The Fault in Our Stars
Penerbit : Qanita (PT. Mizan Pustaka)
Tebal : 422
#1 New York Times Bestseller
what do you think about the cover?
Buku karya John Green mana sih, yang tidak best seller? Ini salah satunya. Saya mendapatkan buku ini di Toko Gunung Agung cabang Margo City, Depok. Pertama kali saya melihat katalog, pandangan saya tertuju pada cover buku ini yang didesain cerah, kontras, dan terkesan seperti buku cerita anak-anak. Don't judge a book by it's cover, remember? Ilustrator cover sudah memberikan clue apa kira-kira isi buku ini. Saat saya membalik dan membaca kalimat pertama dalam sinopsis "Mengidap kanker pada umur 16 tahun......." saya tidak ragu untuk membeli buku ini. Karena memiliki sepupu di usia sepantaran yang juga sedang mengidap kanker, saya rasa ini bisa sebagai referensi dan menambah pengetahuan saya memahami seorang penderita kanker.
Best Young Adult Fiction
Goodreads Choice Awards 2012
Dikisahkan gadis berusia 16 tahun, Hazel Grace, mengidap kanker tiroid dan mengharuskannya menyeret tabung oksigen serta selang pernafasan setiap saat untuk menjaga paru-parunya tetap bekerja normal. Ia mendatangi kelompok pendukung ( komunitas kanker ) hampir setiap hari. Hazel adalah tipikal gadis introvert yang tidak terlalu bersemangat mengikuti kegiatan kelompok pendukung ini karena ia berpikir toh cepat atau lambat ia akan mati.. Namun, Mom memaksanya agar setidaknya ia seperti remaja normal merasakan dunia luar. Hazel sudah terbiasa dengan pandangan orang-orang terhadap dirinya, well, siapa yang tidak memandang penasaran jika melihat gadis remaja modis, tapi menenteng tabung oksigen dan memakai selang di hidungnya? Kombinasi yang tidak keren. Tapi begitulah faktanya, Hazel semakin terbiasa dengan pandangan orang-orang. Hingga ia bertemu dengan Augustus Waters. Cowok ini lumayan ganteng, sarkastik dan cerdas. Mereka bertemu saat pertemuan kelompok pendukung setelah itu saling berkenalan. Augustus juga mengidap kanker, satu kakinya sudah direlakan untuk diamputasi dan ia tidak bisa bermain basket lagi seperti dulu. Ketertarikan mereka mulai dari sini. Hazel menceritakan bahwa ia sangat menyukai penulis Peter Van Houten yang bukunya berjudul Kemalangan Luar Biasa. Sampai sekarang Hazel penasaran kenapa Mr. Van Houten 'menggantung' ending cerita buku itu. Ia pun menceritakan kepada Augustus dan singkat cerita sampailah mereka memutuskan untuk pergi ke Belanda untuk bertemu Peter Van Houten.
#JohnGreen #TheFaultinOurStars #Bestseller #NewYorkTimes #1
Mungkin yang sudah membaca buku ini menyukai bagian di mana mereka diceritakan sedang berada di Amsterdam, namun saya tidak akan menuliskannya di sini. Semakin ke sini, Hazel dan Augustus memiliki perasaan yang dalam satu sama lain dan memutuskan untuk berpacaran. Mereka menghabiskan waktu hampir tiap hari untuk menonton film, membaca, dan melakukan apa saja.
John Green sangat ahli membangun suasana dalam cerita sehingga tidak terkesan terlalu fiksi. Padahal novel ini 100% fiksi, namun ia membuatnya seolah-olah ini adalah peristiwa nyata. Kembali pada Hazel, suatu hari ia tidak mendengar kabar dari Augustus Waters. Ternyata kanker yang diidap Augustus sudah menyebar di beberapa tempat, ini karena ia tidak mau dioperasi. Kalian yang penasaran dengan cerita ini, silahkan sisihkan uang dan pergi ke toko buku. Saya tidak mau membocorkan ending-nya karena saya rasa cukup dramatis akhir ceritanya dan sayang jika diungkapkan di sini.
Novel ini sangat direkomendasikan untuk kalian sebagai pengetahuan tentang bagaimana seorang pengidap kanker menjalani hidup dan bersyukur bahwa kita diberikan kehidupan normal oleh Tuhan, sehingga mampu melakukan berbagai aktivitas tanpa hambatan. Bukan berarti kita mendiskriminasi para penderita kanker. Penyakit itu tidak menular secara radikal, kok. Rangkul dan hibur mereka, karena kita adalah saudara. Jangan ragu untuk membeli ya, di Toko Gunung Agung tentunya. Selamat membaca!
-reader.
PYM



No comments:
Post a Comment