Ada sebuah kutipan berbunyi, "Nothing in this world is absolute" // Tidak ada yang abadi di dunia ini. Kubaca berulang kali hingga rimanya hampir terasa biasa, sebiasa aku mengucapkan kata 'makan', atau 'tidurlah hari sudah larut', dengan konteks makna yang juga biasa. Kalimat itu terus berputar di kepalaku, seperti usus halus yang sedang mencerna makanan, bagian otakku yang mencerna informasi sepertinya menguliti kata demi kata dari kalimat yang kusebutkan tadi. Akhir-akhir ini aku banyak terinspirasi, sehingga tercapai gagasanku untuk menulis apa yang membuatku berpikir pada kutipan di atas.
Manusia tumbuh dan berkembang melalui proses evolusi yang sangat panjang, dan dalam proses itu terdapat rangkaian cerita baik secara tersurat maupun tersirat. Di jaman seperti sekarang, proses tumbuh kembang manusia bisa dengan mudah diabadikan dalam bentuk digital, semudah membalikkan telapak tangan, maka kau berada disana. Kesenjangan sosial banyak terjadi, dan sosial media adalah salah satu 'rumah' untuk menjadikan sosialisasi itu ada dan nyata di jaman sekarang. Ketika seorang teman bercerita padaku tentang masalah yang mereka hadapi, aku bisa merasakan kekacauan dan kekalutan di dalam setiap kata mereka, takut, cemas, merasa ragu untuk mengambil keputusan, dan sosial media adalah tempat mereka untuk mengalihkan perhatian, mencari hiburan dengan menonton atau melihat orang lain menunjukkan apa yang ingin mereka tampilkan di hadapan pengikutnya di dunia maya. Kebiasaan sederhana dan sepele ini ternyata sangat berarti bagi beberapa orang, atau mungkin banyak orang.
Merasa sedih, takut, kecewa, marah dan cemas adalah respon dari emosi yang ada di dalam diri kita, yang membedakannya apakah itu berbahaya atau tidak adalah bagaimana cara kita menyikapinya. Tentu, ini tidaklah semudah apa yang kutulis saat ini, terutama bagi mereka yang mengidap depresi/delusi akut, tapi aku hanya ingin mengatakan bahwa semua itu hanyalah sementara.
Ya. Sementara. Mungkin berlangsung seumur hidupmu, bisa jadi, tapi percayalah kemungkinan itu sangatlah kecil. Ketika aku kehilangan kedua orangtuaku, emosi pertama yang muncul adalah sedih, aku berusaha menenangkan diriku agar tidak bersedih, tapi anehnya justru ada rasa lain yang muncul, yaitu takut, dengan bagaimana aku akan menjalani hidup esok hari, tapi saat hari itu benar-benar tiba, dan aku mengamati dengan seksama selama 24 jam penuh apakah aku akan hancur, ternyata tidak. Hidupku baik-baik saja, sampai hari ini, semua rasa sedih dan takut sudah tertinggal jauh di belakang, dan itulah yang kumaksud dengan sementara. Begitu pula saat aku berhasil membeli benda yang kuinginkan setelah sekian lama, perasaan bahagia, tidak sabar dan jatuh cinta datang saat itu juga, namun, lama-lama perasaan itu lenyap, dan jadi biasa saja. Dan semua itu bagian dari proses penderitaan yang kita alami dan waktu berlalu meninggalkan semua cerita tersebut.
Perubahan yang terjadi dalam hidup kita, antara senang ataupun sedih, adalah sebuah proses untuk mencapai titik di mana kita akan melepaskan semuanya, butuh satu hari, satu bulan, bahkan sepuluh tahun, semasih kita hidup, penderitaan akan selalu datang lalu pergi sesuka hati. Seperti kata Buddha, "hidup adalah sebuah penderitaan." maka disinilah kita berada, dan untuk itulah kita hidup. Dan yang harus kita lakukan adalah berteman dengan penderitaan itu, merasakannya, lalu pergi meninggalkan untuk menghadapi penderitaan yang baru. Ayah temanku berpesan saat putrinya menikah, "kuharap kau bahagia, ingat, hidup ini hanya sementara, maka jangan terlalu senang dan jangan pula terlalu sedih. biasa-biasa saja." Aku, yang mendengar kalimat itu diucapkan temanku merasa sedikit bergetar, karena untuk mencapai pemikiran untuk tidak merespon berlebihan terhadap sebuah kejadian kupikir hanya dimiliki oleh biksu suci yang menghabiskan hidupnya di kuil, bukan milenial sepertiku, atau ayah temanku si pecinta film barat.
Setiap manusia hidup di dunia ini membawa benang kehidupannya sendiri, tidak pernah sama dengan orang lain, tapi terkadang ada kemiripan tapi tidak berarti apa-apa. Dan untuk membuat kita tetap waras, adalah dengan tidak membandingkan benang kita dengan orang lain, bahkan orang terdekat kita sekalipun, dan terus berjalan dengan keyakinan bahwa ini semua hanyalah sementara... ketika waktu membawa kita menuju dimensi yang berbeda, maka kita akan tersenyum dan tersadar bahwa ujian itu sudah berhasil kita lewati dengan ketulusan dan totalitas.
No comments:
Post a Comment