Saya kali ini akan berbagi sebuah pemikiran yang cukup penting sehingga saya putuskan untuk membuat artikel ini dalam akun blogger saya, karena tulisan ini bertujuan untuk para pembaca di Indonesia. sedangkan akun tumblr saya lebih men-global menggunakan bahasa Inggris. Baik kita to the point saja ya. Apa yang kalian semua pikirkan saat melihat gambar di bawah ini?
Mungkin ada beberapa dari kalian yang kurang paham, mungkin kurang tanggap, atau terkesan tidak peduli dengan kata-kata bercetak biru di atas. Yup. "Bali is not for SALE" Kenapa saya menuliskannya besar-besar? Bukan, itu bukan untuk menambah estetika gambar, tapi untuk menyadarkan kalian semua. Betapa Bali kita (Pulau di Indonesia adalah milik kita semua, karena kita warga negara Indonesia) selama beberapa tahun ini sedikit demi sedikit mulai dikuasai oleh pihak-pihak yang memiliki keegoisan tingkat tinggi dan kemarukan yang hanya mereka dan Tuhan yang mengerti. Saya tidak ingin menyudutkan satu pihak, namun, faktanya adalah, di sini aktor-aktor utamanya adalah para pejabat tinggi Negara. Di mana mereka yang seharusnya melindungi rakyat, dan sadar diri bahwa mereka dipilih oleh rakyat yang seharusnya memprioritaskan kepentingan rakyat diatas kepentingannya sendiri maupun kepentingan golongan, namun faktanya? Mari kita mulai dari yang terhangat dahulu.
Jika anda semua memilki akun twitter, dan aktif berkicau di sana dan melihat kehebohan tentang Reklamasi Teluk Benoa. Pertama-tama, saya ingin meluruskan rasa penasaran anda selama ini tentang arti dari reklamasi. Reklamasi adalah penciptaan daratan baru di lahan yang sebelumnya terdiri atas air. atau bahasa sederhanya pengurugan. Terbayang? Teluk Benoa di tenggara pulau Bali yang selama ini kita tahu terhampar luas dengan air, akan ditimbun oleh tanah. Pertanyaannya adalah, kenapa bisa begitu? Ternyata proyek besar-besaran ini sudah muncul pada tahun 2006. Tidak banyak yang tahu dan muncul ke publik, karena pada saat itu Gubernur Bali yang menjabat yaitu Bapak Dewa Beratha tidak menggubris penawaran para investor untuk mereklamasi Tanjung Benoa yang akan dijadikan kawasan wisata terpadu. Sekian lama proyek ini tarik-ulur, akhirnya pada tahun 2012 di masa pemerintahan Bapak Made Mangku Pastika, proyek reklamasi ini muncul ke permukaan. Konsep reklamasi dari tahun 2006 ke tahun 2012 memiliki perbedaan versi. Di mana pada tahun 2006 rencana reklamasi teluk ini adalah untuk perluasan pelabuhan kapal pesiar seperti di Monako. Namun pada tahun 2012 tujuannya beralih menjadi pulau buatan yang dijual dengan sistem sewa per kapling. Disinggahi kapal pribadi mirip Eropa dan Singapura. Berbagai pro dan kontra muncul seiring dengan munculnya kasus ini ke publik. Berbagai kecaman dari elemen masyarakat menyudutkan Gubernur Bali yang baru terpilih untuk kedua kalinya ini.
Kira-kira apa ya gunanya reklamasi? Pertanyaan itu menggelitik kepala saya. Pada saat awal kasus ini meruak, saya sudah mendengar berbagai pro dan kontra dari masyarakat Bali. Namun karena saya sudah hijrah ke Jakarta, saya berpikir ahwa biarlah orang Bali saja yang menyelesaikan masalah tersebut. Semakin lama, hati saya merasa berkhianat. Saya lahir dan besar di Bali, sekarang pindah ke Jakarta, lalu begitu saja meninggalkan Bali yang begitu baiknya merawat saya? Maka saya putuskan untuk aktif menyerukan pendapat-pendapat saya melalui twitter dan tulisan ini, untuk membuka pikiran kita semua sebagai generasi muda yang bertanggung jawab terhadap masa depan Bangsa. LSM dan berbagai lapisan masyarakat berlomba-lomba menentang proyek maut ini. Bagaimana tidak, yang diuntungkan di sini sudah jelas para investor, Pejabat tinggi, dan para pengusaha yang menginvestasikan dana mereka untuk proyek ini. Bali memiliki daya jual yang sangat tinggi di bidang pariwisata, siapa yang tidak tergiur dengan uang? Nah, sekarang, siapa pihak yang akan menderita? Tentu saja rakyat pesisir pulau Bali. Jika teluk yang selama ini tergenang air ditimbun dengan tanah, bayangkan sendiri akibatnya bagi para masyarakat kecil yang bermukim di pesisir pantai. Volume air laut akan meninggi, ekosistem dalam teluk juga dipastikan punah, lingkungan yang akan tercemar akibat dari limbah-limbah yang akan muncul seiring dibangunnya proyek tersebut. Dan masih banyak lagi. Saya tidak ingin memperpanjang daftar dampak negatif karena bagi saya pamali atau istilah Balinya 'ile-ile'.
Jadi, tujuan saya untuk membuat tulisan ini adalah agar kalian semua, saya, tua-muda, besar-kecil, mahasiswa, pelajar, orang dewasa, terutama yang namanya mengadopsi nama Bali, seperti Putu, Made, Nyoman, Ketut, dll. untuk peduli terhadap masa depan Bangsa, terutama masa depan Bali. Karena bagaimanapun juga, Indonesia terkenal di mata dunia karena memliki Bali sebagai destinasi wisata favorit. Jika Bali perlahan-lahan berubah menjadi Pulau sarat investor, akankah turis mancanegara masih mencintai Bali dengan segala kepolosan dan keunikan budayanya? Uang memang penting, namun jika yang hanya kita miliki adalah uang, percayalah tidak semudah itu dunia berjalan di bawahmu karena hidup ini sebuah sinkronisasi dari alam semesta yang melingkupimu, dirimu sendiri, dan sang Penciptamu. Bukan semata-mata soal uang dan isi perut serta hidup mewah berlimpah.
Sekian tulisan saya, semoga berguna dan menginspirasi kita semua. Jika ingin merespon tulisan saya, anda bisa mengirim email ke yogaprani@gmail.com dan saya akan memberitahukan rencana-rencana saya untuk melindungi Pulau Bali dan Pulau-Pulau lainnya di Indonesia bersama kalian.
-salam
PYM.

No comments:
Post a Comment