Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk hidup yang memiliki tingkatan paling tinggi atau paling sempurna diantara yang lain. Mengapa? Seperti yang kita ketahui bahwa manusia memiliki otak untuk berpikir, mulut untuk berbicara dan hati untuk merasakan. Dibanding makhluk hidup yang lain, manusia tentu saja memiliki tanggung jawab untuk melindungi, memelihara dan memberikan kontribusinya untuk kelangsungan ekosistem. Makhluk hidup seperti binatang dan tumbuhan, hidupnya bergantung dari manusia. Mereka semua tidak bisa bertahan hidup tanpa campur tangan manusia. Walaupun mereka tidak bisa secara langsung mengucapkan terimakasih pada kita, tapi...pernahkah kalian membayangkan betapa bahagianya mereka jika kita peduli?
Menurut ilmu psikologi, pola pikir manusia cenderung dapat dibagi menjadi dua; Logika dan Empati. Selama berapa lama, saya melakukan pengamatan terhadap beberapa orang tentang bagaimana dan apa yang menjadi dasar pemikiran mereka terhadap sesuatu dan pengaruhnya terhadap kehidupan mereka sehari-hari. Berpikir dengan logika dan perhitungan itu prosesnya dilakukan di otak kanan, sedangkan art things, and the emphay it is posisinya berada di otak kiri. Dari sini saja otak kita sudah mulai memberi ruang tersendiri terhadap dua hal tersebut. Tidak ada satupun manusia di dunia ini bisa berpikir hanya menggunakan satu metode, logika, ataupun emphaty. Kedua hal ini saling tumpang tindih dan seperti mesin pencetak, secara berselang-seling melabeli setiap kejadian apakah harus ditanggapi dengan logika atau empati.
Bahkan, seorang Adolf Hitler yang terkenal kejam saat jaman WWII dan terkenal dengan logika-logikanya yang jenius, memiliki sisi seni tersembunyi dengan hobinya yaitu melukis. Bayangkan, seorang Hitler melukis? Beberapa orang yang membaca tulisan ini mungkin berpikir ini mustahil, tapi kenyataan yang ada justru berkata sebaliknya.
Secara tiak disadari, kita sebagai manusia sesungguhnya kadang melupaka untuk berempati terhadap lingkungan sekitar. Keegoisan kita sebagai manusia telah membutakan mata bahwa manusia, khususnya individu, tidak akan pernah bisa hidup seorang diri. Bahkan orang se-kaya Paris Hilton pun masih membutuhkan orang lain dalam kesehariannya. Rasa empati yang tinggi mencerminkan diri kita yang mudah menerima berbagai macam perbedaan, sehingga langkah kita akan menjadi ringan kemanapun kita pergi. Latihlah berpikir melalui empati, dan mulailah menyayangi. Apapun yang ada di sekitar kalian. Karena dengan menyayangi, itu artinya kita telah menjalankan kewajiban sebagai manusia makhluk paling 'sempurna' yang diciptakan Tuhan.
Jadi, berusahalah yang terbaik untuk menjalankan hidup dan cerdas lah dalam berpikir agar semakin meningkatnya simbiosis mutualisme antara manusia dan alam semesta.
-PYM
No comments:
Post a Comment