Indonesia memperingati tanggal 21 April setiap tahunnya sebagai hari kebangkitan emansipasi wanita yang diprakarsai oleh R.A. Kartini (anak bupati Jepara 1902). Beliau yang pada masa itu sebagai keturunan cendekiawan, berjuang keras untuk menyuarakan hak-hak perempuan di mana para perempuan memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki untuk mengeyam pendidikan dan out of the zone. Satu abad berlalu, kini kita berada di era di mana perempuan dan laki-laki tidak memiliki batasan sama sekali. Di Indonesia sendiri, begitu banyak perempuan yang terekspos menjadi public figures yang kinerjanya tidak kalah dengan laki-laki. Memang pantas kita menghargai perjuangan Kartini saat itu, hingga kita bisa mencapai seperti sekarang.
Sebagai seorang pemimpin, banyak orang masih meragukan jika perempuan mampu melakukannya. Mengapa di setiap perusahaan, kepala negara, instansi, dan sebagainya, yang menduduki posisi teratas selalu laki-laki, ya, walaupun tidak semua, tetapi sebagian besar. Jika dilihat dari berbagai sisi, pria memang terlahir kodratnya sebagai pemimpin sejak lahir. Karena bagaimanapun, pria memiliki tanggung jawab lebih besar dari wanita dalam hal fisik maupun mental. Pria juga dituntut harus bersikap cekatan, cerdas, dan anti cengeng, serta memiliki optimism* yang tinggi sehingga bisa memimpin bawahannya dengan bahagia. Mengapa jabatan pemimpin harus ditujukkan kepada pria? Ini disebabkan karena pria, sudah terbukti memiliki insting pertahanan yang lebih kuat dari wanita. Dengan insting alami inilah, diharapkan nantinya, jika suatu saat mengalami krisis, sang pemimpin tidak mudah goyah dan terombang-ambing dalam mengambil keputusan terlebih-lebih mudah terpengaruh oleh hal-hal yang sensitif sehingga kesempatan untuk melakukan kesalahan bisa diperkecil. Selain itu juga, pria terkenal memiliki ego yang tinggi. Mereka tidak mudah menyerah dan selalu berusaha untuk menuntaskan sampai akhir. Rasa percaya diri pria tidak mudah dijatuhkan oleh apapun, mereka (pria) akan tetap berdiri pada prinsipnya dalam menjalankan sebuah keputusan. Segala hal harus dipikirkan dengan logic, dan mereka cenderung perfeksionis dan tidak mau adanya kesalahan dalam setiap langkah karirnya. Hal seperti inilah kenapa pria banyak mendapatkan kepercayaan untuk menjadi seorang pemimpin.
Lalu, bagaimana dengan pemimpin wanita?
Tidak sedikit pemimpin yang berasal dari kaum wanita di dunia ini. Saya tidak perlu menyebutkan satu persatu, karena saking banyaknya dan mereka semua, bisa dipastikan, memiliki peran penting dalam peradaban. Wanita memiliki sifat yang cenderung sensitif namun sangat peka terhadap lingkungan. Inilah yang menjadi nilai lebih jika wanita bisa menempati posisi pemimpin. Mereka dengan sensitifitasnya yang tinggi, mampu membawa krisis yang sedang dihadapi dengan metode-metode yang cenderung slow tapi paten, dan mereka berani untuk mengambil keputusan-keputusan yang tidak mainstream dan cenderung mustahil, karena wanita terbiasa dihadapi pada berbagai macam pilihan yang absurd, dan melihat peluang dari pilihan tersebut, dan dengan instingnya mampu memilih mana yang tepat. Para pemimpin wanita justru lebih berani dari pria, coba lihat ibu kalian, bukankah mereka lebih 'galak' dari ayah? Sifat wanita yang model seperti ini, membantu besar mereka untuk sukses menjadi pemimpin. Seperti buku biografi dari Sir Alex Ferguson, ia mengatakan, "Cathy (istrinya) adalah kepala keluarga di rumah. Ia mengatur segala sesuatu dalam rumah tangga, mengurus rumah, mendidik anak-anak, tetapi ia tetap meninggikan saya sebagai suami dan kepala keluarga yang utama." Dan banyak saya jumpai kenyataan seperti itu. Jadi, wanita sudah terbiasa untuk 'mengatur' dan mereka memang berkompeten untuk itu. Para wanita juga memiliki sifat penyayang yang luar biasa, mereka bisa langsung bercucuran air mata melihat hal-hal yang sensitif dan mudah iba kepada orang lain. Pemimpin yang menanamkan rasa kasih sayang dalam dirinya, menurunkan logika dan meninggikan empathy, tentu akan dicintai oleh bawahannya.
Ada istilah yang mengatakan bahwa pria berasal dari planet Mars, dan wanita berasal dari planet Venus. Saya menganalisis makna dari istilah tersebut dan menemukan sebuah filosofi yang sangat menarik. Planet Mars dengan warnanya yang merah menyala mencerminkan sifat berani dan tegas. Tidak takut, konsisten, dan percaya diri. Jika kita lihat planet Mars dari teleskop, akan terlihat tekstur permukaannya yang kasar dan berlubang, namun justru menampilkan aura kokoh dan strong. Begitulah laki-laki. Beralih ke planet Venus, warnanya yang putih selalu tampak transparan di langit. Seperti wanita, mereka dicerminkan sebagai sosok yang bersifat lembut, penyayang, tidak terlihat namun selalu 'ada'. Menimbulkan rasa nyaman, dan menjadi daya tarik memikat hanya dengan tampilannya yang sederhana dan feminin. Bukan berarti lemah, justru terdapat the sense of powers di balik lemah lembutnya sifat wanita.
Kesimpulan dari analogi planet tersebut adalah, pria maupun wanita memiliki masing-masing sifat yang berbeda namun berkarakter kuat. Mereka bisa mengimbangi langkah walaupun dalam jalur yang sama sekali berbeda. Pria dan wanita tentu selamanya tidak akan bisa disamakan, namun, bukan berarti mereka juga tidak bisa disatukan. Sebagai seorang pemimpin, pria dan wanita memiliki capability yang sama-sama kuat dan tegas, meski dengan metode yang jauh berbeda dan bertoalk belakang, namun kelebihan yang mereka miliki dalam karakternya itulah yang justru menjadi the invisible weapons of the war sebagai kekuatan terbesar mereka sebagai seorang pemimpin.
Berikut adalah empat tokoh wanita dunia yang menjadi inspirasi saya untuk menjadi seseorang yang mampu 'menggerakkan' suatu saat nanti. Selamat hari Kartini, Indonesia!
-perempuan Bali
PYM




No comments:
Post a Comment