June 13, 2016

Sampai Kapan, Langit Kan Biru?

Langit berwarna biru setiap hari. Semenjak pertama kali aku(kita!) membuka mata, sampai pada di mana kita berada sekarang, langit tetap berwarna biru. Menyenangkan melihat setidaknya ada satu hal yang tidak berubah di saat jutaan bahkan miliaran hal berubah setiap detiknya. Menyenangkan melihat langit tetap melayang dengan indah di atas sana seolah tak peduli pada apa yang sedang terjadi di bawahnya. Birunya langit menjadi teman sejauh manapun kakiku melangkah, dan ia tak pernah pergi.


Aku tidak biasa menceritakan isi kehidupanku pada banyak orang, tapi hal ini pengecualian. Aku ingin membaginya pada kalian semua, untuk kalian lihat sebagai pengalaman bahwa hidup ini tidak semudah yang kalian bayangkan. Hidup ini rumit. Bisa dibilang, tahun ini(2016) adalah tahun terberat dalam hidupku. Ibuku memiliki keluhan kesulitan bernafas semenjak Februari lalu, fyi, my mother was a single parents. Ia tipikal pekerja keras, keras kepala, dan berprinsip, yang membuatnya tetap kuat sekaligus menjadi bumerang untuknya. Dan sakit, bukanlah halangan bagi dia untuk tetap menjalankan tanggung jawabnya terhadap pekerjaan, bahkan keluarga. Sampai akhirnya ia menyerah dan hanya bisa menerima bahwa dirinya bukan hidup sebagai manusia lagi di dunia. I am being an orphan. What a world! Tidak pernah sedikitpun terbayang dalam benakku, aku, di usia semuda ini, akan menjadi yatim piatu. Banyak orang mungkin mengalami hal yang sama di luar sana, tapi aku kini merasakannya. Sangat tidak mudah untuk diterima. Definisi keluarga yang sesungguhnya bukan ayah, ibu, kakak, dan adik lagi bagiku. Tapi hanya aku dan adikku. Dan itu cukup menyedihkan. Bahkan sangat menyedihkan, and I'm crying without tears, karena air mata tidak cukup mampu menunjukkan besarnya rasa sedih terhadap kehilangan pada kedua orangtuaku.
Life must goes on... Semua yang berasal pada-Nya akan kembali pada-Nya. I believe in that, kita semua cepat atau lambat akan merasakan pengalaman kehilangan salah satu anggota keluarga, tapi semua orang pasti berdoa agar hal itu tidak terjadi saat ini, setidaknya sampai mereka siap. Aku pun berpikir seperti itu, tapi faktanya, Tuhan memiliki takdir yang berbeda terhadapku. Dan aku harus menerimanya dengan besar hati. Menerima. Terdengar sangat mudah jika kita dihadapkan dengan keadaan yang berpihak pada kita. Like we were usually do, kita selalu menerima kebahagiaan, tapi apakah mudah menerima sesuatu yang berlawanan dengan keinginan? Tentu tidak. Disinilah kedewasaan kita diuji. Bijaksana atau tidaknya kita tercermin dari bagaimana cara kita menyikapi sebuah permasalahan yang tidak sesuai dengan kehendak. Aku secara pribadi, menghadapi delapan tahun kehidupan tanpa ayah, dan akan memulai kehidupan baru tanpa ibu, terasa sangat sulit. Sangat amat sulit, aku tidak mau menerimanya, tapi aku harus! Karena ini hidupku, dan segala hal ini terjadi padaku, maka aku yang harus menentukan apa yang harus kulakukan. Aku berdiri atas kehendakku, dan aku juga bergerak atas keinginanku. Tidak ada satupun orang yang bisa membantuku selain diriku sendiri. Atas dasar motivasi ini aku tidak mau berlarut-larut dalam kesedihan, aku meyakini bahwa kematian adalah suatu cara untuk merasakan kebahagiaan yang lain di suatu tempat, dan kita yang tertinggal disini akan mengejar waktu untuk merasakan kebahagiaan itu, jadi mereka yang pergi biarkanlah berlalu, dan tetap lanjutkan kehidupan yang kita jalani saat ini. Setelah menghabiskan waktu menata pikiran yang kacau balau selama berminggu-minggu, aku bisa mengambil hikmah positif dari kejadian ini, dan pada setiap detik kejadian yang terjadi dalam hidupku, bahwa itu semua adalah bekalku untuk hidup keesokan harinya. Menguatkan pijakanku saat berjalan keesokan harinya, menegakkan kepalaku saat melihat dunia keesokan ahrinya. Pahamilah bahwa setiap kejadian adalah pengalaman untuk kita menjadi lebih baik, dengan syarat, kita ikhlas menerima dan belajar dari masa lalu.

Semoga ayah dan ibuku bahagia menjalani kehidupan baru mereka di dimensi lain, karena aku dan adikku disini berbahagia untuk pertemuan mereka. Semoga kita berkumpul lagi menjadi sebuah keluarga di dimensi yang kalian berdua jalani saat ini...


Prani






No comments:

Post a Comment