Masih belum terbayang di kepalaku tentang fakta bahwa akhirnya aku(dan adikku) harus sampai di fase kehidupan tanpa orangtua. Terlalu banyak hal yang tidak kupahami dalam hidup ini, terlalu banyak kulit yang harus kami kupas hingga mendaptkan inti yang kami butuhkan. Terlalu banyak beban yang harus kami pikul hingga air mata bahkan tidak sanggup untuk menunjukkan sebesar apa rasa sakit yang kami rasakan.
Aku tidak terlatih untuk bersikap terbuka terhadap orang lain mengenai suka duka yang kualami. Aku hanya ingin merasakannya seorang diri, menikmatinya sendiri, memikirkannya sendiri lalu memecahkannya sendiri. Bisa jadi kalian merasa aku arogan atau egois, merasa diri paling menderita di dunia, tapi entahlah, selama ini aku merasa menjalani kehidupan secara normal. Dan aku masih bertanya-tanya kenapa semua hal ini harus menimpaku.
Selain itu juga rasa apatis muncul secara otomatis karena merasa terperdaya, dan tidak mudah untuk memercayai seorangpun di dunia ini. Karena kami sudah mengalami sakit hati yang begitu banyak, dan kami tidak ingin merasakan sakit hati yang berat untuk kesekian kalinya, maka kami simpan rasa kepercayaan itu dalam-dalam sampai kami mengetahui seberapa tulus sikap orang lain terhadap kami. Faktanya, memang tidak ada satupun orang yang bisa menerima kami dengan tulus seperti orangtua kami sendiri, semua orang pasti punya berbagai tujuan tertentu maka dari itu mereka bersikap baik kepada kami, artinya tidak benar-benar tulus dari hati memberikan sesuatu kepada kami. Dan kami sangat mengerti akan hal itu. Tidak ada satupun orang yang rela bertaruh nyawa seperti kedua orangtua kami lakukan untuk menyelamatkan kehidupan kami. Entah apakah ini sudah termasuk dalam skenario mereka bersama Tuhan, tapi aku yakin, semua akan terjawab pada waktunya.
Sambil menunggu waktu untuk mendapatkan jawaban, apa yang seharusnya kami lakukan? Bagaimana cara kami menjalani kehidupan? Tidak ada guru dalam hidup kami. Aku berdoa setulus-tulusnya agar tidak ada anak lain yang mendapatkan pengalaman sepertiku. Karena percayalah, orangtua itu bagaikan payung besar yang melindungi kita anaknya dari panas, hujan, badai, dan bahkan lumpur dan kotoran, jika payung kita rusak atau berlubang, tentu kita akan merasakan sakitnya panas matahari di kulit, dinginnya air hujan dan sebagainya. Jangan tanya lagi rasanya, tentu saja menyakitkan.
Sebagai anak, aku(kami) juga belum bisa memberikan sesuatu yang berarti untuk orangtua. Tapi.... keadaan tidak memberikan kami kesempatan sedikitpun, atau mungkin ada, tetapi kami tidak bisa membaca clue-nya dengan jelas.
Hari demi hari kuhabiskan dengan merenung dan menyelami rasa perih yang terlanjur sudah parah dalam hatiku. Sungguh, aku sangat merindukan berkumpul bersama keluargaku, kebersamaan kami dalam kesederhanaan, dan rasa aman dan damai dalam dekapan hangat kedua orangtua kami.
Seperti mimpi rasanya... dalam sekejap mata Tuhan mengambil seluruh harta berharga yang kami punya, tanpa meminta ijin kami terlebih dahulu. Atau meminta persetujuan kami. Tapi setelah kuingat lagi, siapakah kita? Kita hanyalah boneka di dunia ini. Wahai teman-teman, sadarlah. Kita tidak punya kuasa sedikitpun di dunia ini, hanya Tuhan yang memilikinya. Marah bisa jadi, tapi aku bahkan tak kuasa untuk berbuat apa-apa. Melihat orang lain berkumpul dengan keluarga mereka, terkadang aku risih, jika aku ikut apa mereka akan menerimaku? Aku tidak ingin mengganggu kebersamaan mereka. Dan itu membuat hatiku sakit, ke mana perginya kenangan kami yang dulu? Kenapa semua ini harus terjadi pada kami? Banyak pertanyaan yang masih menggantung dalam benakku tanpa tahu harus ke mana mencari jawaban atau setidaknya petunjuk untuk membuka semua misteri ini.
Hidup kami seperti dalam labirin. Saat ini kami berada di tengah-tengah pusaran badai kekacauan dan kebingungan, dan kami berusaha mencari jalan keluar untuk itu. Di sekeliling kami gelap, hitam, suram, sunyi, dan hanya kami berdua yang tersisa terlihat sedang menggapai-gapai jalan keluar yang sebenarnya. Tapi mungkin, hanya mungkin, kedua orangtua kami sedang mengulurkan seluruh tangan yang mereka punya untuk menuntun kami menuju pintu keluar itu, menuju jalan yang lebih baik dan membiarkan kami menjadi dewasa dengan jalan kami sendiri.
Ada beberapa instrumen klasik yang beberapa minggu ini-bahkan detik ini- sedang kuperdengarkan. Aku ingin merefleksikan rasa pedih yang kurasakan, sekaligus menjadi obat bagiku agar bisa kemabli berdiri tegak menghadapi arus kehidupan yang rumit ini.
Kalian juga boleh heran mengapa aku tidak menangis, kenapa aku tampak tidak bersedih, bahkan tidak seperti orang lain yang berduka lara sepanjang masa karena kehilangan orangtua. Jika kalian mengalami peristiwa sepertiku saat usia kalian sangat muda, kalian akan mengerti bahwa air mata bukanlah satu-satunya cara untuk menunjukkan pada dunia tentang kesedihan kita. Aku justru banyak menumpahkannya dalam tulisan, dan gambar. Aku sangat banyak menulis, meluapkan semua luka-luka yang tak terobati, dan aku ingin kalian semua tahu, bahwa hidup tanpa orangtua itu bagaikan jalan di dalam kegelapan tanpa cahaya. Aku berharap, siapapun yang membaca tulisanku ini, bisa meraih cahaya terang dalam hidupmu sebelum kegelapan itu datang menghantui.
11.24 AM
Wed, 22nd of June 2016
Prani Y.
No comments:
Post a Comment