September 27, 2013

I Found You

- sambungan

III.

Pukul 5 sore Melda baru tiba di rumah. SMA 88 sebenarnya sudah membubarkan muridnya pada pukul 2 siang, namun Melda tidak akan langsung pulang begitu saja, karena ia harus mengajar privat Bahasa Inggris bagi anak-anak sekolah dasar. Walaupun orangtua Melda kaya raya karena ayahnya yang seorang CEO dari pusat perbelanjaan terkenal di Indonesia, tetapi ia menyadari bahwa ia harus bisa berdiri diatas kakinya sendiri. Melda tidak mau dianggap cewek manja yang bisanya hanya foya-foya shopping dari satu mal ke
mal lain. Baginya itu tidak penting. Ia mencintai anak-anak, sehingga merasa bahagia saat mengajar mereka dan merasa memiliki tanggungjawab untuk mencerdaskan anak-anak bangsa. Dalem banget, ya? Begitulah Imelda Hosea sang superior. Dengan langkah perlahan ia menyeret kakinya memasuki dapur dan mengambil gelas untuk diisi air dingin. Setelah membasahi tenggorokannya yang kering ia naik ke lantai atas dan berjalan menuju kamarnya. Ketika membuka pintu, ia kaget melihat adiknya, Rachel berdiri di balkon sambil menghadap jendela rumah sebelah yang terbuka lebar. Sedetik Melda diam tanpa berkata-kata karena berpikir mungkin adiknya sedang mengalami halusinasi karena sedang berbicara membelakanginya. Dari tempat Melda berdiri ia tidak bisa melihat keseluruhan ada apa di jendela rumah sebelah yang terbuka, tapi ia dapat melihat gorden putih yang melambai-lambai tertiup angin. Sudah berapa lama Rachel mengidap halusinasi seperti ini? Samar-samar ia mendengar suara seseorang dari seberang yang dijawab Rachel dengan keras "Oke! Aku tunggu di bawah ya!" Melda tidak membuang kesempatan, ia melesat membuka pintu geser menuju balkon yang terletak berhadapan dengan pintu masuk. Sebelum langkahnya sampai, Rachel sudah berbalik membuka pintu geser tersebut dan masuk.
"Eh? Kak Mel kenapa lari-lari?" dengan polos Rachel menutup pintu dibelakangnya dan berjalan ke arah pintu masuk.
"What did you do outside there?"
"Huh? None of your own bussiness." jawab Rachel cuek.
"Lo gak gila, kan Ra? Gue barusan bersumpah ngeliat lo ngomong sendiri di sana." Melda mendesak adiknya dan tidak membiarkannya keluar kamar begitu saja.
"What? Lo tuh emang freak ya. Gue masih normal dan satu hal, gue gak ngomong sendiri." dengan kesal Rachel menerobos keluar dari kamar kakaknya. Hubungan kakak adik satu ini memang terkadang dipenuhi oleh adu mulut karena masing-masing memiliki karakter yang kuat, namun mereka dalam hati saling menyayangi, kok. Hehehe.. Melda kembali melangkah ke arah balkon, menggeser pintu sehingga memungkinkan kepalanya melongok keluar dan melihat memang jendela besar di rumah sebelah yang hanya berjarak kurang dari 5 meter dari balkon kamarnya terbuka lebar, namun tidak ada seorangpun tampak di sana. Ia semakin curiga adiknya punya kelainan. Ia yakin itu.
***
Ruang makan kediaman Hosea malam itu terlihat sedikit berbeda. Bunda duduk di sebelah kanan, Rachel duduk di sebelah kiri, yang disusul Melda duduk disebelahnya dengan Ayah mereka duduk manis di ujung meja persegi panjang mewah. Menu makan malam kali ini agak banyak dan mbak Nim memasak semur tahu pedas manis kesukaan Melda. Saat Melda hendak menyendok saladnya (Melda seorang vegetarian) Bunda memperingatkan.
"Kita belum mulai makan, nak. Tunggu tamu kita datang dulu." 
Melda hanya melongo menatap Bundanya, tamu? tamu apa? pikirnya.
"Emang bakal ada tamu, Bun, Yah?" tanyanya bergantian sambil memandang satu persatu anggota keluarganya. Rachel hanya mengangkat bahu. Sekitar 2 menit kemudian -fyi, Melda menghitung di otaknya- tamu yang entah-siapa-dia ini sepertinya sudah datang karena terdengar bunyi bel berdenting nyaring. Bunda segera bangkit dan Rachel tampak merapikan rambutnya yang sudah seperti iklan sampo dan menarik-narik casual dress yang memamerkan bahunya yang indah.. Melda hanya mencibir dan melihat busana yang adiknya kenakan dan menghela nafas dengan miliknya sendiri. Rambut sehabis keramas yang tidak disisir, kaos putih longgar menampilkan Einstein di depannya, dan celana jeans pendek agar leluasa di malam hari. Ia merasa tidak perlu berpura-pura terhadap penampilan, toh ia merasa percaya diri karena tidak punya penyakit kulit atau jerawat menjijikkan di wajahnya. Sambil menunduk ia membayangkan bagaimana jika wajah mulus adiknya yang seorang model mendadak ditumbuhi jerawat, maka hancur sudah karir dan reputasi Rache yang bercita-cita go internasional. Ia pasti tidak akan mau keluar rumah seumur hidupnya, melupakan impiannya dan segera berkemas untuk pindah ke pulau terpencil dan hidup bersama kawanan babi hutan. Hahaha... lucu banget. Saking lucunya ia sampai senyum-senyum sendiri, dan tiba-tiba merasa sakit dibagian siku kanannya karena telah dicubit oleh Rachel.
"Apaan sih?!"
Tatapan mata Rachel mengisyaratkan Melda untuk menghadap depan. Maka, Melda memutar 90 derajat kepalanya dan mendongak kepada tamu yang berdiri menjulang di depannya. Tebak siapa? Si COWOK TADI PAGI! Ia yang membuat Melda seharian tidak konsentrasi di kelas dan sekarang cowok ini muncul di hadapannya mengenakan kaos v-neck berwarna biru tua dan dengan aroma citrus dan dengan mata cemerlang dan dan dan membuat Melda hampir meleleh di kursinya. Jika Bunda tidak berdeham mungkin ia akan berlama-lama memandang wajah cowok yang segera mengambil posisi duduk di hadapannya ini. Saking cengo'nya, Melda hanya menggaruk-garuk tengkuk dan tidak berani menatap ke arah cowok yang duduk santai menumpukkan sikunya pada meja. Sambil mulai makan Ayahnya mulai bertanya-tanya tentang cowok ini. Nanti aku ceritakan ya, kita abadikan dulu momen makan bersama ini. Melda selain vegetarian juga bukan pemakan nasi. Entah kenapa, ia lebih memilih mengisi asupan karbohidrat tubuhnya dengan kentang atau jagung. Sejak kecil Melda sudah punya kebiasaan seperti ini. Ia selalu menolak saat Bunda menyuapinya dengan nasi. Perlahan-lahan ia mengunyah makanan di hadapannya sambil berusaha keras untuk  tidak memandang manusia yang duduk di depannya dengan santai makan sambil sesekali menjawab pertanyaan Ayah dan Bundanya. Karena tidak tahan lama-lama menunduk, ia akhirnya menyerah dan mendongak melihat ke arah cowok itu saat semua terdiam dan sibuk dengan makanan masing-masing. 1...2..3... Hmmph! Melda ke-gap memandang cowok ini yang baru ia sadari bernama Raffael ini. Ia merasakan pipinya menghangat namun tidak sanggup mengalihkan pandangan karena pada detik yang sama Raffael juga sedang menatapnya sambil tersenyum jail sambil menaik-turunkan alisnya. Melda mengernyit sedikit kemudian menjulurkan lidah pada Raffael. Kembali ia merasakan pipinya menghangat karena tersadar apa yang ia lakukan barusan terkesan sangat kekanak-kanakan. Melet? Helooo ia bukan anak SD. Namun, seperti disambar petir di siang bolong, sekelebat bayangan tentang kejadian tadi pagi membuatnya menahan nafas. Jangan-jangan Raffael tadi menggodanya karena akan mengadukan ke orangtuanya tentang kecerobohannya berkendara. My Goodness! Please don't tell my parents, please.... Sekarang dengan berani ia menatap lagi wajah Raffael, cowok ini masih memandangnya namun kali ini hanya senyuman kecil.
***
Satu jam kemudian makan malam keluarga Hosea plus Raffael Wijaya telah selesai. Rachel meminta ijin kepada kedua orangtuanya untuk ke kamar karena akan melanjutkan tugas, Raffael berpamitan kepada kedua orangtua Melda dan orangtuanya meminta Melda untuk mengantarkan Raffael sampai ke depan. Dengan enggan ia menuruti perintah orangtuanya. Sambil berjalan mendahului Raffael ia keluar dari ruang makan dan melangkah menuju pintu depan. Saat sudah diluar pintu, tiba-tiba ia menghentikan langkah dan berbalik. Sial. Sekarang Raffael hanya berjarak 30 senti di depannya. Ia mendongak dan memandang lekat-lekat mata Raffael, tidak peduli dengan rasa malu yang menderanya, ia membuka mulut dan mengucapkan,
"Uhm.. soal tadi pagi.. uhm.. gue minta maaf. Tapi pleaseee, jangan ngadu ke bonyok tentang tadi pagi ya?" Ia menangkupkan tangan di dada seraya memelas. Raffael tertawa kecil sambil membalas tatapan Melda dengan dalam tapi sambil nyengir, "Gak janji, deh. Kalo gue gak ngerem, dikit lagi udah kena, tuh."
Melda menjatuhkan kedua tangannya dan menekuk kedua alisnya seraya memajukan bibir tanda protes, "Kok lo gitu, sih? Gue kan udah minta maaf."
"Hahaha... ternyata bener kata Rachel."
"Maksud lo?"
"Rachel bilang kalo lo lagi marah muka lo jadi aneh. Tapi gue suka, kok. Balik ya, gak perlu diantar, rumah kita sebelahan ini. Have a sweet dream, Mel." akhirnya Raffael pamit dan melangkah keluar dari gerbang rumah Melda. Kedua kaki Melda lemas, bukan, bukan karena makan malamnya kurang atau apa, tapi dari kata-kata Raffael yang mengucapkan "...tapi gue suka, kok." dan "Have a sweet dream, Mel." yang membuat lututnya lemas karena baru kali ini ada cowok yang berkata seperti itu padanya. So romantic!

bersambung -

No comments:

Post a Comment