Seberapa banyak orangtua yang sadar dengan perkembangan emosional anak-anaknya? Ada beberapa yang mungkin memiliki kepekaan terhadap perubahan emosional anaknya di rumah. Namun, ada beberapa juga yang tidak. (saya) sebagai anak terkadang menutupi perasaan saya yang sebenarnya di depan orangtua dan memilih untuk menyimpan sendiri masalah saya. Karena apa? Karena saya merasa mereka tidak akan membantu banyak dalam memberikan solusi menurut paham kita. Hanya ada 2 di pikiran saya jika saya terliat masalah dengan orangtua; 1. saya akan di marah, 2. saya akan diceramahi. Ini biasanya berlaku bagi anak-anak yang berusia dibawah 15 tahun. Di mana mereka biasanya memiliki sebuah permasalahan sosial yang cenderung ringan hingga berat (bullying, etc.) . Tekanan yang mereka hadapi di lingkungan pergaulan menyebabkan perubahan sikap emosional dari anak-anak tersebut. Jadi, dari pada mereka mendapat lebih banyak masalah, lebih baik diam dan menelan sendiri masalah tersebut. Tingkat depresi anak usia dibawah 15 tahun kian meningkat dewasa ini. Apa penyebabnya? Banyak faktor. Persaingan, pergaulan sosial, tekanan orangtua, dan memang tingkat kepercayaan diri si anak yang cenderung rendah sehingga menyebabkan anak-anak ini tumbuh menjadi pribadi yang apatis dan jauh dari jangkauan, seolah-olah mereka memiliki dunianya sendiri. Belum lagi jika kita diberi pemandangan anak-anak yang harus mencari nafkah demi menghidupi keluarganya, atau mereka yang tidak mendapatkan fasilitas pendidikan yang layak.
Banyak yang tidak menyadari bahwa hidup kita sangat bergantung dari anak-anak. Manusia didorong untuk memiliki pasangan ya tentu saja untuk mengahasilkan keturunan. Lalu, setelah memiliki keturunan, apa? Tentu saja dididik, dibentuk karakternya, diberi kehidupan yang layak agar suatu saat nanti bisa menggantikan posisi kita saat ini untuk menjalankan roda kehidupan. Namun, banyak yang sedikit melupakan fakta ini. Anak-anak saat ini cenderung diberikan fasilitas berlebih, kebebasan, dan pendidikan yang salah. Saya ingat sekali motto dari Dian Sastrowardoyo yaitu, "Ibu yang cerdas, akan melahirkan anak yang cerdas." Saya sangat setuju dengan ini. Sebelum kita menuntut anak-anak agar cerdas, tentunya kita harus mencerdaskan diri kita sendiri terlebih dulu. Saya memang belum memiliki anak, namun saya mencintai anak-anak. Saya sangat amat menentang penyiksaan terhadap anak-anak, dan segala tindakan yang menyakiti anak-anak.
Saya banyak membaca buku dan menonton film tentang anak-anak di seluruh dunia. Film favorit saya adalah Matilda, di mana di sana diceritakan anak yang sangat cerdas diluar batas kemampuan seusianya. Buku yang saya suka adalah seri Alice-Miranda dan karya Meg Cabot yang mengisahkan bagaimana anak-anak (remaja) Amerika menjalani kehidupan mereka. Sometimes, saya compare dengan bagaimana anak-anak di Negara ini menjalani hari-harinya. There's a BIG different among them. Saya sedang berusaha mengumpulkan teman-teman saya yang terjun di dunia psikologi untuk bersama-sama membentuk sebuah program di mana kami bersama akan memberikan pendidikan non-akademis kepada anak-anak. Pendidikan non-akademis ini lebih ke arah pendekatan emosional, spritual, dan pemecahan masalah. Bagaimana kami berusaha menyeimbangkan sisi emosional mereka agar lebih kuat dalam menghadapi permasalahan. Saya ingin sekali mengajarkan anak-anak untuk cinta membaca. Beberapa keponakan dan sepupu saya sudah saya berikan bayangan dan contoh novel-novel anak untuk mereka baca. Karena, menurut riset yang diadakan sebuah universitas di Amerika, seseorang yang menyukai dan secara konsisten membaca cerita fiksi cenderung lebih bijaksana dalam menyikapi masalah yang muncul dalam kehidupan mereka. Cerita-cerita dalam kisah fiksi membuat otak menstimulasi dan ikut bekerja dalam mencari pemecahan masalah. Pembentukan pola pikir yang terbuka itulah yang ingin saya terapkan kepada anak-anak sehingga mereka bisa cukup kuat dari segi mental untuk menghadapi perkembangan dunia global yang semakin pesat. Saya juga ingin agar anak-anak dibukakan kesempatan untuk memahami diri mereka sejak dini sehingga mengetahui apa yang menjadi bakat dan talenta mereka yang menonjol. Tidak hanya dari sisi akademis, namun dari art, sport, lecture, social, dan masih banyak lagi. Semoga keinginan saya ini bisa segera terwujud di tahun 2014 ini. Tapi saya menyerahkan saja kepada Tuhan, apapun yang beliau tujuankan untuk saya, itulah yang akan datang kepada saya. We live only once, right? Wish me luck!
-children's lover.
PYM


No comments:
Post a Comment