November 11, 2013

Pahlawan INDONESIA abad 20.

Selamat HARI PAHLAWAN! 
Tentu tahu istilah pahlawan kesiangan, bukan? Saya rasa mungkin kalian berpikir "wah, nih orang telat woy! kemaren!" Saya tahu. Karena kesibukan exams untuk kuliah dan banyak hal lainnya, saya baru bisa kembali menulis di sini.

Hari Pahlawan diperingati setiap 10 November untuk menghormati mereka kakek-nenek kita jaman dahulu dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Tersiksa, tersakiti, terpenjara dan lain sebagainya mereka hadapi dengan ikhlas, mereka semua menyadari bahwa perjuangan mereka saat itu pantas agar anak cucu mereka kelak bisa mendapatkan kehidupan yang lebih layak dan lebih baik dari mereka, tentu saja bebas dari penjajah dan merdeka seutuhnya. Sekarang ini, seperti yang kita tahu, sistem birokrasi di Indonesia sedang dalam konidisi 'setengah matang'. Para pahlawan masa kini yang berjuang terhadap aspirasi-aspirasi dan ide-ide brilian rakyatnya teredam oleh derasnya isu politik di negeri ini. Saya menghabiskan waktu satu minggu untuk membaca rekam jejak dari peristiwa-peristiwa yang terjadi di Indonesia yang melibatkan para tokoh-tokoh besar seperti Munir Thalib, Gayus Tambunan, Antasari Azhar, bahkan ini berkaitan erat dengan elit politik sekaliber Susilo Bambang Yudhoyono. Saya bukan mahasiswa hukum atau sos-pol, saya adalah mahasiswa perpajakan yang peduli dengan isu-isu sosial di negara ini yang secara tidak langsung (bahkan mungkin langsung) berdampak kepada rendahnya kepercayaan publik terhadap kinerja birokrasi. Jiwa kritis saya tidak bisa terbendung lagi oleh rasa penasaran tentang apa sebenarnya yang terjadi dibalik para penguasa-penguasa yang dengan mudahnya menjungkir-balikkan tatanan kenegaraan dengan seenak jidatnya. Dalam ilmu sosiologi, stratifikasi sosial yaitu dimensi power, memang mengarah kepada orang-orang yang memiliki kekuasaan yang dianggap tinggi derajatnya di masyarakat. Saya sadari betul hal ini. Tapi yang tidak bisa saya terima dengan akal sehat adalah jika permainan penguasa ini sudah mulai merembet ke kasus kriminalitas, korupsi, konspirasi yang ujung-ujungnya merugikan  Negara hanya demi kepentingan pribadi atau golongan tertentu, bukan atas nama rakyat. Ingat! Bukan-atas-nama-rakyat seperti kampanye-kampanye para politikus selama ini. Saya tidak mengecam, ataupun memojokkan, bahkan memfitnah. Tidak semua dari para elit politik ini memiliki hati yang kotor, namun tidak sedikit juga yang mempunyai niat-niat terpendam untuk suatu tujuan tertentu berkuasa di balik kursi pemerintahan.

Mari pertama-tama kita flashback mengenai kasus kematian aktivis HAM, Munir. Siapapun yang mendengar dan menonton tv pada tahun 2004 pasti tidak akan lupa dengan tragisnya cara kematian Munir. Kenapa, karena proses kematiannya sangat apik dan ciamik. Dari kalangan orang awam, mendengar Munir diracun, mungkin mereka berpikir "Ah, dia kan aktivis, memperjuangkan hak-hak rakyat. Pasti ada pihak yang merasa terancam dengan tindakan beliau." Ini sungguh pemikiran yang kritis. Kalau-kalau kalian lupa, Munir, meninggal dalam penerbangan Singapura-Amsterdam dan diperkirakan meninggal tepat diatas langit Rumania. Mulut beliau mengeluarkan liur dan telapak tangan membiru mengindikasikan beliau telah diracun. Setelah melakukan autopsi mayat di Amsterdam, munculah pernyataan mencengangkan bahwa dalam tubuh Munir terdapat kandungan arsenik yang jauh melampaui batas normal sehingga menyebabkan tubuhnya tidak bisa berbuat apa-apa selain menyerah terhadap kematian. Dan kalau-kalau kalian penasaran apa itu arsenik, secara sederhana, arsenik adalah unsur yang kandungan racunnya sangat mematikan. Napoleon Bonaparte juga meninggal dengan cara seperti ini. Tentu saja ini bukan perbuatan bunuh diri karena beliau ke Amsterdam untuk melanjutkan sekolah S2, dan di dalam pesawat pun beliau tidak tahan karena diare yang cukup kronis. Memang, racun arsenik menyerang pada sistem pencernaan. Saat berita ini tiba di Indonesia, pihak kepolisian Republik Indonesia mengajak ahli forensik Indonesia yaitu dr. Abdul Mun'im Idries Sp.F untuk bertolak ke Amsterdam demi meninjau proses autopsi mayat Munir. Beliau dengan tegas menolak, karena baginya, hasil autopsi di Amsterdam sudah cukup untuk menentukan penyebab kematian korban. Yang sekarang menjadi pertanyaan adalah siapa DALANG dari kematian Munir? Seiring waktu berlalu pengusutan dan investigasi dilakukan oleh tim penyidik untuk menguak siapa aktor dibalik kematian Munir. Dan perlu diketahui juga bahwa SBY pada saat itu baru saja dilantik menjadi Presiden dan beliau langsung memerintahkan untuk membuat tim khusus untuk membongkar kasus ini. 9 tahun berlalu hingga saat ini, kewenangan Presiden untuk melindungi segenap rakyat Indonesia disia-siakan, beliau tidak tuntas menyelesaikan kasus ini hingga ke akar. Mungkinkah? Saya tidak mau berasumsi, tetapi jika kalian rakyat Indonesia yang cerdas, berpikirlah!

Yang kedua adalah kasus besar melibatkan oknum pegawai pajak. Saya sebagai mahasiswa pajak, sudah menumbuhkan prinsip dalam diri saya bahwa bekerjalah dengan konsisten dan profesional. Namun, Gayus Tambunan, kasusnya sudah cukup membuat kepercayaan publik terhadap sistem perpajakan di Indonesia memasuki daftar black-list. Mantan alumni STAN ini mengantongi uang ratusan miliar dari kas negara. Bahkan disinyalir, Gayus memiliki rekening rahasia di Singapura dan Swiss. WOW! Menurut riwayat hidupnya, Gayus bukanlah seorang pengusaha, ia hanyalah seorang pegawai pemerintahan yang imannya tidak kuat melihat dorongan dan /mungkin/ ajakan dari para elit untuk mengutak-atik uang negara. Bagi orang awam seperti kita, uang ratusan miliar tentulah jumlah yang sangat besar. Jika kita seorang konglomerat minyak di Arab, uang segitu masih kecil, tapi bagi seorang pegawai pemerintahan, memiliki rekening gendut seperti itu sungguh mencurigakan. Walaupun Pengadilan sudah mejatuhkan vonis untuk Gayus, namun pertanyaan besar or the big question marks bagi kita rakyat Indonesia adalah "Siapa yang berdiri dibelakang Gayus dan mengumpankannya ke publik?" Saya tidak ingin kembali berasumsi, tapi jika kalian cukup kritis mem-filter informasi dan teknologi canggih yang anda miliki saat ini, anda bisa mencari tahu sendiri.

Ketiga ini membuat hati saya miris dan sedih. Secara naluriah, di saat anak-anak seusia saya menonton sinetron picisan atau bersosialita dengan pergaulan, saya lebih memilih duduk menonton acara tv mendidik dan membaca buku. Might be I am such a nerd person. but I proudly to be am. Karena saya memimpin redaksi jurnalistik saat saya duduk di bangku SMP, maka mata, hati, dan telinga saya harus terbuka lebar-lebar melihat apa yang terjadi di sekitar saya sehingga bisa saya munculkan dalam rubrik sekolah bersama tim. Sikap kritis dan terbuka ini membuat saya semakin tertarik ke dalam dunia poitik dan hukum. Saya dari awal mengikuti kisah dan sepak terjang dari seorang Antasari Azhar yang tidak pandang bulu menyikat para penguasa yang memiliki tangan 'kotor'. Termasuk besan Presiden pun dijebloskannya ke penjara. Saya pada saat itu memasukkan Antasari Azhar ke dalam most valuable personage karena keberaniannya dan konsistensinya dalam memberantas korupsi. Namun, Antasari hanyalah seorang manusia biasa. Di saat niat mulianya ingin membersihkan negara ini dari oknum-oknum rakus, malah dirinya yang djebloskan ke penjara. Tadi malam saya menghabiskan hampir 6 jam untuk membaca artikel tentang kasus Antasari Azhar ini. Di lansir dari sini dan tidak perlu saya jelaskan kembali. Namun satu hal, sebegini kejamnya kah para penguasa negara kita? Saya tidak berkecimpung langsung dalam dunia pemerintahan, maka saya pun tidak tahu siapa orang-orang pastinya. Pada hasil autopsi dari Direktur PT. Rajawali Putra Banjaran, ahli forensik Mun'im Idries menjadi saksi ahli dari pihak Antasari untuk membawakan BAP tentang pemeriksaannya terhadap mayat korban. Terjadi banyak kejanggan serta ke-tidak-valid-an BAP yang dimiliki oleh JPU dan dari pihak Antasari. Ini mengindikasikan bahwa adanya konspirasi dan rekayasa dibalik kasus kematian Nasrudin Zulkarnaen karena dr. Mun'im pun mengatakan bahwa mayat yang ia terima di RSCM sudah tidak tersegel alias sudah diotak-atik sebelumnya untuk menghilangkan barang bukti terkait. Menurut keterangan dari Williardi Wizard sendiri yang pada saat itu mendapat tekanan dari pimpinannya BHD, dengan tegas akhirnya mengubah BAP yang dipaksa oleh rekannya untuk ditanda-tangani namun isinya dibuat oleh penyidik menjadi BAP yang murni dibuat oleh dirinya sendiri yang berisi ketidak-terlibatannya dalam mengeksekusi Nasrudin Zulkarnaen. Namun, apa? Hakim di persidangan tetap menjebloskannya ke penjara dan terkesan ada permainan truth or dare di dalam kasus ini. Mereka yang entah-saya-tidak-tahu-siapa terkesan saling melindungi satu sama lain dan mengorbankan seseorang untuk dijebloskan ke penjara agar publik merasa bahwa pihak penyidik dan kepolisian sudah bekerja dengan sangat baik dalam membogkar kasus pembunuhan. Antasari sendiri dihukum dengan dakwaan merencanakan pembunuhan yang menurutnya sama sekali tidak dilakukannya. Alibinya ini didukung oleh barang bukti dan penguatan saksi ahli ahli forensik dan satu ahli dari ITB yang menyatakan bahwa Antasari tidak terlibat sama sekali dalam proses komunikasi terhadap Nasrudin Zulkarnaen. Namun dijadikan BAP oleh Jaksa dalam menjerat Antasari. Malang datang tak diundang, untung pun tak pernah datang, Antasari dengan pasrah harus beristirahat di sel tahanan agar ia tidak bisa 'bernyanyi' lagi dalam membongkar kasus-kasus besar yang melibatkan elit politik tertinggi negeri ini. Sungguh miris....

Saya banyak memunculkan nama ahli forensik dr. Abdul Mun'im Idries Sp.F ke dalam tulisan ini karena perannya sebagai dokter forensik, juga kejujurannya dalam membeberkan bukti dan fakta penyebab kasus kematian yang misterius. Dari kasus Trisakti, Marsinah, Munir, Nasrudin Zulkarnaen, hingga yang terbaru pembunuhan terhadap Sisca Yovie pun dikuak dari hasil otopsi mayat yang ia lakukan atau analisis. Saya akan selalu mengingat pesan terakhir beliau kepada anaknya, "Dalam bekerja, ingatlah dua hal. Konsisten dan profesional." Sebelumnya dalam tulisan berbahasa inggris saya di tumblr berjudul "Being Consistent." adalah bentuk pertanyaan saya dan rasa ingin tahu saya mengapa orang dewasa cenderung bersikap tidak konsisten dan terombang-ambing dalam menghadapi suatu keputusan. Tidakkah ini memberikan contoh yang buruk kepada generasi muda? Back to topic. Saya sangat mengagumi beliau karena pekerjaannya yang sangat beresiko tinggi dan karena keberaniannya dalam berkata jujur dan tetap pendirian. Poin-poin inilah yang menurut saya harus diasah, dan dipegang teguh oleh generasi muda saat ini untuk menghadapi perkembangan globalisasi yang semakin tidak terkendali. Sebelum wafatnya, beliau meluncurkan sebuah buku berjudul INDONESIA X-FILES yang berisi tentang fakta-fakta kematian tokoh-tokoh di Indonesia dan peran serta penegak hukum di dalamnya. Maka, dewasa ini, saya memberikan penghormatan Hari Pahlawan saya kepada beliau, dokter forensik tiada duanya di Indonesia. Selamat jalan, Pak! Berkati kami sebagai kaum muda untuk membawa Indonesia menuju perubahan yang lebih mengutamakan kebahagiaan rakyat. 


-generasi '94
PYM

No comments:

Post a Comment