July 23, 2016

Penghormatan Terakhirku...

Terimakasih untuk semua doa yang telah saya terima dari keluarga, sahabat, teman dekat, teman jauh, yang saya yakini bisa mengantarkan roh Ibu saya dan warga lainnya menuju alam yang tak terjangkau manusia. Kali kedua dalam hidup saya menyaksikan prosesi kremasi ala Hindu Bali, dan kembali merasakan getaran yang sangat tidak bisa dijelaskan. Ada kesedihan, kebahagiaan, kebanggaan, lelah, dan rasa cinta yang semakin mendalam pada Bali. Menjadi bagian dari Bali dan budayanya sungguh bukan hal yang sepele, ini adalah momentum bagi saya untuk semakin menghargai apa yang sudah saya dapatkan selama ini.


Bali bisa dikatakan memiliki cara tersendiri dalam melaksanakan upacara pemakaman atau kremasi terhadap warganya yang meninggal dunia. Orang Bali khususnya, dan di Indonesia pada umumnya, dipastikan memiliki peraturan yang sama bahwa siapapun umat Hindu yang meninggal, cepat atau lambat harus dilaksanakan upacara Ngaben atau kremasi. Karena peleburan jasad menjadi abu diibaratkan mengembalikan apa yang telah tercipta oleh alam kepada alam, dan bila itu dilakukan dipercaya akan membawa roh (atma) yang telah meninggal menuju tempat yang terbaik berdasarkan perilakunya di bumi. Namun pada dasarnya, upacara ngaben dilaksanakan untuk membantu para roh terlepas dari unsur keduniawian.


Hiasan kipas berwarna-warni pada gambar di atas melambangkan jiwa manusia yang diperlakukan seperti masih hidup. Memberikan mereka kesempatan untuk melakukan kewajiban terakhir di dunia ini untuk berpamitan kepada keluarga, dan leluhur. Terdengar unik, tetapi percaya atau tidak, hiasan kipas tersebut secara tidak kasat mata sudah ditempati oleh para roh yang masing-masingnya telah diisi nama, dan keluarganya bertugas menggendong menggunakan kain putih tersebut sebagai bentuk rasa bakti mereka kepada yang meninggal.


Keunikan lain dari upacara kremasi di Bali adalah, tidak semua daerah memiliki peraturan yang di mana setiap warganya yang meninggal harus langsung dilaksanakan proses kremasi. Ada juga yang di kubur dahulu selama beberapa tahun, lalu kremasi dilaksanakan secara bersamaan pada tahun tertentu. Kebetulan, daerah saya di Pejeng mengikuti aturan terakhir dan itu sudah berlangsung dari semenjak jaman nenek moyang. Para tetua berusaha untuk melestarikan tradisi tersebut sampai pada generasi terbaru yang ada, namun tentu dengan beberapa reformasi sesuai dengan perkembangan jaman. Benda yang kami peluk bersama-sama di atas adalah tulang belulang dari jasad yang telah meninggal dunia. Kami gali kembali kuburannya, lalu kain pembungkus jasadnya kami buka dan tulang-tulangnya dibersihkan kembali dengan air suci sehingga tulang-tulang ini siap untuk dibakar pada hari yang telah ditentukan.


Kebayang, nggak sih? Ada sekitar 60 lebih tulang belulang dari jasad yang di kremasi pada waktu bersamaan. Tiap desa di Bali pasti memiliki kuburan yang wilayahnya cukup luas sehingga memudahkan mereka untuk melaksanakan upacara kremasi dengan jumlah yang cukup besar.


Detik-detik saat pembakaran di mulai kami semua mendoakan untuk terakhir kalinya para jasad yang ada di depan kami agar rohnya segera menyatu bersama Tuhan dan yang ditinggalkan menjadi ikhlas dan bahagia. Karena jika yang ditinggalkan masih menyimpan rasa duka yang mendalam, dipercaya para roh tidak akan mampu berjalan dengan baik menuju alam sana, dan terus terhambat karena masih adanya ikatan yang menariknya di dunia. Saya secara pribadi menyadari bahwa rupanya di saat seperti ini, manusia hanyalah manusia. Sebesar apapun kekuatan yang kita punya, sebanyak apapun harta yang kita kumpulkan, tidak ada satupun yang kita bawa menuju alam sana. Dan belum tentu yang kehidupan duniawinya bahagia, akan bahagia pula kehidupan akhiratnya, begitu juga sebaliknya. Yang menjadi tolak ukur hanyalah pada sebanyak apa perbuatan baik yang kita tampung semasa hidup untuk menjadi bekal mencapai tempat yang dituju. Salah seorang teman saya dari Inggris yang ikut menyaksikan prosesi ini, mengatakan dirinya ikut terharu dan merasa berat. Betapa umat Hindu begitu memaknai setiap inci dari kehidupan ini dan mengabdikannya untuk alam. Ia merasakan getaran luar biasa saat menyaksikan api melahap seluruh tulang belulang itu tanpa ampun dan hanya menyisakan serpihan-serpihan debu kecil dan hilanglah manusia yang selama ini bisa kita sentuh, keluarga yang bisa kita ajak bicara, bahkan seorang teman yang bisa kita ajak berbagi. Mereka semua menghilang begitu saja seperti ditelan bumi, menyatu dengan alam menjadi debu, dan  berakhir menjadi kenangan.
Dan upacara yang paling mengharukan lainnya adalah saat proses pembuangan abu ke laut. Di sini biasanya kita bisa melihat anggota keluarga mengisakkan tangis karena beliau yang telah meninggal ini akan pergi menuju alam sana dibantu oleh unsur air. Rasa lega bahwa acara telah berjalan dengan lancar dan terkendali, dan rasa terimakasih yang sangat mendalam karena acara ini tidak bisa terlaksana dengan sebaik ini tanpa adanya kerjasama dari seluruh warga yang terlibat. Sistem gotong royong atas dasar kekeluargaan ini bisa menjadi contoh untuk kita semua bahwa seberat apapun pekerjaan, akan terasa mudah jika dilakukan secara bersama-sama.


Saat segala yang telah terjadi ditinggalkan, tersisa apa yang terlihat di hadapan kita. Kehidupan yang masih harus terus berjalan. Sampai pada garis mana kita harus berhenti dan menyerahkan semuanya pada alam untuk diselesaikan. Roda kehidupan yang terus berputar inilah yang menciptakan rasa syukur bahwa kita telah terlahir sempurna sebagai manusia, mampu belajar dan memperbaiki kesalahan yang telah dilalui agar tidak terulangi. Tuhan adalah tujuan utama manusia untuk hidup, ketakutan utama manusia di dunia, dan akhir dari perjalanan manusia menuju keabadian yang sesungguhnya. Semoga semua manusia menemukan jalannya yang terbaik...


(Hormat terakhirku untuk Ibu, Nenek, dan Kakek yang dilaksanakan pada hari Jumat, 15 Juli 2016. Beliau semua tahu bahwa tugas mereka telah berakhir, dan kini tugas kami untuk melanjutkan apa yang tidak terselesaikan oleh mereka. Semoga beliau-beliau tersebut dapat mencapai penyatuan dengan Tuhan dan bahagia menyaksikan kami dari atas sana.)



Prani
23/07/2016 22.42

No comments:

Post a Comment