Saat banyak orang sibuk mencari kebahagiaannya dengan bekerja keras, beberapa orang justru melangkah sebaliknya. The real achievement is actually do effortless. Mungkin iya, mungkin juga tidak. Dalam hidup ini ada begitu banyak permasalahan dan pertanyaan yang tidak bisa ditentukan jawabannya secara universal. Tuhan menciptakan manusia dengan pikiran, pikiran diciptakan oleh manusia dengan pengalaman, pengalaman dibentuk dari perjalanan. Tidak ada satupun manusia di dunia ini memiliki perjalanan yang sama dalam hidup. Tidak percaya? Tanyakan pada diri kalian. Punya saudara kah? Pernahkah dari lahir saudara kalian mendapakan hal yang sama dari yang kalian dapatkan? Hal inilah yang membentuk pengalaman dari perjalanan setiap insan manusia.
Bagaimana cara menyatukan perbedaan? Perbedaan berawal dari suku kata beda. Yang namanya perbedaan, bisa iya, bisa juga tidak untuk disatukan. Berbeda konteks, berbeda pemahaman. Jika kita saja berbeda, bagaimana bisa bahagia? Manusia memiliki sifat naluriah saling tergantung satu sama lain.
Ini contoh nyata dari pengalaman saya sendiri.
Di tahun 2008 ayah saya meninggal dunia. Tahun-tahun berikutnya merupakan perjalanan terberat dalam eksistensi hidup saya. Seperti yang kita ketahui bahwa orangtua memiliki tanggung jawab untuk menafkahi dan memberikan perlindungan kepada anaknya. Tapi jika salah satu dari orangtua ini pergi, apa yang harus dilakukan? Try hard to survived. Kami menjalani hidup seperti biasa pasca kehilangan ayah, namun, dari dalam diri saya mulailah terbentuk pikiran-pikiran tentang hidup untuk saya jadikan landasan dalam menjalani kehidupan saya. Biasanya ada yang menuntun, sekarang berjalan sendiri. Saya terbentuk menjadi pribadi yang apatis, tidak peduli, dan tertutup pada awalnya. Namun lama-lama saya malah berubah menjadi silent people, dan pemikir. Waktu banyak saya habiskan dengan membaca. Hingga akhirnya saya dipertemukan oleh orangtua asuh di Jakarta oleh teman ayah saya, dan saya dengan hati mantap untuk datang kepada mereka. Pertama kali memasuki keluarga baru tentu ada perasaan canggung dan malah ingin mengulang waktu untuk kembali seperti dulu. Tapi saya tetap mempertahankan pikiran-pikiran yang saya bentuk untuk bertahan dan menyesuaikan diri. Lalu? Mereka (keluarga baruku) memberikan perhatian yang luar biasa besarnya terhadap saya hingga saya tidak memiliki alasan untuk tidak menyukai mereka. Kami saling bahu-membahu melakukan berbagai hal tanpa batas, penuh tawa, dan keakraban di setiap suasana. Kami pada awalnya berbeda, sangat berbeda tapi rasa bahagia yang kami rasakan hingga saat ini berhasil menyatukan dan mengharmonisasikan kami.
Ayah asuh saya menyayangi saya seperti ia menyayangi keluarganya. Beliau memberikan saya pendidikan secara mental dan spiritual seperti layaknya ayah saya lakukan dahulu. Ibu saya pernah berkata, "mbok tu (panggilan rumah-kakak pertama dalam Bahasa Bali), dulu Bapak memberikan pandangan kehidupan untuk kamu, tapi terputus tiba-tiba, tapi pernah tidak mbok tu berpikir bahwa Bapak yang sekarang (Ayah asuh) adalah jelmaan yang diberikan Bapak kepada kamu untuk melanjutkan tugasnya?". Saya tertegun. Itu menandakan bahwa kasih sayang orangtua sepanjang masa. Barulah saya menemukan jawabannya. Sepanjang masa dalam artian kasih sayang seorang ayah bisa berlaku pada anak sampai kapanpun oleh siapapun yang anak ini anggap sebagai ayahnya. Tidak harus ayah yang membesarkan dari kecil, namun ayah-ayah di luar sana yang mampu memberikan perlindungan dan pendidikan tentang kehidupan kepada anak. Saya menyadarinya.
Kembali membahas topik bahagia dalam perbedaan. Hingga saat ini, rasa syukur tidak pernah berhenti saya ucapkan atas apa yang telah Tuhan berikan dalam hidup saya. Hal baik maupun buruk, segalanya. Rasa bahagia itu terus bersarang di hati saya tanpa perlu saya undang untuk datang.
Tanyalah kepada diri kalian, bahagia itu bukan dipikirikan, tapi dirasakan. Bukan dalam kesukaan, namun juga dalam duka. Seperti kata John Lennon, "Everything will be okay in the end. If it's not okay, it's no the end."
- a happy child.
PYM
No comments:
Post a Comment