Mulai 20 Februari 2016, Indonesia resmi menetapkan peraturan berbelanja ke supermarket menggunakan kantong plastik pembungkus dikenakan biaya tambahan. Jakarta khususnya, supermarket atau pasar tradisional sudah tidak melayani permintaan kantong plastik bagi pembeli, dan pembeli diharuskan membayar Rp 5.000,- untuk tiap satu lembar kantong plastik (which is wow!). Jadi, warga Jakarta, kalian harus siap hunting tas belanja super lucu supaya tetap kece walaupun harus menenteng bawaan berat sehabis groceries shopping (belanja bulanan). Bagi kota lain jangan happy dulu, karena pemerintah sudah sepakat dengan kota Medan, Bandung, Solo, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Tangerang Selatan, Semarang, Malang, Surabaya, Denpasar, Banjarmasin, dan Balikpapan untuk ikut bersama-sama memerangi sampah plastik.
Saya pribadi sangat mendukung program pemerintah semacam ini, di mana membatasi jumlah penggunaan plastik yang dimulai dari kantong belanjaan. Karena, tidak bisa dipungkiri kalau pergi ke pasar atau supermarket kita agak malas untuk menenteng barang tanpa kantong belanjaan, iya kan? Mungkin memang dasarnya kita sejak awal membudayakan penggunaan kantong plastik, maka agak sulit bagi masyarakat Indonesia yang berjumlah ratusan ribu jiwa ini untuk memberhentikan konsumsi. Jadi, ujung-ujungnya balik ke penggunaan kantong plastik. Tapi, apakah hanya sebatas pada "Stop Penggunaan sampah Plastik!!!" tapi tanpa ada solusi yang cukup masuk akal untuk mengubah kebiasaan itu? Kita bisa contoh luar negeri yang sudah lama meninggalkan penggunaan kantong plastik untuk berbelanja, sebagai solusinya mereka menggunakan kantong kertas. Tapi, muncul masalah lain, akan lebih banyak lagi pohon yang ditebang lalu menimbulkan kerusakan lingkungan yang lebih parah. Saat ini saya menggunakan kantong plastik bekas berbelanja ke supermarket atau pasar untuk mengalasi tempat sampah di rumah, kadang kalau saya tidak belanja, maka artinya stok kantong plastik saya habis, sedangkan sampah bekas akan terlihat jorok dan dikerubuti lalat, selagi menunggu petugas mengambil sisa limbah rumah tangga tersebut-yang terkadang datang tidak tepat waktu. Nah, di sana kadang saya merasa sedih, tapi dikarenakan oleh keadaan, ya, mau tidak mau saya harus membungkusnya dengan kantong plastik, dan saya tidak sejalan dengan program pemerintah untuk mengurangi konsumsi plastik. Lanjut, saya dibuat bingung juga oleh pemerintah mengenai berbelanja di supermarket di bawah naungan Aprindo ( Hero Group, Carrefour, Trans Mart, Super Indo, Alfamart, Indomaret, dll) yang melarang penggunaan kantong plastik belanjaan, berarti stok plastik kami di rumah untuk membungkus sampah bekas berkurang, lalu apa solusinya? Kita biarkan saja sampah bekas tersebut berhamburan, lalu kalau merasa sudah tidak tahan dengan baunya yang merebak, kita kembali memutuskan untuk menggunakan kantong plastik bahkan lebih banyak dari sebelumnya. Lha, apa gunanya program pemerintah kalau begini ujungnya?
Ini yang masih rancu sekali bagi saya. Pemerintah seharusnya lebih gencar mensosialisasikan sarana pengganti kantong plastik, daripada hanya sekedar menyetop penggunaannya. Walaupun ini baru uji coba selama enam bulan, tapi saya pesimis dengan respon masyarakat kalau tidak ada solusi yang membuat kami setuju dengan ajakan pemerintah juga tindakan yang tegas dari semua pihak. Karena beberapa tahun lalu, pemerintah juga pernah berusaha untuk mengajak masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik tapi rupanya tidak mempan di telinga masyarakat, sekarang saya sarankan pemerintah ganti strategi.
Kalau kita lihat penggunaan plastik di Indonesia, di tahun 2015 saja, jumlah konsumsi mencapai 64 juta ton, menurut data dari Kementerian Perindustrian, coba bayangkan berapa ribu tahun yang dibutuhkan untuk menguraikan bahan plastik tersebut? Bumi kita sudah cukup renta, ditambah beban seberat itu sungguh menyedihkan. Kalau bumi bisa ngomong mungkin ia sudah berteriak minta pensiun. Parahnya, konsumsi akan plastik di Indonesia meningkat cukup pesat tiap tahunnya, jadiharus ada langkah yang tegas dari pemerintah untuk menanggulangi hal ini. Sebenarnya, program pemerintah juga sudah bagus di bawah pengawasan Ibu kita tercinta Siti Nurbaya (Menteri Lingkungan Hidup dan Perhutanan) mengenai penanggulangan sampah plastik yang harus mendapat sokongan penuh dari pihak swasta agar program ini berjalan sempurna, hanya saja perlu konsistensi yang sangat matang agar target yang kita inginkan semua dapat tercapai. Temukan solusinya dulu, perbaiki sistem yang mengarah ke penggunaan plastik berlebihan, lalu buat larangan dan sosialisasikan bahaya limbah plastik bagi lingkungan kepada masyarakat secara keseluruhan.
Kalau menurut saya, harus dimulai dari mengubah mind-set masyarakat tentang apa dan bagaimana dampak limbah plastik untuk anak cucu dan generasi berikutnya di masa depan. Tanamkan pada masyarakat dengan iklan, kampanye, atau seminar mengenai pengetahuan tentang plastik. Karena pertama-tama, untuk menggerakan sesuatu yang besar harus dimulai dari konsistensi diri sendiri untuk melakukan sesuatu. Mari kita sama-sama mencari solusi yang tepat untuk membantu program pemerintah, selagi berusaha cobalah untuk sedikit demi sedikit mengurangi pemakaian plastik di manapun dan kapanpun, dan siapkan uangmu untuk membeli tas kain belanjaan yang super cute dan ringan ditenteng. Semoga bermanfaat!
Prani :)
No comments:
Post a Comment