May 30, 2015

Thank You For My Self

Oh, well. In a few hours later I -officially- am turning into my brand new age aka birth date. It's okay that I actually want to share these post before I decide to close my eyes on the night time.

Kata orang, usia 21 adalah usia legal di mana, yes you can going to club, yes you can get married, yes it already is, I mean, 21 and so much more. Semua orangpun begitu. Bisa dibilang, di lubuk hatiku terdalam juga beating alias deg-degan. Kira-kira peruntunganku di umur baru seperti apa. Eh, tapi seperti biasa. Bukan aku namanya kalau tidak punya pikiran yang di luar jalur.

Saat semua orang menantikan usia mereka akan bertambah, hello cakes, hello bday greetings, celebrations, posts, hugs, and more. Aku justru merasa takut. Kenapa?
1. Oh. Tuhan memberikan aku umur baru, artinya aku masih perlu hidup di dunia ini. Tuhan menambahkan satu usiaku karena sebelumnya aku belum cukup bersikap baik, lalu berarti aku harus semakin berbuat lagi? Well, guys, itu tidak mudah. Maksudku, untuk berbuat baik.
2. Aku terlahir dalam keluarga yang tidak mendewakan hari kelahiran. Adanya perayaan atau tidak, aku bahkan tidak terlalu memusingkannya. Hanya karena aku hidup di lingkaran di mana banyak orang yang berkebalikan denganku, jadi aku -terpaksa- harus mengikuti alur mereka.
3. Kalau ada yang bertanya, "Prani, apa yang kamu inginkan di usia barumu?" Aku dengan pasti akan menjawab, bisakah kembalikan keluargaku agar utuh lagi? Bicara ikhlas tidak ikhlas, aku tidak akan menjadi aku yang sekarang kalau saja keluargaku dulu baik-baik saja. Secara terpaksa -lagi- aku harus ikhlas dengan keadaanku karena aku dituntut untuk itu, sedangkan aku hanya berdiri dengan pijakan kaki yang lemah dan badan yang berayun mengikuti angin. Jadi jika ditanya, aku akan meminta kembalikan keluargaku. Dan kalau tidak ada yang bisa, maka jangan coba-coba aku akan meminta pilihan kedua. Egois ya? Tapi inilah rasanya jadi aku, bagus kalian tidak merasakannya. :)
4. Usia 21 berarti aku sudah harus lebih dewasa dari sebelumnya. Ini tuntutan dari luar dan dari dalam diriku sendiri. Aku sedang berusaha mengharmonisasikan badan dan jiwaku agar bisa menyatu sehingga kami bisa memberikan yang terbaik dari dalam diri kami -badan dan jiwaku-.
5. Di usia ini semua teman-teman dan saudara sedang menikmati masa muda penuh kebahagiaan dan harapan, tetapi aku berjalan pelan-pelan terlepas dari kerumunan dan memutuskan untuk mencari jalan lain. Apa yang sedang kucari? Entahlah, aku hanya mengikuti kata hati dan prinsip hidupku bahwa kebahagiaan versiku berbeda dengan milik kalian. Aku tidak mengejar apapun dalam hidup, tapi aku menggunakan diriku untuk melakukan sesuatu.
6. Kuharap ketakutanku ini terbayar lunas dengan melihat orang-orang di sekitarku bahagia dengan kehadiranku. Bukan sebaliknya. Karena aku sudah cukup tahu bagaimana rasanya terpisah dari kelompok, atau dikucilkan, atau semua perlakuan yang meminimalkan eksistensiku.

Posting kali ini, aku dedikasikan untuk jiwa dan badan yang dinamakan Prani oleh orangtuaku. Terimakasih karena telah memberikan 21 tahun penuh pelajaran hidup yang berharga. Entah apakah masih ada 21 tahun berikutnya atau tidak, tetapi aku ingin merayakan hari ulang tahunku dengan diriku sendiri. Dengan kesendirianku. Perjanjian antara jiwa dan badanku untuk bersatu menghadapi usia yang baru. Terimakasih sudah hidup dengan nama Prani. Terimakasih diriku... Aku tidak akan bisa bertahan tanpa kalian.

9.42 pm
May, 30 2015
Putu Prani

May 15, 2015

Ya Atau Tidak, Pilih Mana?

Apa yang akan kamu lakukan jika berhadapan dengan masa depan dua arah? Maksud saya, apakah kamu akan ambil jalan ke kanan atau justru memilih jalur kiri? Karena, saya ingat sekali pada waktu SMA, guru kimia berkata, "kita pasti akan lebih sulit bila berada pada dua pilihan dibandingkan tiga atau lebih." Jadi, memilih antara benar atau salah keduanya memiliki resiko yang besar.
Maksudnya bagaimana?
Saya penasaran sejak dulu tentang maksud dari kata-kata guru kimia saya tersebut. Saya pikirkan berulang-ulang mengenai maksud dari perkataan guru itu, dan setelah beberapa tahun terlewati, saya terinspirasi untuk menuliskan apa jawaban yang ada di kepala saya.

Semua umat manusia dalam hidupnya, tidak terkecuali kita, akan berhadapan pada masa antara dua pilihan. Jika ke kanan, apakah kita akan jatuh? Jika ke kiri, mungkinkah lebih baik yang kanan? Tidak mudah untuk berdiri di tengah antara itu. Dulu, saya masih berada pada fase pemikiran, "yah, milih warna biru. Padahal lebih bagus warna putih, nyesel deh beli ini." Lalu akan saya jadikan pikiran dalam waktu lama. Apalagi dihadapkan pada keputusan besar yang menyangkut nyawa ataupun masa depan. Akan lebih berat lagi bagi saya memikirkan dua pilihan tersebut. Saat menulis ini sambil menghadap langit biru Jakarta yang mendung, saya mengingat-ingat sudah berapa kali saya mengambil keputusan yang tepat diantara dua pilihan. Setelah saya mengingatnya, semua keputusan yang saya ambil tepat dan benar. Ini menjadikan saya untuk berpikir lebih lanjut ke dalam diri saya, lalu apanya yang sulit?

Hingga saya sampai pada sebuah kesimpulan yang menurut saya logis untuk dimengerti, oleh diri saya sendiri. Jika dihadapkan pada dua pilihan yang amat sulit untuk ditentukan, sebelum memutuskan untuk memilih yang mana, saya akan berdiri pada satu tempat dengan tatapan lurus memandang kedua pilihan tersebut. Antara iya dan tidak, saya akan menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk yang (misalnya) nanti saya pilih, apa yang akan saya lakukan untuk mengatasi hal itu. Plan A doesn't work, goes to plan B. That's my point. Saya tidak berusaha memusatkan pikiran untuk menebak antara ya atau tidak, tetapi saya menyiapkan perisai jika pilihan yang saya ambil rupanya tidak memuaskan, saya akan mencari jalan keluar permasalahannya. Karena sesungguhnya, antara dua pilihan kita sudah tahu mana yang akan kita pilih, hanya saja kita ragu jika pilihan lain akan jatuh lebih baik dari pilihan yang kita ambil.

Seperti jalannya kehidupan, yang saya tahu adalah di dunia ini selalu ada dua pilihan. Hitam-Putih, Tinggi-rendah, gelap-terang, padat-cair, tua-muda, percaya-tidak percaya, dan lainnya. Daripada saya menyibukkan diri untuk memilih, yang sebetulnya saya tahu harus memilih yang mana, namun takut akan resikonya, tanyakan pada hati nurani dan jalani semuanya baik ataupun buruk. Pilih yang baik, dan lakukan yang terbaik.



Prani

May 08, 2015

Momen Spiritual

Saya tipikal individu yang mudah tertarik pada hal-hal abstrak. Karena lahir dan besar di daerah yang percaya akan kehidupan yang ada maupun tak ada -namun ada-, di dasar otak saya sudah tersusun fondasi bahwa kita sebagai manusia hidup berdampingan dengan alam. Komponen dari alam ini juga beragam, bukan hanya dari yang 'hidup' bahkan setitik debu pun juga bagian dari lingkaran alam. Saya tidak pernah ikut ekstrakulikuler pecinta alam di masa sekolah, tidak pernah ikut kegiatan pramuka apalagi camping, sehari-hari saya habiskan di rumah untuk membaca buku dan merenungkan kehidupan berdasarkan buku apa yang saya baca.

Ada satu momentum dalam hidup setiap orang yang akan merubah segalanya. Beberapa tokoh besar seperti Einstein, Gandhi, Siddharta Gautama, Bill Gates, Steve Jobs, dan masih banyak lagi pasti pernah mengalaminya. Momentum yang seperti apa? Saya menanyakan ini sejak sekian lama. Yang mampu menjawab bagaimana satu momentum bisa merubah segalanya adalah mereka yang sudah mengalaminya sendiri. Secara keseluruhan, setiap orang akan pernah mengalami satu masa yang mampu membuat mereka paham akan apa yang mereka tanyakan sebelumnya dan sulit untuk menemukan jawabannya. 

Beberapa tahun lalu, saat membaca beberapa buku mengenai agama, saya mendapatkan berbagai inspirasi untuk mengganti gerbang pikiran saya yang sudah karatan menjadi gerbang baja yang tebal dan kuat. Saya memiliki prinsip tersendiri soal apa yang saya percayai dan saya yakini itu ada. Saya tidak mengatakan bahwa diri saya religius atau pecinta Tuhan, tetapi saya meyakini bahwa ada kekuatan yang tidak bisa didefinisikan dengan ilmu fisika yang memegang kendali atas seluruh alam semesta. Saya baru menyadari bahwa kami, kita semua, hanyalah setitik kecil debu dalam alam semesta, diantara begitu banyak dan besarnya ciptaan yang Tak Terlihat. Dan saya mendapatkan momen spiritual yang akan selalu saya ingat seumur hidup saya.

Pernahkah kalian semua tahu bagaimana rasanya menjadi mati? Secara harfiah. Rasa ingin tahu saya yang amat sangat besar mengenai dunia kematian  membuat saya mencari-cari sumber mengenai bagaimana proses kematian itu terjadi, hingga saya merasa mengalaminya sendiri. Saya tidak ingin bercerita terlalu jauh, tetapi inti dari momentum spiritual yang saya alami ini adalah saya tahu rasanya meregang nyawa. Tubuh yang selama ini saya kendalikan dengan otak, bisa begitu tak berdaya. Saya hanya terduduk lemas dan mengatakan "kok saya lemas?", lalu perlahan-lahan saya merasakan dari ujung jari-jari tangan dan kaki terasa kesemutan hebat. Bukan seperti kesemutan pada kaki, lebih dalam dari itu, di saat bersamaan, semakin kesemutan itu merangkak merasuki tubuh saya, mata seolah-olah berat dan ada banyak cahaya menyilaukan di depan saya. Saya hanya ingat ada warna pink, biru, oranye, merah -warna ini yang berhasil masuk ke mata saya- dan banyak lagi dikelilingi oleh warna putih yang sangat bersih bersinar. Saya merasakan diri saya tertidur, namun mengambang. Alias tidak menapaki tanah. Tapi anehnya, saya mendengar semua orang memanggil nama saya dan mengucapkan kata-kata namun saya tidak ingin menjawab, jiwa saya seperti terperangkap dalam sebuah tempat di mana hanya ada pergulatan dalam pikiran saya untuk bertanya, "apa ini?" "saya kenapa?" namun rupanya tubuh saya melakukan hal yang berbeda. Tubuh saya menangis dan mengucapkan "de...de...de...de.." Di hati saya tahu ada suara yang muncul dari bibir saya, tapi itu bukan saya!
Saya mencoba berontak namun rasanya kosong. Lalu setelah diperciki air suci, barulah saya merasa perlahan-lahan badan saya berat dan saya membuka mata seperti sedia kala. 
Apa itu barusan? Kepala saya mulai bereaksi dengan berbagai macam pikiran dan asumsi. Tapi, rupanya hal paling sulit yang selama ini saya cari tahu, saya temukan jawabannya. Ternyata begitu rasanya jika roh dalam tubuh kita diangkat perlahan-lahan.

Sesudah itu, saya mulai merenungkan banyak hal. Tentang proses kehidupan yang tidak bisa lepas dari hal-hal abstrak dan undefined. Tuhan mengabulkan permintaan saya untuk merasakan bagaimana rasanya detik-detik sebelum mati, dan Tuhan menunjukkan pada saya bahwa manusia dengan kecerdasan alam pikirannya, masih kecil sekecil-kecilnya dibandingkan besarnya kuasa alam semesta. Kembali lagi saya merenungkan diri saya, sebagai manusia, telah diberikan berjuta pemandangan, kenapa masih bingung harus melakukan apa. Sekarang saya mengerti, momen spiritual yang terjadi pada saya adalah momentum untuk langkah kehidupan yang saya pilih: mengikuti frekuensi semesta. Semesta sebagai makro kosmos, dan hati saya sebagai mikro kosmos. Kita semua adalah satu kesatuan yang sulit didefiniskan, jadi, ikutilah kata hati. Karena itu yang terbaik.



PYM

May 06, 2015

STARGIRL

a novel by Jerry Spinelli

Saya amat suka membaca buku yang bertemakan tentang pikiran. Karena pola pikir manusia sangat unik, maka saya semakin tertarik mencari buku-buku yang mudah dipahami, tidak sulit untuk dicari, tetapi bisa dimengerti. Buku satu ini saya dapatkan di sebuah toko buku kecil Blok M Square Mall. Bagi para penikmat buku, wajib untuk mengunjungi mall ini karena satu lantai basement penuh berisi toko-toko buku yang menjual buku bekas. Jadi, novel yang bercover sangat catchy ini terbitan Gramedia Pustaka Utama -which is I love it!- dan sudah tidak diterbitkan lagi.


Jangan mengira semua novel remaja yang berlogo "teenlit" adalah novel yang hanya berisi kisah percintaan dua remaja yang mengalami cinta monyet atau sebagainya. A big no for this one, because this is completely a different story. Tidak banyak yang bisa menerima perbedaan diri Stargirl -Susan- Caraway di sekolah barunya, ini disebabkan oleh Stargirl bersikap terlalu 'mencolok' dibandingkan yang lainnya. Membawa ukulelee, mnggunakan rok panjang melambai hingga menyapu tanah, dengan mata biru bulat besar ia menyanyikan lagu Happy Birthday tiap istirahat makan siang di cafetaria. Murid SMU Mica pada awalnya menghiraukan gadis nyentrik ini karena seantero Mica tidak menyukai perbedaan. Ada Leo Borlock yang perannya sangat penting sebagai pengagum rahasia Stargirl, tapi ia terlalu malu untuk menunjukkannya karena tahu apa akibatnya. Namun, Stargirl memang bukan gadis biasa. 



Bila dalam novel remaja difokuskan pada kisah percintaan yang penuh intrik, di novel ini, Stargirl adalah pusat perhatian. Spinelli benar-benar ingin menunjukkan ke remaja putri di seluruh dunia yang membaca novelnya bahwa betapa pentingnya bersikap manis. Biar kujelaskan kepribadian Stargirl: Ia menamai dirinya Stargirl bukan sejak lahir, karena sejak lahir orangtua menamainya Susan. Ia mengaku pernah menamai dirinya Pocket Mouse, dan nama aneh lainnya. Alasannya adalah "Aku bukanlah namaku. Aku mengganti nama saat sudah bosan, seperti kau mengganti bajumu tiap hari." Ke manapun ia pergi Cinnamon -tikus putih peliharaan- selalu ada bersamanya. Ia juga membuat biografi untuk tetangga sekitar dan bahkan teman-temannya di sekolah, memberikan kartu ucapan pada setiap orang, hidupnya seolah tanpa beban dan tanpa dosa. Ia berbuat baik dan manis kepada semuanya, maksudku, semua orang di kota Mica. Dengan sikapnya yang baik ini, ia justru dimusuhi oleh seantero sekolah. Banyak kebaikan yang dilakukan Stargirl tetapi dianggap kurang ajar oleh warga Mica. Misalnya, datang ke pemakaman kakek tua yang tidak dikenalnya sama sekali, atau memberikan anak kecil sepeda namun anak itu jatuh dan tentu saja tidak baik-baik saja, belum lagi saat Stargirl ditunjuk menjadi pemandu sorak, di mana seharusnya ia membela tim Mica, namun malah menolong anggota tim lain yang cedera. Saat itu Leo Borlock menjadi sosok teman sekaligus pacar bagi Stargirl, tetapi sungguh, tingkah cowok ini pengecut banget. 


Di saat semua orang mengucilkan Stargirl, Leo bukannya mendukung malah ikutan menjauhi gadis ini. Ia tidka tahan dengan sikap orang-orang di sekolah yang ikutan memusuhinya karena ia adalah Mr. Stargirl. Hingga akhirnya pada sebuah pesta, Stargirl ditampar oleh Hillari Kimble, lalu ia tidak pernah terlihat lagi hingga lima belas tahun berikutnya. Lalu apa? Hanya penyesalan yang ada pada diri Leo Borlock.

Yang ingin saya beritahu pada kalian adalah bersikap baik pada setiap-orang-tanpa-terkecuali itu sangat keren. Stargirl menunjukkan kepribadiannya yang tidak biasa dengan lebih banyak bekerja sama dengan pada alam daripada berkhianat pada alam itu sendiri. Makna dari sosok Stargirl ini bisa dibilang sangat luas, yang dirangkum dalam sebuah novel remaja ringan, hingga para gadis yang membacanya tersihir dan berharap sedikit tidak bisa meniru sikap Stargirl yang down to earth. Sangat berbeda jika dibandingkan dengan para remaja di dunia nyata saat ini, dandan menor, pakaian terbuka, pengetahuan sempit, mereka semua hanya memikirkan popularitas tanpa paham pentingnya tulus ikhlas mengasihi alam tanpa menginginkan imbalan. Di mulai dari hal sederhana di lingkungan perumahan, peduli, adalah satu kata yang mudah tapi sangat sulit diterapkan. Harus ada minimal lima puluh Stargirl tersebar di dunia nyata, agar kita bisa sedikit mencontoh sikap manisnya.



Saya memberikan lima bintang pada novel ini karena keunikan dan alurnya yang cantik.
*****
I hope someday I'll born a baby girl alike Stargirl -Susan- Caraway.

And thanks to GPU untuk sebuah novel terjemahan yang luar biasa.

*Selamat membaca!*