September 27, 2018

Negativity Makes You Positive

I looked at myself on the mirror and then asked,
"what happen?"

Inside of myself answered,
"you are tired. that's it."

I asked again,
"is that so? tired of what?"

"this life. this routine. everything."

I replied,
"what should I do?"

Myself smiled to me,
"you are only human. it's okay to be sad, to be broken, now take a deep breath, look at the sky and be grateful that you are still alive."

Pernah merasa seperti itu?
Ketika dunia yang kita tinggali ini serasa seperti dunia yang berbeda, ada satu masa di mana pikiran dan kata hati kita berada di dua sisi yang berseberangan. Seperti itukah rasa berperang dengan diri sendiri? Lalu, suara siapakah yang harus kita dengar saat kedua sisi ini bergejolak? 
Kebingungan ini sering terjadi pada diri setiap manusia, apakah itu wajar? Tentu saja. That's make you alive, isn't? Tapi, terkadang ada satu masa kita merasa lelah dan ingin berteriak, berusaha keluar dari cengkraman kuat yang dinamakan suffering. Suffering of what? our MIND. Ya, pikiran kita. Merasa tidak ada yang mengerti dengan kondisi kita, tidak ada tempat untuk berbagi, atau saat masalah datang bertubi-tubi di saat bersamaan, membuat kita berpikir bahwa kita adalah seseorang yang kalah, tidak berdaya, pecundang, menyebabkan otak kita overstimulated, memproduksi hormon kortisol untuk merilis stres, lalu muncullah rasa lelah fisik akibat dari stres itu. Welcome to the club!

Stres bukanlah persoalan sederhana. Rasa lelah fisik mungkin bisa diobati dengan reflexy, massage, spa, dll. Kalau lelah mental? Kita butuh motivasi besar dalam diri sendiri untuk mampu membangkitkan mood kembali positif, dan ini susah susah gampang karena perlu waktu yang cukup lama, apalagi kalau rasa lelah mental yang kita alami cukup akut, bisa dipastikan kita langsung berubah menjadi orang yang berbeda. 
Pikiran yang tidak terkendali bisa jadi berbahaya untuk kelangsungan hidup kita, maka dari itu kita harus mampu mengelola pikiran kita agar tidak sampai salah jalan. Dengan cara bagaimana? Saat kita mulai mengeluh terhadap situasi tertentu, tanyakan kembali diri kita, haruskah kita bersikap seperti ini? apa benefit dari mengeluh terus menerus? dapatkah kita keluar dari masalah ini? kalau memang ini yang harus kita hadapi, maka hadapilah. Masalah tidak akan bertahan selamanya, percayalah. Lihat kembali diri kita sekarang, berpakaian layak, makan dengan layak, bernafas dengan layak, di mana orang di luar sana mungkin mendambakan hidup seperti yang kita rasakan saat ini. 

Tidakkah ini membuat kita merenung kembali bahwa hidup memang kadang begitu menyakitkan, namun jika kita bisa berdamai dengan rasa sakit itu, kita akan temukan hikmah dibaliknya, rasa syukur. Rasa syukur karena diberikan masalah? is that sounds weird? hei, kita ini manusia biasa, kalau ibaratnya masalah adalah api, dan pikiran kita adalah bensinnya, kita punya kendali penuh untuk memutuskan apakah ingin menuangkan bensin atau tidak ke dalam api tersebut, semua kontrol terhadap diri kita ada pada kita sendiri. Jadi, perbanyaklah melihat ke sekitar, dan ucapkan rasa syukur karena kita sebenarnya sudah hidup sangat baik dibandingkan dengan orang di luar sana.

No comments:

Post a Comment