February 19, 2016

Make Friends With LGBT

Hi, bloggers!
So long time ago since last time I posted something on my very own page. I'm getting more excited now because I feel like unceasing to share you all about this super HOT topic that the Republic these days talked about.

Kita hidup di dunia di mana segala informasi sudah dapat terserap dan muncul di depan layar digital kita dalam sekejap. Siapa yang berani mengakui bahwa sekarang ini (kamu) tidak pernah menggunakan fasilitas internet? Mungkin hanya beberapa orang yang bisa menjawab "Saya!" dengan lantang, dan kemungkinan besar dia bukan dari kalangan seusia kita. Berterima kasihlah pada Leonard Kleinrock karena empat puluh tujuh tahun lalu ia berhasil menemukan apa yang kita sebut saat ini dengan nama internet. Ya, jelas saja ia tidak semata-mata menemukan internet lalu, taraaa.... langsung jadi seperti sekarang, pengembangan yang terjadi dari waktu ke waktulah yang membuat kita bisa menikmati fasilitas yang super comfortable, bikin mager, dan pastinya kecanduan karena internet yang kian lama kian mudah di akses dengan modal tidak banyak.
Seiring dengan pesatnya perubahan dunia cetak ke all you can see is about gadget (digital), perilaku penggunanya pun ikut berevolusi secara perlahan. Ini semua bukanlah persoalan yang krusial karena memang secara alamiah manusia akan beradaptasi dengan lingkungan di mana ia berada. Kita bicara soal manusia ya, jadi fokus saja ke diri kita masing-masing. Negara ini belakangan digegerkan dengan topik yang sangat privat dan super sensitif karena mengusik tim LGBT yang selama ini adem-adem saja di luar sana. Kalau kita flashback ke belakang, di Indonesia, khusus saja ya, fenomena LGBT dianggap sangat tabu karena pengetahuan tentang hal semacam 'itu' masih sangat kurang. Ditambah dengan Indonesia sebagai negara yang mayoritas beragama Islam, tidak mudah untuk menerima kaum tersebut ke dalam kelompok pergaulan sosial. Apalagi, negara kita melarang dengan tegas dalam undang-undang mengenai pernikahan sesama jenis, yang secara tersirat disimpulkan bahwa 'perbedaan' itu masih terpampang nyata. *cukup alasan kan?*
Sejak awal pemerintah pun sudah memikirkan persoalan-persoalan semacam ini maka di buatlah peraturan tersebut untuk 'mengikat' rakyat Indonesia menjadi diri mereka apa adanya a.k.a tidak menyimpang dari norma dan kodrat. Itu ekspektasi yang terjadi, lalu realita yang ada? Apa yang terjadi? Kita sangat mudah menemukan para tim LGBT (Lesbian Gay Bisexual and
Transgender) di lingkungan pergaulan dan coba deh tanya diri kita masing-masing, pasti punya kan, teman yang menjadi salah satu bagian dari tim tersebut? *saya cenderung suka menggunakan istilah tim daripada kaum untuk para LGBT, karena kaum terdengar seperti membedakan* Dan apa yang kita lakukan? Mungkin ada yang menjadikan mereka bahan lelucon, mem-bully atau lebih parahnya mengucilkan, tapi setelah beranjak dewasa, kita tidak terlalu peduli terhadap label yang ada pada diri mereka as long as we can make friends, everything just going fun. Karena apa? Mereka juga manusia, sama seperti kita, makan nasi, minum air.
Tapi belakangan banyak kasus muncul di permukaan yang melibatkan keyword LGBT yang terkesan "hei-kau-LGBT-all-this-happen-because-of-YOU!!!" Seperti..... ah, saya tidak perlu menyebutkan lagi, kan? Sejak awal tahun sudah banyak beredar di televisi dan media online mengenai beritanya dan sialnya kasus lain muncul silih berganti di-blow up pers. Karena kasus yang muncul cenderung berbau kriminal, abusive, violence(kekerasan), menimbulkan gumpalan besar mental break down kepada masyarakat awam bahwa LGBT hanya akan menimbulkan kekacauan dan jauhi anak-anak anda dari mereka atau sebisa mungkin deteksi sejak dini jika anak anda berpotensi menjadi salah satu dari tim mereka. Ya, kan? Secara tidak langsung masyarakat pasti berpikir seperti itu, dan yang muncul di kepala adalah stay away from LGBT, being or to be with them either are dangerous. Dan merekapun semakin terkucilkan. Merasa dipandang sebelah mata, tidak mendapat tempat dan kesulitan dalam beradaptasi. Apakah tindakan ini yang benar? Menurut saya tidak.
Negara boleh dan justru berhak membuat peraturan apapun yang menguntungkan sekaligus mendidik masyarakatnya menuju ke arah yang lebih baik, saya tidak meragukan itu. *pride to be nationalist* Tetapi, melalui tulisan ini, kepada para pembaca, dengan hati nurani kita, saya ingin kalian tahu bahwa mereka, tim LGBT juga manusia biasa, yang merasakan jatuh cinta, kesepian, kehilangan jati diri, merasa kosong, tidak terkontrol, dicintai, dan sejuta perasaan lainnya hanya saja dengan cara yang tidak biasa. Kebahagiaan yang sesungguhnya adalah melihat sekelilingmu bahagia. Tidak ada yang patut dipersoalkan.  Not all what you can think came from what you were seen, jika tidak ingin terlibat masalah, maka jangan berbuat kesalahan. Tapi bagaimana soal agama mereka? Menurut saya, urusan iman dan ketakwaan adalah murni hak setiap individu yang lahir ke dunia, kalau mereka terlahir di Indonesia dan beragama sesuai yang di akui negara, mereka tentu bisa mengambil sikap. Kebahagiaan beragama berada di atas level membahagiakan diri sendiri.
Pahamilah, saya tidak membela, juga menentang tentang LGBT, tapi apa yang menjadi kebahagiaan setiap orang merekalah yang menentukan, saya hanya ingin berbagi kepada para pembaca bahwa tim LGBT tidak semua membahayakan, hanya saja karena mereka lagi apes, media menaikkan topik ini untuk dikuliti. Tapi, kalau memang mereka melakukan perbuatan melanggar hukum atau melakukan kejahatan secara verbal maupun nominal kepada orang lain, ya, tentu saja harus dihukum sesuai kejahatan yang mereka lakukan. Ingat, don't judge somebody by their clothes nor their shoes, even their face. *lemesin saja*
Tulisan ini tidak menyerang dan tidak membela siapapun, hanya ingin sharing tentang topik yang sedang sangat populer di Indonesia dan saya mencoba mengutarakan apa yang menjadi pemikiran saya. Semoga menginspirasi!


p.s. "If I was lying on my deathbed and I had kept this secret and never ever did anything about it, I would be lying there saying, 'You just blew your entire life. You never dealt with yourself." Jika saat nanti di ranjang menanti kematian saya tetap menjaga rahasia ini dan tidak pernah melakukan apapun untuk itu, saya akan tetap di sana dan berkata, "Kau hanya bercanda seumur hidupmu. Kau tidak pernah benar-benar menjadi dirimu sendiri." - CAITLYN JENNER



Prani:)



No comments:

Post a Comment