May 12, 2014

Memelihara Rasa Takut

Seseorang pernah mencetuskan istilah 'Hidup itu pilihan'. Well, I believe this kind of things are exactly true. Hidup adalah memilih. Mendapatkan apa yang diinginkan tanpa didasari oleh paksaan dari siapapun. Tetapi... Apakah semudah itu?

Mari kita mundur beberapa langkah, di saat kita akan di hadapi pada pilihan. Sebuah kejadian tiba-tiba muncul di hadapan kita, bak batu sebesar meja begitu saja menghalangi kita yang sedang menyetir dengan kecepatan tinggi, pilihan satu-satunya adalah menghindar atau pasrah untuk menabrak batu tersebut. Di kala waktu yang sesingkat itu, pilihan terburuk tentu menjadi pertimbangan paling terakhir yang akan kita ambil, istilah kerennya, kita semua maunya play safe. Lebih baik menghindari batu daripada mati menabrak batu. Tetapi, apakah sudah ada jaminan jika kita membelokkan setir secara tiba-tiba dengan kecepatan tinggi, akan membuat kita selamat? Bukannya justru membuat kesalahan yang lebih besar?

Hidup sebagai manusia yang diberi kekuatan oleh Sang Pencipta untuk berpikir, merasa, bertindak dan bersosialisasi, tentu saja tidak akan terlepas dari berbagai macam perasaan. Saya tertarik untuk menyelami rasa yang paling sering berusaha untuk dihindari para manusia, yaitu rasa takut.

Rasa takut terbentuk dari luapan emosi seseorang terhadap rasa kurang nyaman, kurang aman, dan kecemasan sesuatu hal buruk akan menimpa dirinya. Seperti halnya rasa bahagia, bentuk respon kita terhadap sesuatu dengan rasa takut ini ditimbulkan oleh efek stimulus dari setiap kejadian yang muncul di hadapan kita. Rasa takut biasanya dihadapi oleh orang-orang yang merasa terancam pada masa depannya. Jadi, mereka berusaha sebisa mungkin untuk tidak bersinggungan dengan rasa takut yang dapat menjadikan kehidupan mereka tidak stabil kembali. Bagi mereka yang memiliki sejuta pengalaman di kepala, ratusan tempat yang telah dijajaki, dan ribuan pasang mata yang pernah ditatap, perasaan takut ini cenderung menjadi sahabat karibnya. Tanpa kita sadari, perasaan takut yang setiap saat kita alami, akan menstimulus otak kita untuk kebal terhadap rasa takut itu sendiri di kemudian hari, akhirnya otak pun tidak merespon sama sekali dari ketakutan itu, kalau kita cerdas mengelola rasa takut, perasaan ini justru akan membawa kita menuju tempat yang baru.

Saya banyak mempelajari mengenai perasaan takut yang hampir setiap hari saya alami. Dari hal terkecil sampai hal terbesar, berbagai macam keputusan yang saya buat selalu diiringi oleh rasa takut. Tiba saatnya saya hanya fokus memikirkan rasa takut saya, dan cenderung mengecilkan kapasitas berpikir saya terhadap berbagai keputusan yang saya ambil. Apakah ini benar? Tidakkah ini salah? Haruskah seperti ini?
Berjuta pertanyaan silih berganti muncul di kepala saya untuk memetakan kemungkinan-kemungkinan perasaan takut yang saya alami setiap waktu. Akhirnya sayapun memutuskan berhenti berlari pada satu titik: jadikan rasa takut sebagai acuan untuk berubah. 

Maksudnya?
Saat perasaan takut muncul dalam diri kita, segeralah terima perasaan tersebut, berikan ia celah untuk semakin merasuki badan kita hingga titik terkecil, lalu dengan kemampuan otak kita hempaskan jauh-jauh perasaan itu dengan mengatakan: "everything will be alright, this is the right decision I've made. If I don't do it at this time, when I would be?" Perasaan takut ini memang memiliki karakter sangat keras, ia masih akan berusaha terus untuk merasuk ke dalam jiwa, namun, kembali kuatkan hati kita dengan membentuk sebuah benteng pertahanan melalui sugesti kata-kata menenangkan dan alihkan segala rasa takut kepada suatu hal yang membuat kita merasa lebih happy.

Pelihara rasa takut sebagai senjata untuk melalui rasa takut itu sendiri. Jika kita bisa bertahan dengan rasa takut itu tanpa merasa takut, artinya kita memberikan kuasa penuh kepada rasa takut itu untuk menempati posisi dalam diri kita, namun kita tidak memberi mereka kapasitas untuk mempengaruhi kita, saya yakin semua bisa menjadikan ini pelajaran menuju lebih baik. 

Ada kutipan dari sebuah novel yang pernah saya buat review-nya di sini tentang bagaimana seorang tokoh utama, Augustus Waters yang pandai bermain dengan rasa takutnya terhadap kematian :





-scary is my friend
PYM

No comments:

Post a Comment