....and here we are di penghujung akhir bulan kedua di 2014. Februari. Still alot of story I would like to
tell actually, tapi entahlah sepertinya semakin ke sini waktu 24 jam serasa kurang. Ngerasa gak?
Di akhir bulan ini aku ingin membagi beberapa pemikiran baruku tentang sesuatu. That is LIVELIHOOD or FORTUNE or REZEKI. Dalam beberapa minggu terakhir, hal ini begitu mengusik pikiranku.
Kenapa aku ingin membahas masalah rezeki? Karena aku merasa di bulan Februari ini begitu banyak hal yang aku dapatkan. Tanpa terkecuali baik ataupun buruknya. Dari awal tanggal 1 sampai hari ini tanggal 28, untuk pertama kalinya selama eksistensiku, aku mengingat tiap moment dalam hidup. Dan jika kita bicara soal rezeki, bagimu mungkin itu adalah uang, tapi bagiku rezeki bukan hanya semata-mata soal uang.
"Syukur nak, papa hari ini dapat rezeki lebih. Kita makan malam di luar ya..." Pernah kan, orangtua kalian seperti ini? Memanjakan kalian karena sedang mendapat rezeki lebih. Rezeki di sini dimaknai sebagai sebuah pencapaian terhadap uang. Sah-sah saja, bukan masalah. Itu hanya contoh.
Aku hanya akan membagikan pemikiranku terhadap rezeki berdasarkan apa yang aku alami. Pengaruh dari kebiasaanku mandiri sejak kecil, membaca, mencari tahu, mendengar, tumbuh berbagai macam pemikiran dan banyak prinsip hidup yang aku pegang hingga saat ini. Sejak usia belasan awal, aku sudah melatih diriku untuk tidak banyak meminta pada Tuhan. Aku hanya berdoa, "Tuhan, terimakasih atas segala baik-buruk hal yang kau berikan dalam hidupku. Maaf aku masih saja melakukan kesalahan, dan aku berdoa untuk segala kehidupan yang kau berikan padaku, aku menerima sepenuhnya." Beberapa kali aku mengungkapkan doaku pada orang-orang karena mereka bertanya, mengapa aku, di usiaku yang seharusnya penuh intrik dan drama, tampak tenang dan seolah sudah memahami isi dunia, aku hanya menjawab bahwa pengalamanlah yang mengajarkanku banyak hal. Aku sangat suka mengamati orang, tingkah laku, ekspresi wajah, bentuk tulisan, cara berjalan, tipe berpakaian, hingga gaya bicara, aku, dengan insting alamiahku mengetahui seperti apa kepribadian seseorang. Inilah rezekiku yang pertama dari sekian banyak.
Sejak SMP aku sudah tergabung sebagai tim jurnalistik dan mampu menerbitkan majalah sekolah dari kerja keras kami selama 6 bulan. Aku banyak mengikuti perlombaan tulisaan saat usiaku masih 12-14 tahun, dan aku juga sudah terlatih untuk memahami bagaimana bentuk tulisan komersil yang baik dan benar. Berdasarkan pengalaman tersebutlah aku mampu memiliki basic skill untuk menulis sebuah skenario. Di awal mula aku mulai terjun ke dunia penulisan skenario pada pertengahan 2012 kemarin, aku merasa tidak ada sensasi. Seiring waktu berlalu, aku bertemu banyak orang dan meningkatkan kualitas diri, aku merasa bahwa dunia tulis menulis ini adalah rezekiku. Kenapa? Karena aku menyukai ini.
Menjadi host di program rohani salah satu stasiun tv swasta nasional membuatku semakin yakin bahwa rezekiku memang tiada akhir. Beberapa tahun lalu aku memiliki pemikiran bahwa jika publik mengenalku, atau, jika aku sering muncul di publik, akan mudah jalan bagiku untuk menyerukan aspirasiku. Bukan sekarang, nanti kalau waktunya sudah tepat. Dan aku sudah menaiki tangga permulaan, bukankah itu luar biasa?
Harmonisnya hubunganku dengan keluarga juga merupakan rezeki bagiku. Keluarga yang selalu menjadi prioritas pertama dalam hidupku membuat hidupku menjadi lengkap. Di tambah keluarga asuh (foster family) yang menyayangiku dan membuatku merasa nyaman, menambah rentetan rezeki yang kudapatkan dari waktu ke waktu. Aku dan mama selalu menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengobrol, biasanya aku yang bercerita dari a-z tentang berbagai hal yang kualami, dan beliau seperti biasa selalu memberikan kepercayaan penuh atas hidupku, karena ia tahu aku sudah cukup umur untuk mengetahui hal yang baik dan benar. Dan itu adalah rezeki. Well, you own such a wonderful mom all over the world, and you still complain about it? Don't you dare??? ^^
Aku memutuskan untuk memulai membuka diri untuk mencari pasangan. HAHAHA... Kurasa ini agak bersifat pribadi, tapi inilah rezekiku. Proses menunggu pasangan hidup aku masukkan kedalam daftar rezekiku dan itu hak ku sepenuhnya.
Aku mulai mengubah cara berpakaianku. Karena usia 20 tahun semakin dekat, aku benar-benar memaknai usia ini sebagai sebuah titik awal kehidupan seorang Prani. Dan aku tidak ingin melewatkan satu peluangpun yang muncul di hadapanku. Aku termasuk orang yang selektif dalam memilih pakaian. Jika orang-orang jeli, aku sebenarnya adalah tipe orang yang menyukai pakaian resmi dan sebisa mungkin selalu memakai rok. Karena almarhum papa selalu menanamkan padaku bahwa wanita akan terlihat anggun jika ia memakai rok. Dan aku sangat bersyukur karena bisa memiliki pakaian bagus. Rezeki...
LPJ...LPJ... Rezeki juga. Aku beberapa minggu ini kehilangan mood untuk menulis. Karena jika waktu luang yang kupunya hanya beberapa jam, aku memutuskan untuk tidak mengambil laptop sama sekali, mood tidak ada. Tapi kalau mood sedang bagus, seperti saat ini, tulisan 5 halaman tidak sulit untuk kuselesaikan. Kualitas menulis yang penting bagiku.
Pada intinya adalah, rezeki itu seperti apa kita mempersepsikan. Dan bagaimana kita menginterpretasikan rezeki itu sendiri. Kuncinya adalah: kenali dirimu sendiri. Bukan orang lain yang mengetahui apa yang terbaik untuk dirimu, tapi dirimu sendirilah yang mengetahuinya. Aku percaya bahwa setiap manusia telah tercipta dengan segala paket kehidupan yang hanya Tuhan yang tahu, daftar dari awal hingga akhir kehidupan. Dan dengan memegang teguh kepercayaan itulah, aku tidak pernah meminta Tuhan untuk memerikanku rezeki, karena tanpa aku minta pun, Beliau sudah memberikannya, for every single minutes of my life, is a livelihood. Dan seperti prinsipku, "Jika kutub A positif, dan B negatif, maka magnet akan mampu tarik menarik dan menyatu dengan sempurna. Jika manusia positif dan rezeki juga positif, akan terjadi tolak-menolak, karena semua hal di alam semesta ini adalah positif, maka jangan takut untuk menjadi negatif."
Negatif bukan dalam hal yang menyimpang dari norma sosial atau sejenisnya, bukan juga menjadi pribadi yang pesimis, tapi jadilah orang yang legowo, atau kalau kata Pak Budiarsa, 'nrimo. Maka alam semesta akan merangkulmu.
Selamat menyambut tanggal 1 Maret! Setiap hari adalah sebuah perayaan, dan seperti prinsip hidupku yang lain: "kita hanya hidup untuk hari ini. Pukul 00.00-24.00. Dan jangan kacaukan hal itu dengan memikirkan esok hari ataupun kemarin."
Cheers^^
-PYM




