September 05, 2013

1Q84 by Haruki Murakami - はるき むらかみ。


Haruki Murakami
1Q84

Hi, everybody! Sudahkah kalian membaca novel diatas? Kalau sudah, tulisan saya ini bisa dikomentari dan jika belum, ayo kita share this together. Karya kedua dari Haruki Murakami ini telah berhasil menghipnotis saya dengan tema yang unik, cerdas, berliku, namun sangat rasional. 



Alur demi alur penulis profesional ini mengantarkan kita untuk memahami jalan cerita tanpa saling mendahului atau tumpang tindih. Kepiawaian Haruki Murakami dalam merangkai sebuah kisah yang isinya dalam, namun dibumbui dengan cantik ini membuat saya menjadikan buku ini sebagai top three novel favorit saya. Ditambah dengan latar beberapa judul musik klasik yang muncul menambah cita rasa seni dan dramatis dari buku ini. Di halaman-halaman awal buku ini anda akan dituntun oleh Murakami untuk berkenalan dengan dua sosok adam dan hawa bernama Tengo dan Aomame. Mula-mula diceritakan kehidupan Tengo dan Aomame yang masing-masing memiliki latar belakang yang kelam dan secara tidak mereka ketahui dihubungkan pada dunia yang 'berbeda'. Saat saya menuliskan kalimat ini, saya mengingat bagian-bagian dari buku seri pertama peraih New York Best Seller yang menurut logika saya susah dicerna. Misalnya, sebuah kepompong udara yang terbuat dari jalinan benang udara dan menyelimuti tubuh seorang Fukada Eriko namun tubuh tersebut adalah fana. Dan gadis itu dibantu oleh Orang Kecil yang pasti akan membuat anda penasaran setengah mati dengan sosokya. Atau pekerjaan Aomame sebagai pembunuh hanya dengan mengetukkan sebuah jarum akupuntur ke tengkuk targetnya. Atau kehidupan seksual Tengo juga menjadi daya tarik tersendiri dalam novel ini. Bagaimana bisa? Itu pasti pertanyaan yang muncul dalam benak anda yang sudah pernah membaca buku total setebal 968 halaman ini. Haha.. mungkin anda akan kaget, namun Gramedia dengan apik dan cerdas menyiasati buku ini untuk dicetak dalam dua seri. Jadi anda tidak harus merasakan tangan anda pegal karena memegang buku yang hampir setebal kamus Oxford tersebut. Back to the topic...... saat anda memulai membaca seri kedua, mata anda tidak akan bisa lepas dari halaman per halaman, menanti-nantikan, nasib seperti apa yang akan mempertemukan Tengo dan Aomame. Bagaimana Fukada Eriko seorang gadis, penulis dari Kepompong Udara yang menderita disleksia dapat memiliki indera yang jauh melampaui remaja sebayanya. Saya adalah tipikal pembaca yang sangat menyukai bahkan cenderung terobsesi terhadap sebuah kisah fiksi yang berakhir bahagia. Tentu saja saya tidak akan membocorkan bagaimana akhir penantian dari Tengo dan Aomame yang saling mencintai ini dan seperti apa dunia dengan dua rembulan di tahun 1984 ini yang menyebabkan berbagai peristiwa penting tak terlupakan dalam kehidupan mereka. Selamat membaca..... :)

No comments:

Post a Comment