Dan kami sangat baik-baik saja dan saling memberi sampai sekarang, sharing to another is the most important thing to makes you become happier.
Saya hanya manusia biasa yang tentunya tidak pernah luput dari kesalahan. Sebagai pembanding dari sikap saya di atas, saya melakukan riset yang berbeda. Kali ini, ketika seseorang memberikan saya sesuatu, dengan tegas saya mengucapkan, "TIDAK!" dan bersikeras untuk tidak menerimanya sampai kami mengalami perdebatan kecil masalah tolak-menolak ini. Saya ditanya, "why you tidak menerima saja, sih, saya tidak memberi racun, kok, di sana. Well, if you don't want to, saya akan beri ini ke orang lain." Dan dari ekspresi wajahnya saya bisa membaca ia menambah kata dalam hatinya, "jangan harap aku akan memberi lagi ke kamu, ya setelah ini." Ia berlalu dengan santai. Tetapi, saya berpikir. What have I done? Saya melakukan kesalahan. Apa itu? Saya menyakiti hati orang yang dengan ikhlas memberikan saya sesuatu, untuk alasan apa saya menolak? Karena saya tidak ingin berhutang budi. Hohoho... naif sekali cara berpikir saya. Saya mempertahankan prinsip saya dan menyakiti hati orang lain, dan saya merasa itu sebuah kesalahan. Padahal sebetulnya saya bisa saja pura-pura menerima tetapi setelahnya memberi lagi ke orang lain, daripada menolak mentah-mentah pemberian orang. Hati saya ngilu, setiap kali telah menyakiti orang lain. Dan lain waktu, saya meminta maaf dengan memberikan dia sesuatu, dan....SAYA DITOLAK! Sungguh setelah itu saya dan dia tidak terlalu akrab dalam bergaul, dan ia sekarang sudah lebih maju dari saya, yang tersisa adalah sebuah penyesalan.
Jadi menurut saya, kesimpulannya adalah menerimalah secara ikhlas, lalu kalian akan diberi dengan ikhlas. Sebelum kalian bisa menerima, jangan harap pemberian kalian akan disukai orang lain. Dan jangan pernah menyakiti orang lain dengan berkata tidak pada pemberian mereka, karena apa yang tidak kalian ketahui, di belakang sana, mereka akan mulai menilai kepribadian kalian. Dengan proses inilah kita dapat mempererat hubungan dengan orang lain, dan percayalah, kemanapun kalian melangkah, tidak akan ada kerutan di dahi dan kecemasan, karena percaya diri dengan kepribadian terbuka yang kalian miliki, salah satunya adalah berani menerima sebelum memberi.
"The point is, literally, it's all about how you take more, and give more at the same time, so your life would be balance." -PYM
Semoga menginspirasi!
-PYM
July 18, 2014
Think Different
Saya sengaja mengutip judul diatas dari jargon Apple yaitu "Think Different". Kenapa? Karena ini sangat cocok dengan cara berpikir saya. Postingan kali ini saya ingin mengungkap sedikit perbedaan dari saya dan orang-orang di sekitar saya terutama soal cara pandang saya terhadap sesuatu.
1. Kehidupan
Orang yang berusia di bawah 25 tahun cenderung berpikir individualisme. Masa muda masa berjaya, itulah prinsip mereka. Istilah masa kininya, YOLO (You Only Live Once). Well, saya juga memakai istilah YOLO dalam hidup saya tetapi untuk hal-hal yang cenderung bertentangan. Saya banyak mengeksplor tentang kehidupan dari mengamati orang-orang. Di saat orang tidak peduli dengan sekitarnya, saya justru sebaliknya. Saya bisa menangis hanya karena melihat bapak-bapak mendorong gerobak sampah, mengerutkan kening melihat anak-anak berseragam SD jalan sendirian di tengah hari, atau melihat tukang bangunan yang bekerja di rumah. Saya banyak mengamati pola dan tingkah laku orang-orang, dan saya berprinsip untuk tidak mau menyepelekan setiap orang yang saya temui.
2. Gender
Women are the same as Men. Tapi banyak sekali di luar sana orang-orang masih membedakan gender. "Ladies First" atau "Udah lo cewek diem aja" atau bahkan "Lo cewek bisa apa sih, sini biar gue aja". Lalu, apa gunanya emansipasi wanita dikamapanyekan? Saya berpikir banyak tentang hal ini. Bagaimana perbedaam kaum wanita dan laki-laki begitu jelas terlihat. Mereka jelas-jelas hanya omong kosong saat mengatakan bahwa wanita dan laki-laki itu sama. Tentu saja mereka berbeda. Ada hal yang bisa dikerjakan oleh wanita tetapi tidak oleh laki-laki, dan begitu juga sebaliknya. Saya mulai memikirkan kampanye yang tepat tentang gender yaitu "Toleransi antara Pria dan Wanita". Di mana garis-garis batasannya jelas tentang bagaimana pria dan wanita harus memiliki rasa toleransi yang tinggi dan saling menghargai mengenai keberadaan mereka masing-masing. Tahu secara jelas mengenai pekerjaan yang layak untuk laki-laki dan wanita itu sendiri.
3. Pergaulan
Nah, saya suka membahas mengenai pergaulan. Sejak dulu hingga sekarang, entah kenapa saya justru terikat dengan orang-orang yang memiliki jaringan pergaulan yang luas, sehingga membawa saya juga dikenal banyak orang. Padahal, jujur saja, saya tipikal introvert yang tidak mudah beradaptasi. Tetapi itu dulu, sekarang, semakin saya bertemu banyak orang, saya sangat bersemangat untuk berkenalan dengan setiap orang yang saya temui, berteman, dan membicarakan banyak hal. Dan saya sekarang terbalik menjadi pribadi yang extrovert. Teman-teman seusia saya cenderung hanya berkutat pada pergaulan yang itu-itu saja. Mereka enggan untuk keluar dar zona nyaman dan memilih untuk tetap hangat dalam lingkaran persahabatan mereka. Saya punya banyak pengalaman indah dan pahit tentang dunia pergaulan sehingga membuat saya untuk menggunakan prinsip open minded, tidak membeda-bedakan status sosial seseorang-tetapi tetap memilih pergaulan yang layak untuk diri saya, banyak tersenyum, berani bicara duluan, percaya diri, dan saat ini media sosial yang begitu banyak pilihan, memudahkan saya untuk tetap keep in touch dengan beberapa teman saya baik di dalam maupun luar negeri.
4. Hobi
Setiap orang mempunyai hobi yang berbeda-beda tergantung dari apa yang mereka sukai. Saya memilih untuk menyukai bidang seni seperti bernyanyi, mendesain, dan mengobservasi banyak hal. Di atas semua itu, hobi kebanggaan saya adalah membaca. Bukan hanya sekedar membaca, saya selalu mendapat kepuasan setelah memahami status BBM seseorang yang sarkastis. Atau berpikir dalam setelah membaca iklan layanan masyarakat di jalan. Banyak orang tidak menyadari bahwa membaca buku fiktif, jauh lebih bermanfaat bagi perkembangan mental seorang remaja daripada hanya membaca buku self-help, atau buku motivasi yang berat mengenai finansial, marketing dan sebagainya. Karena cerita fiktif dapat dengan cepat menstimulasi otak agar berpikir, menerka-nerka dan menebak solusi dari setiap permasalahan dalam cerita, jika dilatih secara terus-menerus, ini sangat baik bagi perkembangan emosi remaja berusia 12-18 tahun, dan efeknya nanti akan dirasakan saat mereka berusia diatas 20 tahun. Karena saya mengalaminya sendiri, jadi saya merasa perlu membagikannya.
5. Agama
Sebetulnya topik yang agak sensitif dan butuh beberapa menit dalam diri saya berperang untuk mengungkapkan ini. Saya memutuskan untuk membaginya saja. Secara pribadi, saya bukanlah orang yang religius dan fanatik terhadap suatu agama. Berbekal dari hobi saya membaca buku, saya banyak sekali membaca buku-buku mengenai agama, dan sampailah saya menyimpulkan pada titik bahwa agama justru menjadi penghalang kerukunan umat manusia. (Maaf) karena masing-masing agama memiliki dogma yang berbeda-beda sehingga menimbulkan pergesekan antar penganut yang berbeda sehingga terjadilah perpecahan. Di awal usia 19 tahun saya sempat meminta ijin kepada ibu saya untuk tidak menganut agama sama sekali, tetapi tetap memuja Tuhan dan leluhur. Saya mengambil keputusan ini karena saya merasa lebih nyaman dengan hanya menyebut kata Tuhan dalam setiap doa saya dan tidak terpaku pada ajaran-ajaran yang menyulitkan saya. Tetapi menjelang usia 20 tahun, di saat titik balik perubahan pola pikir saya dari remaja menuju dewasa, saya justru mem-flashback hal-hal apa yang harus saya pikirkan lebih dalam di usia 20 tahun ini. Yang terlintas pertama adalah agama. Ternyata, hati kecil saya bertolak belakang dengan otak saya yang memerintahkan untuk tidak menganut agama. Lalu, saya duduk tenang dan mulai melafalkan doa-doa yang saya anut dan berprinsip untuk setia pada agama yang saya anut sampai ajal memisahkan jiwa dari badan saya. Setelah melakukan itu, layaknya seperti seorang Sidharta yang mendapat pencerahan setelah 7 minggu bertapa di hutan dan menjadi seorang Buddha, di usia 20 tahun, saya menjadi manusia baru yang lebih ber'agama', kenapa saya beri tanda kutip, karena bukan agama menurut saya adalah sebagai pilihan yang membuat diri saya merasa nyaman dan semakin dekat kepada Tuhan, tidak bisa di-intervensi oleh orang lain termasuk orangtua saya sendiri, dan ini murni persoalan pribadi saya antara Tuhan dan diri saya. Beruntungnya saya memiliki pasangan yang memiliki pemikiran sejalan dengan saya, jadi kami sama-sama berprinsip untuk tetap setia pada agama kami namun tidak fanatik dan menjaga toleransi antar umat lain.
-PYM
July 16, 2014
July 13, 2014
Berdamai Itu Indah
Saya sengaja memilih gambar yang paling 'biasa' untuk ditampilkan karena di internet begitu banyak gambar yang membuat hati meringis saking memprihatinkan situasi di sana. Yap, Gaza. Begitu banyak hal yang terjadi beberapa hari belakangan mengenai konflik antar dua negara, Israel dan Palestina. Kabar terakhir yang saya ketahui adalah Israel mengebom Masjid dan sejumlah klinik di Gaza.
Ke mana perginya hati nurani mereka?
Konflik yang tidak kunjung berakhir ini seolah-olah semakin memanas. Lalu, apa fungsi PBB dalam hal ini? Mereka cenderung lamban bergerak untuk menghentikan konflik yang terjadi di Gaza, padahal justru organisasi ini yang harus tegas dalam menindak lanjuti misi perdamaian di dunia.
Okay, saya tidak akan menghabiskan posting kali ini hanya untuk kinerja PBB yang tidak memuaskan. Saya ingin mengajak kalian untuk lebih peka, melihat betapa sengsaranya saudara kita di Gaza yang tempat tinggal, sekolahan, serta segala fasilitas umum dijatuhi bom. Coba kalian bayangkan bila kalian berada di posisi mereka. Hidup dalam kecemasan dan rasa tidak aman, terluka serta hidup sederhana di pengungsian. Tidakkah nurani kalian terketuk?
"Iya, tetapi mereka jauh. Biar mereka selesaikan masalah mereka sendiri." Begitu rata-rata kata orang yang saya tanyai pendapatnya mengenai konflik Gaza ini. Tentu saja kita tidak bisa semudah itu menyelesaikan masalah, karena konflik ini sudah berlangsung bahkan sebelum kalian lahir hingga saat ini. Nah, lalu bagaimana cara kita berkontribusi untuk mereka?
Gampang sekali, di jaman hi-tech seperti ini, kita semua tentunya tidak ketinggalan jaman untuk membuat akun-akun media sosial, kita bisa berkampanye perdamaian dari internet. Karena internet adalah media penghubung yang sangat instan, jadi tidak ada istilah jarak yang terlalu jauh. Lalu, setelah kita berkampanye perdamaian di internet, apa pengaruhnya bagi mereka? Orang-orang yang sedang mengalami guncangan mental, tidak membutuhkan luapan materi agar membuat mereka terlepas dari rasa trauma, yang mereka perlukan adalah motivasi secara mental dan psikis, tempat berlindung dan juga kasih sayang. Coba bayangkan bagaimana kalau orang-orang di seluruh dunia kompak bersama-sama melakukan kampanye perdamaian dan mendesak PBB untuk segera melakukan tindakan untuk meredam konflik, atau siapapun pihak yang berpengaruh untuk menyelesaikan permasalahan perang ini. Is it still impossible?
Kita semua pasti tidak ingin ada korban berjatuhan lagi dan terutama, masa depan bangsa Palestina, yaitu anak-anak, tidak memiliki masa depan yang layak seperti layaknya yang kita miliki saat ini. Mari kita doakan mereka para korban agar kuat, tabah, dan tetap optimis menatap masa depan. Kita jangan henti menyuarakan kampanye perdamaian di media sosial, sebagai bentuk respect kita terhadap umat manusia di dunia.
Ada bagian lirik lagu dari Michael Jackson yang berjudul Heal The World yang semoga bisa menginspirasi, "We could fly so high
let our spirits never die
in my heart I feel
you are all my brothers
create a world with no fear
together we'll cry happy tears
see the nations turn
their swords into plowshares
we could really get there...."
-PYM
sources: google, nytimes, detik
July 09, 2014
Surat 9 Juli
Untuk Bapak Prabowo Subianto, dan bapak Joko Widodo
Salam, PYM
9 Juli 2014, 10.00 am
Hari ini adalah pemilihan umum presiden di Indonesia yang dilaksanakan lima tahun sekali. Euforia pesta demokrasi seperti yang bapak-bapak ketahui, berlangsung sejak tiga bulan belakangan, sangat meriah. Semua media cetak, elektronik, bahkan media sosial pun ikut beramai-ramai untuk berpartisipasi dalam pemilu 2014 ini.
Bapak Prabowo dan bapak Jokowi, hari ini adalah hari penentuan, siapakah diantara kalian berdua yang akan duduk di kursi nomor 1 di Indonesia menggantikan bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Saya tahu, pak Prabowo dan pak Jokowi pasti sedang deg-degan menunggu hasil, tetapi tetap menujukkan wajah tenang di depan media. Salut!
Sebelum salah satu dari kalian akan terpilih menjadi The President of Indonesia, saya ingin mengucapkan terimakasih kepada pak Prabowo dan pak Jokowi. Terimakasih, karena kalian berdua telah memberanikan diri untuk maju sebagai calon presiden, pak Prabowo yang seorang pengusaha dan pak Jokowi yang bergerak di bidang birokrasi, meninggalkan tugasnya sementara untuk muncul sebagai harapan baru Bangsa Indonesia. Sungguh sangat mulia...
Terimakasih untuk segala pengorbanan pak Prabowo dan pak Jokowi semasa kampanye, mengajak rakyat Indonesia untuk memilih, memperjuangkan rakyat, dan memberikan santunan-santunan kepada rakyat kecil.
Terimakasih juga untuk pak Prabowo dan pak Jokowi, karena telah memiliki jiwa kepemimpinan yang begitu besar sehingga kalian berdua memang pantas untuk diunggulkan sebagai calon pemimpin bangsa.
Terimakasih telah memberikan contoh untuk bertoleransi diantara para kandidat capres dan cawapres, walaupun di luar sana para pendukung bapak-bapak sekalian, saling menjatuhkan satu sama lain.
Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa demokrasi di negara kita sudah sangat transparan dewasa ini. Semua warga negara dengan bebas dapat menyuarakan aspirasinya untuk membela para kandidat presiden pilihan mereka. Seperti saat ini, saya memutuskan untuk membuat surat ini, sebagai bentuk dukungan saya terhadap pak Prabowo dan pak Jokowi. Di saat banyak warga di luar sana yang melakukan black campaign, saling menjatuhkan kandidat lain, saling mempengaruhi, membongkar bobrok masing-masing kandidat, saya lebih memilih jalan lain yaitu mendukung dan percaya akan visi misi kalian berdua yang bertujuan untuk menjadikan bangsa Indonesia ini semakin maju ke depan dan melanjutkan visi dan misi dari presiden terdahulu. Terlepas dari segala kepentingan golongan yang kalian emban (yang saya yakini sekali bahwa itu tidak ringan), saya yakin bapak-bapak sekalian adalah pemimpin yang bijaksana dan siapapun yang terpilih nanti, akan lebih cermat dalam membawa Indonesia selama lima tahun ke depan. Tentu saja menuju ke arah kebaikan, karena jika sebaliknya, bapak-bapak sekalian akan berhadapan dengan lebih dari 202 juta rakyat Indonesia yang kecewa telah memilih salah satu dari kalian. Tolong, kepada siapapun yang terpilih nanti, berikanlah yang terbaik, buatlah keputusan-keputusan yang adil, jangan pernah lupakan dasar ideologi negara kita, dan jadilah pemimpin yang dicintai oleh rakyat, dengan selalu tersenyum dan optimis bahwa Indonesia akan menjadi negara yang dihormati di mata internasional, rakyatnya sejahtera, pemerintahnya bersih dari korupsi, serta nilai investasi yang semakin meningkat. Salah satu dari kalian akan menjadi icon Indonesia di mata internasional, jadi percaya dirilah, dan tunjukkan bahwa kalian memang layak sebagai seorang pemimpin. Dengan niat yang tulus dan ikhlas, saya yakini bapak-bapak sekalian akan memperoleh jawaban yang pantas atas pencalonan diri ini.
Demikianlah surat ini, saya selaku rakyat Indonesia, mewakilkan diri untuk memohon maaf atas semua kesalahan ataupun kekhilafan kami dalam berkampanye di media sosial yang mungkin kurang sopan, menyakiti hati, ataupun sebagainya. Semoga pak Prabowo dan pak Jokowi berlapang dada untuk menerima kekalahan, dan tidak lupa diri saat menerima kemenangan. Sukses untuk kalian berdua, pak Prabowo dan pak Jokowi!
Salam, PYM
9 Juli 2014, 10.00 am
July 07, 2014
Tidak Menangis Sebelum Menangis
Saya pernah membuat review tentang novel fiksi berjudul The Fault In Our Stars karangan John Green. First impression yang baik untuk penulis yang baru saya kenal. Di saat novel ini belum se-booming sekarang, sampai begitu banyak ada penggemar yang hanya sekedar ikut-ikutan, saya sudah mencintai kisah ini. Setahun lalu saat saya membeli novel ini dan banyak hal yang saya dapat dari hanya membaca interaksi antara Hazel Grace dan Augustus Waters.
Saya banyak mengutip kata mutiara dari novel ini, hingga saya dapat kesempatan untuk menonton filmnya. Sesungguhnya saya bukan penikmat film, tetapi selalu ada pengecualian untuk setiap hal, bukan?
Bagian yang paling saya nanti-nantikan agar terwujud dalam bentuk visual ternyata sesuai dengan bayangan saya selama ini. Perfect! Air mata saya keluar begitu saja saat menonton film ini, yang, well, notabene saya amat sangat jarang menangis. Bahkan di saat bapak saya meninggal pun, tidak ada air mata yang meluncur dari pipi saya.
Okay, menangis. Sama halnya dengan tertawa, menangis adalah sebuah respon dari otak terhadap sebuah kejadian yang dialami oleh manusia. Takut, marah, dengki, apapun itu, pusat kendalinya adalah otak.
Back to menangis.
Saya tidak sebegitu naifnya jadi manusia bahwa saya berkomitmen untuk tidak akan menangis, tidak akan marah, tidak akan tertawa, tidak akan bahagia, tidak akan jatuh cinta, maka teori saya adalah, segala hal yang berhubungan tentang perasaan itu sifatnya tidak konsisten, tidak abadi dan akan selalu berubah-ubah. Dan ini juga tidak bisa dikatakan bahwa kita orang yang tidak tetap pendirian. Karena dalam hidup ini begitu banyak hal yang tidak bisa kita kotak-kotakkan dan kita cap seperti apa yang kita persepsikan. We are alive, we are who run the world. Tentunya dalam konteks yang benar (kita sudah cukup dewasa untuk bisa membedakan yang mana).
Saat dalam perjalanan pulang saya memikirkan banyak hal, tentang betapa dulunya saya sangat antipati untuk menangis, terutama menangisi orang meninggal, karena justru saya sangat mendoakan seseorang yang memang pantas untuk melepaskan diri dengan jiwanya, belakangan menjadi begitu berbeda. Saat mendapat kabar nenek saya meninggal, saya menangis sejadi-jadinya di dalam mobil saat sedang menyetir, dan adik asuh saya hanya diam melihat saya yang begitu rapuh saat itu. Itu baru pertama kalinya ia melihat saya menangis sejadi-jadinya. Tapi, saat saya memutar kembali kaset masa lalu saya enam tahun yang lalu, saat bapak saya meninggal, saya justru menjadi satu-satunya orang terkuat di rumah, karena semua, I mean every single one, menangisi kedatangan ambulans, dan saya hanya tertawa-tawa ceria seperti biasa. See? Lihat saya sekarang menjadi sensitif karena sebuah buku dan film!
Terkadang, kita harus menyalurkan perasaan-perasaan yang dulunya mungkin kita rasa bertolak belakang dengan kepribadian kita. Untuk apa begitu? Tanya dirimu sendiri. Kalau alasan saya, sih, karena saya tidak ingin suatu saat nanti menyesal karena terlewat untuk menikmati semua perasaan-perasaan semasa hidup menjadi manusia, karena umur adalah rahasia Tuhan, jadi saya menikmati tangisan saya karena dulu saya tidak pernah terpikir untuk menangis.
Jangan pernah takut untuk menjadi apa yang bertolak belakang dengan kebiasaanmu. Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang memiliki hak untuk menghakimi, semasih dalam batasan norma, dan semasih kita hidup sebagai manusia, just do it.
Selamat menjadi berbeda!
-PYM
thanks to John Green who taught me how to cry on
July 03, 2014
Pantaskah Kita Jadi Manusia?
Beberapa waku lalu saya dikejutkan oleh headline berita online mengenai kasus mutilasi yang dilakukan oleh seorang pria terhadap teman dekat wanitanya. Bisa jadi karena motif percintaan, dendam, lalu memutuskan untuk menghabisi nyawa seseorang begitu saja. Tidakkah kalian berpikir, apa yang dipikirkan oleh orang semacam ini saat melakukan tindakan tersebut? Apakah sudah direncanakan, ataukah karena emosi sesaat?
Saya mengundang banyak pertanyaan terhadap hal tersebut, sampai-sampai saya satu waktu saya memutuskan untuk duduk, menutup mata, dan membayangkan bahwa saya adalah pelaku kriminal. Saya posisikan diri saya sebagai seorang yang memiliki tingkat emosional tidak stabil. Lalu, saya hadapkan diri saya pada medan di mana ada satu kejadian yang tidak saya kehendaki, tetapi sudah terjadi. Daripada saya menanggung malu seumur hidup, dan berhubung kejadian yang tidak saya kehendaki tersebut berkaitan dengan satu individu, saya berpikir pelan. Seolah-olah saya berdiri di dua ambang pintu dan jika saya buka pintu tersebut, yang saya lihat adalah; satu: mengikhlaskan kejadian tersebut dan bersiap bertatapan dengan orang-orang yang mungkin akan melihat saya sebelah mata. dan kedua: saya tidak siap menanggung malu, dan tidak tega melihat masa depan keluarga yang hancur, maka penyebab kejadian ini harus saya binasakan.
Saat saya berpikir dengan akal sehat normal saya, pilihan kedua jelas akan saya buang jauh-jauh, karena saya berpikir efek jangka panjang (domino's effect) dari saya melakukan tindak kejahatan yang disengaja adalah akan membuat masa depan saya hancur tak berbentuk. Lebih baik saya mengikhlaskan kejadian itu, toh, seiring berjalannya waktu, semuanya akan berlalu. Oke.
Tapi saat ini saya sedang memosisikan diri saya sebagai seorang yang sedang dimabuk oleh rasa galau dan tertekan, kegelisahan, depresi tingkat tinggi serta kekecewaan, ditambah rasa takut berlebihan. Saya tidak siap menanggung malu, jadi saya memilih untuk melakukan apa yang insting saya arahkan; eksekusi. Buat penyebab dari permasalahan saya ini hilang selama-lamanya dari muka bumi, karena saya diliputi oleh rasa benci yang tidak bisa dibendung lagi. Saya pun tanpa rasa bersalah, bahkan dengan kepuasan, bisa menghabisi nyawa seseorang yang dulunya pernah berarti dalam hidup saya. Saya menghabisinya dengan perasaan tenang karena sudah terbentuk rencana dalam otak saya akan apa yang arus saya lakukan.
Kembali otak saya berpikir, berarti setiap manusia memiliki insting untuk membunuh satu sama lain, dong? Jawabannya, secara alamiah menurut saya, iya. Tetapi, manusia dicipitakan otak untuk berpikir, sehingga mereka bisa memilah apa yang baik dan apa yang buruk untuk dirinya. Bagaimana masa lalu seseorang bisa memberi pengaruh begitu signifikan pada kehidupan masa kini orang tersebut, bagaimana pola asuh, pola pikir internal, eksternal, tekanan sosial, kurangnya pendidikan, dan rendahnya kontrol diri dapat membawa seseorang menuju penderitaan. Lalu, jika kita sudah mengalami gejala-gejala seperti itu, sebetulnya pantas tidak sih, kita jadi manusia?
Saya bertanya pada diri saya, dan melihat apa yang telah saya lakukan selama 20 tahun ini, saya pribadi merasa pantas untuk menjadi manusia. Kenapa? Karena Tuhan menghendaki saya untuk jadi manusia. Tuhan mengisi badan saya dengan jiwa, dan saya memerankan jiwa ini sebagai seorang Prani. Saya membantu orang, saya memberi apa yang saya punya, saya mencintai kehidupan saya, saya memiliki orang-orang yang mencintai saya, saya diremehkan, saya tidak dihargai, saya dikecewakan, saya dipermainkan, saya dihormati, saya disanjung, membuat saya memiliki pengalaman untuk membawa diri saya pada prinsip bahwa saya lahir sebagai manusia bukan untuk menjadi hujatan masyarakat, kehidupan di dunia ini tidak bisa diukur dengan kebahagiaan semata, tetapi bagaimana kita bisa menjadi kuat dengan pengalaman masa lalu yang menjatuhkan, tetapi kita bisa bangkit dan berjalan seperti semula. saya ingin menjadi ibu, dan memiliki keluarga yang bahagia kelak.
Lalu, tanya pada diri kalian sendiri, di saat punya masalah berat, adakah dua pintu bertolak belakang yang kalian lihat? pintu mana yang akan kalian pilih? Bayangkan diri anda, lalu simpulkan sendiri seberapa pantas anda menjadi seorang manusia.
-human activist
PYM
July 01, 2014
Dibawa Pergi Sang Waktu
Dulu kalau aku tak begitu, kini bagaimana aku?
Dulu kalau aku tak di situ, kini di mana aku?
Kini kalau aku begini, kelak bagaimana aku?
Kini kalau aku di sini, kelak di mana aku?
Tak tahu kelak ataupun dulu
Cuma tahu kini aku begini
Cuma tahu kini aku di sini
Dan kini aku melihatmu
-
Summer in Seoul, Ilana Tan
Cuaca Selasa yang cerah, membuat mood saya untuk menulis meningkat tajam. Sesaat melihat tulisan di atas saya tertegun, hari ini sudah memasuki awal bulan Juli, summer time, orang-orang pergi berlibur, teman saya berulang tahun, ada yang gajian, dan kalau saya... menikmati waktu yang telah saya lalui dan membaginya dengan orang terkasih.
Masih pensaran dalam benak saya tentang bagaimana waktu bisa menjadi patokan untuk jalannya kehidupan di bumi ini. Tidak ada satupun makhluk hidup yang mampu hidup tanpa waktu. Lalu, sebetulnya bagaimana waktu itu terbentuk? Terlalu banyak pertanyaan dalam hati yang tidak bisa terungkap dan akhirnya tersimpan rapi. Jika dilihat dari di mana saya berdiri sekarang, peran waktu menjadi seperti cahaya yang menuntun setiap langkah saya. Seperti melihat hamparan padang rumput yang luas, saya melihat begitu banyak hal yang telah saya lalui dari setiap titik titik kehidupan. Dan di sinilah saya berdiri sekarang.
Saya percaya setiap momentum dalam hidup ini tidak ada yang sia-sia. Semuanya saling berkaitan seperti sulaman benang, satu persatu terjalin sebuah pola yang jika dirajut dengan sabar dan tenang, akan menghasilkan sesuatu yang berarti. Kembali lagi, Sang Waktu menunjukkan perannya.
Waktu yang berlalu begitu cepat tanpa kita semua mampu untuk menyadarinya. Sungguh menakjubkan. Saya bisa saja menjadikan waktu sebagai sahabat sekaligus senjata bagi saya untuk berjalan ke depan. Bekal saya adalah kepergian Sang Waktu, yaitu pengalaman. Apa yang saya rasakan di masa lalu, akan menjadi dasar pijakan untuk saya kembali melangkah di masa depan. Keputusan-keputusan yang saya ambil dalam hidup inilah yang akan dibawa pergi oleh Sang Waktu dan membawa saya ke masa di mana saya bisa melihat hamparan padang rumput yang luas; sebuah perjalanan.
Saya sangat menghargai waktu dan tidak pernah ingin bermusuhan dengannya. Saya ingin bersahabat dengan alam semesta dan seluruh isinya. Saya berusaha untuk berlaku baik, menjadi diri sendiri, apa adanya dan tidak berpura-pura, berekspresi, independen, dan tidak berusaha untuk menyangkut-pautkan diri pada hal yang tidak berkaitan dengan diri saya. Saya memiliki kehidupan, orang terkasih, keluarga, serta sahabat yang di mana perjalanan kami akan terus dibawa pergi oleh Sang Waktu, saya ikhlas. Karena Sang Waktu teramat baik hati pada saya, memberikan kesempatan untuk saya menikmati moment hidup, hari ini.
Semoga dapat menginspirasi untuk lebih mensyukuri hari ini.
-PYM
Subscribe to:
Comments (Atom)










