Saya tipikal individu yang mudah tertarik pada hal-hal abstrak. Karena lahir dan besar di daerah yang percaya akan kehidupan yang ada maupun tak ada -namun ada-, di dasar otak saya sudah tersusun fondasi bahwa kita sebagai manusia hidup berdampingan dengan alam. Komponen dari alam ini juga beragam, bukan hanya dari yang 'hidup' bahkan setitik debu pun juga bagian dari lingkaran alam. Saya tidak pernah ikut ekstrakulikuler pecinta alam di masa sekolah, tidak pernah ikut kegiatan pramuka apalagi camping, sehari-hari saya habiskan di rumah untuk membaca buku dan merenungkan kehidupan berdasarkan buku apa yang saya baca.
Ada satu momentum dalam hidup setiap orang yang akan merubah segalanya. Beberapa tokoh besar seperti Einstein, Gandhi, Siddharta Gautama, Bill Gates, Steve Jobs, dan masih banyak lagi pasti pernah mengalaminya. Momentum yang seperti apa? Saya menanyakan ini sejak sekian lama. Yang mampu menjawab bagaimana satu momentum bisa merubah segalanya adalah mereka yang sudah mengalaminya sendiri. Secara keseluruhan, setiap orang akan pernah mengalami satu masa yang mampu membuat mereka paham akan apa yang mereka tanyakan sebelumnya dan sulit untuk menemukan jawabannya.
Beberapa tahun lalu, saat membaca beberapa buku mengenai agama, saya mendapatkan berbagai inspirasi untuk mengganti gerbang pikiran saya yang sudah karatan menjadi gerbang baja yang tebal dan kuat. Saya memiliki prinsip tersendiri soal apa yang saya percayai dan saya yakini itu ada. Saya tidak mengatakan bahwa diri saya religius atau pecinta Tuhan, tetapi saya meyakini bahwa ada kekuatan yang tidak bisa didefinisikan dengan ilmu fisika yang memegang kendali atas seluruh alam semesta. Saya baru menyadari bahwa kami, kita semua, hanyalah setitik kecil debu dalam alam semesta, diantara begitu banyak dan besarnya ciptaan yang Tak Terlihat. Dan saya mendapatkan momen spiritual yang akan selalu saya ingat seumur hidup saya.
Pernahkah kalian semua tahu bagaimana rasanya menjadi mati? Secara harfiah. Rasa ingin tahu saya yang amat sangat besar mengenai dunia kematian membuat saya mencari-cari sumber mengenai bagaimana proses kematian itu terjadi, hingga saya merasa mengalaminya sendiri. Saya tidak ingin bercerita terlalu jauh, tetapi inti dari momentum spiritual yang saya alami ini adalah saya tahu rasanya meregang nyawa. Tubuh yang selama ini saya kendalikan dengan otak, bisa begitu tak berdaya. Saya hanya terduduk lemas dan mengatakan "kok saya lemas?", lalu perlahan-lahan saya merasakan dari ujung jari-jari tangan dan kaki terasa kesemutan hebat. Bukan seperti kesemutan pada kaki, lebih dalam dari itu, di saat bersamaan, semakin kesemutan itu merangkak merasuki tubuh saya, mata seolah-olah berat dan ada banyak cahaya menyilaukan di depan saya. Saya hanya ingat ada warna pink, biru, oranye, merah -warna ini yang berhasil masuk ke mata saya- dan banyak lagi dikelilingi oleh warna putih yang sangat bersih bersinar. Saya merasakan diri saya tertidur, namun mengambang. Alias tidak menapaki tanah. Tapi anehnya, saya mendengar semua orang memanggil nama saya dan mengucapkan kata-kata namun saya tidak ingin menjawab, jiwa saya seperti terperangkap dalam sebuah tempat di mana hanya ada pergulatan dalam pikiran saya untuk bertanya, "apa ini?" "saya kenapa?" namun rupanya tubuh saya melakukan hal yang berbeda. Tubuh saya menangis dan mengucapkan "de...de...de...de.." Di hati saya tahu ada suara yang muncul dari bibir saya, tapi itu bukan saya!
Saya mencoba berontak namun rasanya kosong. Lalu setelah diperciki air suci, barulah saya merasa perlahan-lahan badan saya berat dan saya membuka mata seperti sedia kala.
Apa itu barusan? Kepala saya mulai bereaksi dengan berbagai macam pikiran dan asumsi. Tapi, rupanya hal paling sulit yang selama ini saya cari tahu, saya temukan jawabannya. Ternyata begitu rasanya jika roh dalam tubuh kita diangkat perlahan-lahan.
Sesudah itu, saya mulai merenungkan banyak hal. Tentang proses kehidupan yang tidak bisa lepas dari hal-hal abstrak dan undefined. Tuhan mengabulkan permintaan saya untuk merasakan bagaimana rasanya detik-detik sebelum mati, dan Tuhan menunjukkan pada saya bahwa manusia dengan kecerdasan alam pikirannya, masih kecil sekecil-kecilnya dibandingkan besarnya kuasa alam semesta. Kembali lagi saya merenungkan diri saya, sebagai manusia, telah diberikan berjuta pemandangan, kenapa masih bingung harus melakukan apa. Sekarang saya mengerti, momen spiritual yang terjadi pada saya adalah momentum untuk langkah kehidupan yang saya pilih: mengikuti frekuensi semesta. Semesta sebagai makro kosmos, dan hati saya sebagai mikro kosmos. Kita semua adalah satu kesatuan yang sulit didefiniskan, jadi, ikutilah kata hati. Karena itu yang terbaik.
PYM
No comments:
Post a Comment