Begitu sulitkah memotovasi diri sendiri? Tidak terlihat semenarik memberikan nasehat pada orang lain. Bener gak?
Entah hanya saya atau mungkin semua orang juga memiliki perasaan yang sama, tetapi jika kita dimintai pendapat oleh orang lain terhadap masalah mereka, biasanya kita jadi mendadak wiseful dan paham betul jawaban dari persoalan mereka. Berbagai macam permasalahan mendadak mudah di depan kita, finansial, percintaan, family problems, Everything just going so easier and easier... Apalagi saat pendapat kita dijadikan panutan oleh mereka yang meminta pertolongan pencerahan terhadap kita. Feels like we were born as Goddess, weren't we?
Okay, kita ubah kondisi saat sekian permasalan diatas bergerak menemui kita. Terkadang kita berpikir bahwa, "ah, kayaknya masalah gue sama si A sama, deh." Lalu beberapa saat kemudian kita berpikir ulang, "Ah, ini beda. Punya gue lebih berat dari masalah dia. Gila, stres. Gue harus gimana nihhhh..." Dan pada akhirnya kita uring-uringan tapi gengsi untuk bercerita pada orang lain.
Harus gimana, dong?
Faktor terbesar kenapa kita tidak mudah terbuka dengan orang lain untuk membagikan keluh kesah adalah rasa takut, rasa malu, rasa khawatir, dan berbagai macam rasa-rasa yang menyebabkan hati tidak tenang lainnya. Wajar sekali, sifat alamiah manusia memang seperti itu. Tergantung dari pribadi masing-masing, karena kita, toh, tidak memiliki kondisi psikologis yang sama. Kemana perginya sifat bijaksana kita saat menasehati orang lain? Kenapa saat kita dirundung masalah, otak mendadak beku? Hahaha... simple saja, secara tidak sadar sebenarnya di saat kita dihadapi pada sebuah masalah atau situasi di mana kita membutuhkan dukungan dari diri sendiri melebihi dari siapapun orang di sekitar kita, bersamaan dengan itu, otak kita secara otomatis sudah memikirkan solusinya. Jalan keluar dari permasalahan ini sudah jelas garis merahnya di kepala kita, tapi kembali lagi, rasa takut, rasa malu, rasa khawatir dan berbagai pertimbangan lain akhirnya menutupi solusi tersebut dan akhirnya membuat kita frustasi alias galau. Maka muncullah istilah dari para ahli yaitu sahabat terbaik seseorang justru adalah dirinya sendiri. Jadi, kuncinya, jika kita dihadapkan pada sebuah persoalan yang rumit, entah urusan kantor atau pribadi, cobalah untuk fokus pada pemecahan masalahnya tanpa memikirkan perasaan negatif yang akan menutupi jalan keluarnya. Semoga berhasil!
Prani
No comments:
Post a Comment