September 26, 2013

I Found You

- sambungan

II.

Pikiran Melda tidak terpusat pada pelajaran Kimia yang sedang dijelaskan Bu Nuri di depan kelas. Ia hanya lurus menatap papan tulis dan mencoret-coret seolah-olah sedang serius mencatat. Everybody seems doing this habit in class , right? Bukannya sok pintar atau apa, tetapi ia sudah hafal diluar kepala dengan materi
ini, mungkin beberapa orang menyayangkan kenapa Melda tidak mengikuti program akselerasi seperti anak-anak jenius lainnya. Bukannya tidak pernah ditawari, ia malah pernah secara pribadi diminta untuk masuk kelas akselerasi pada kelas 4 sd karena kemampuan Melda yang sudah bisa menjelaskan Integral didepan kelas! Alasan Melda satu-satunya untuk tidak mengikuti kelas percepatan adalah bahwa ia tidak ingin melewatkan masa remajanya yang penuh warna dengan terburu-buru, dan menurut prinsipnya, dengan IQ diatas 155 ia ingin melanjutkan studinya di Amerika. Dan jika ia mengikuti kelas percepatan, secara otomatis ia tidak akan bisa mendapatkan apartemen sendiri di Amerika karena usianya yang masih dibawah 17 tahun. See?
"Psst.. Mel, lo diliatin Bu Nuri, tuh!" Bisik Jenny padanya. Jenny adalah teman sebangkunya yang berbeda 180 derajat dengan Melda. Jeny tipikal fashionist dan sosialita dimana pergaulan adalah hal utama baginya. Rambut panjangnya yang berwarna burgundy tampak mencolok diantara yang lain, dan tentu saja selalu matching dari ujung kepala hingga kaki. Jenny sudah bersahabat dengan Melda sejak mereka sekolah dasar hingga sekarang. Terkadang kemungkinan itu selalu terjadi, kan? Tumben kali ini Jenny serius memperhatikan Bu Nuri bercuap-cuap tentang rumus molekul karena ia suda hampir lelah mengikuti remedial di setiap materi yang diajarkan Bu Nuri. Melda sepertinya tidak mendengar bisikan Jenny karena ia masih bergeming, dengan pikirannya yang masih berputar pada kejadian tadi pagi di depan rumahnya. Siapakah cowok itu? Untuk pertama kali dalam hidupnya ia merasa begitu peduli terhadap lawan jenis selain ayahnya. Berhubung letak rumah Melda di ujung kompleks dan buntu, agak aneh jika ada mobil berlalu lalang di depan rumahnya. Sebenarnya ada satu rumah sebelah rumah keluarga Melda yang posisinya memang paling akhir, namun, rumah itu setahu Melda sudah sangat lama tidak ditempati, hmm...biar kuhitung, kurang lebih 10 tahun. Dulu Melda sering main ke rumah itu karena ada anak seumurannya yang sering mengajaknya bermain, namun itu sudah berlalu lama sekali. Tentu seiring berjalannya waktu, kenangan demi kenangan akan tergantikan. Tapi Melda akan selalu mengingat nama teman masa kecilnya, Andra. Apakah cowok tadi pagi itu Andra? Kecil kemungkinannya, karena Andra juga seumuran Melda, ia harusnya masih sekolah bukannya pulang pagi seperti itu. Lagipula usia cowok tadi tampak lebih tua dari Andra dan gestur wajahnya sama sekali berbeda dengan milik Andra. Teman kecilnya ini juga pindah tanpa memberitahunya, apa mungkin ia masih mengingat wajah Melda? Sepertinya cowok tadi merasa biasa-biasa saja melihat Melda. Jadi, siapa cowok ini? Arrgggh... ia penasaran tingkat akut. Berbagai analisisnya muncul silih berganti dalam otaknya, sehingga pada satu kesimpulan bahwa cowok tadi pagi adalah pembeli rumah tua sebelah rumahnya. Ya, pasti itu.

***
"Pssttt... helooo, Imelda, lo bengong, helo heloo???" Jenny melambaikan tangan didepan wajah Melda, barulah lamunan Melda tentang cowok tadi pagi buyar seketika.
"Apaan sih?" Ia menoleh kesal pada Jenny yang mengganggu proses berpikirnya.
"Lo diliatin terus sama Bu Nuri, tau!" sambil terus menatap papan tulis Jenny berbicara pada Melda karena tidak ingin ketahuan Bu Nuri sedang mengobrol saat jam pelajaran.
"Terus? Lo yang bikin gue diliatin sama dia, Jen." 
"Melda, dan kamu, sebelahnya, apa yang sedang kalian diskusikan saat pelajaran saya? Kalian sudah mengerti? Salah satu dari kalian berikan kehormatan untuk maju dan bergantian menjelaskan materi ini dengan saya." Bu Nuri mengultimatum Melda dan Jenny yang hanya bengong menatap ke depan kelas. Jenny gemetar di bangkunya, karena tidak mengerti apapun yang dijelaskan di muka kelas, namun, dengan percaya diri, Melda mengancungkan tangan dan berdiri, karena ia tahu di situasi seperti ini, hanyalah dirinya yang menjadi satu-satunya tumpuan harapan demi terbebas dari hukuman yang lebih berat.
 "Saya saja bu, saya akan menjelaskan cara singkat menggunakan rumus molekul." Dengan langkah tegap ia berjalan ke papan tulis, mengambil spidol yang diserahkan Bu Nuri padanya dan memulai tutorial singkatnya yang sama sekali berbeda dengan apa yang diajarkan Bu Nuri tadi. Selama 15 menit melalui bahasa sederhana dengan guyonan ia mengajarkan teman-teman sekelasnya yang tampak manggut-manggut dan berkonsentrasi menatap papan tulis di belakang Melda. Sebagai finishing, untuk memberikan hadiah kepada Bu Nuri, Melda memerintahkan teman-temannya untuk mengerjakan 1 soal dalam 5 menit yang ia buat sendiri sebagai evaluasi dari apa yang telah ia ajarkan pada teman-temannya. Setelah waktu habis, ia mengumpulkan satu persatu kertas teman-temannya dibantu oleh Jenny dan menyerahkan di depan Bu Nuri.
"Ini, bu. Bonus untuk kelelahan Ibu mengajar hari ini. Ibu tinggal memeriksanya saja nanti, maaf kalau kami mengganggu pelajaran Ibu." Bu Nuri hanya menatap Melda dengan sumringah, lalu mengancungkan jempol kanannya dan segera berkemas karena jam pulang sudah berbunyi. Melda tersenyum balik dan berjalan ke bangkunya sambil memberikan tatapan ke Jenny 'ini semua gara-gara lo'. Namun, Jenny hanya nyengir sambil membereskan buku-bukunya dan membalas "You are my heroine, Mel." Melda hanya  memutar bola matanya dan membalas cengiran Jenny dengan "whatever..."

bersambung -

No comments:

Post a Comment