April 12, 2019

Pertanyaanku Tentang Tuhan

Semua orang pasti punya rasa penasaran terhadap suatu hal. Entah apapun itu, tapi aku pun memiliki rasa penasaran yang tidak bisa terbendung tentang ilmu ketuhanan. Semenjak usiaku 18 tahun, sampai detik ini, aku banyak membaca tentang agama dan spiritual, tapi tidak begitu banyak menjawab rasa penasaranku. Mungkin bagi mereka yang sudah pernah mengalami situasi sulit dalam hidup akan bertanya "dimana Tuhan?" begitu pula diriku. Ada fase di mana hidup kita akan mengalami goncangan emosi dan putus asa, tapi kenapa kita mampu bertahan dan menerobos kesakitan itu? Apakah karena muksizat Tuhan? Ataukah ini pengaruh dari hukum yang berlaku di alam semesta? 

Sebagai manusia yang terlahir di agama Hindu dengan rutinitas menjalankan ritual untuk para dewa, otak kiriku mencerna bahwa bentuk dari penghormatan terhadap dewa ini hanyalah sebagai simbol untuk menunjukkan kepedulian kita pada alam semesta. Karena para dewa selalu mempunyai bidang kesukaan mereka, misal, Dewa Surya adalah penguasa matahari, atau Dewa Brahma adalah penguasa api. Lalu, apakah mereka ini Tuhan? otak kananku seperti mengajak untuk berdebat. Karena, diceritakan Tuhan memiliki posisi lebih tinggi dai para dewa sendiri. Atau bahasa lainnya, Tuhan adalah ketuanya para dewa. Yeah, terdengar rumit, tapi begitulah yang diajarkan oleh agamaku selama ini. Aku banyak membaca buku tentang agama yang berkaitan dengan sentuhan spiritual, mungkin keterikatan yang kurasakan lebih daripada aku memeluk sebuah agama. Ya, aku terikat secara spiritual kepada sosok Tuhan. Seperti memiliki teman dunia maya, yang bisa mengerti segala situasi dan mampu melakukan apa yang kita mau. Tapi, selalu ada kejanggalan dalam setiap kesimpulan yang coba ku ambil tentang pengertianku terhadap Ketuhanan. Seperti, mungkinkah kita dikendalikan oleh Tuhan dari atas sana, memberikan kita kebahagiaan, garis hidup, duka lara, ataukah itu semua hukum alam yang semata-mata memang normal terjadi di semesta ini? 

Mungkin kegalauanku terhadap siapa Tuhan akan terjawab setelah nanti aku mendapatkan ilham dari perjalanan hidup, yang tentu saja tidak bisa kutebak. Seperti kotak misteri. Ya, mungkin seperti itu...
Tapi untuk saat ini, kubiarkan diriku percaya terhadap keebradaan Tuhan karena itu membuatku lebih nyaman dalam menjalankan hari-hariku. Seperti merasa ada yang memujiku jika diriku berbuat baik, dan menegurku jika aku ingin melakukan hal buruk. Padahal kendali itu semua ada di dalam diriku, bukan Tuhan yang secara nyata berbisik di telingaku. Tapi, ada beberapa pengalaman yang kualami seperti memperkuat keyakinanku akan adanya Tuhan, sekaligus membuatku menarik diri, berpikir segala ketidak mungkinan yang mungkin saja terjadi. Hanya melalui buku aku mampu untuk menuntaskan rasa penasaran terhadap perjalanan hidup-spiritualisme-agama dan kemanusiaan. Mungkin aku harus lebih banyak membaca untuk menemukan apa dan siapa Tuhan sebenarnya....

January 18, 2019

Hi, 2019!

Selamat Tahun Baru.....
Meskipun ini sudah pertengahan januari menuju februari, but wait, minggu depan sudah februari? Seriously? Kalian merasa tidak kalau belakangan ini waktu sangat cepat berlalu, hari demi hari, bulan silih berganti, dan sekarang kita sudah sampai di 2019. I was born in 1994, dan aku sudah melalui 24 tahun hidupku. Sungguh luar biasa!

Ada banyak pelajaran di awal tahun ini yang bisa kujadikan bahan untuk berbagi di sini. Karena pengalamanku selama dua minggu belakangan ini cukup membuat pikiranku tersita, yes, resolusi. Setiap tahun kita selalu struggle dengan resolusi dan achievement. Setelah menjalani 2018 dengan penuh lika liku, hamil, melahirkan, merawat anak, menjadi ibu, pergi ke tempat baru, mengalami kegagalan, anakku masuk rumah sakit sampai kami terpaksa batal liburan natal tahun baru, dan banyak hal yang terjadi, di tahun yang baru ini resolusiku adalah menikmati hidup.

Yes, menikmati hidup. Mungkin kalian membacanya dengan cibiran, 'iyadeh hidupmu enak, lah aku?' tenang, maksudku menikmati hidup disini adalah aku ingin lebih bersyukur terhadap setiap kondisi hidupku. Apapun itu, baik dalam suka maupun duka (dah kek janji pernikahan aja wkwk), but that's what I feel about. Aku ingin lebih bersyukur lagi dari sebelumnya, meskipun awal tahun 2019 ku bisa dikatakan cukup berat, tapi aku merasa bahagia, karena dengan munculnya masalah aku bisa belajar menjadi pribadi yang lebih dewasa, lebih tenang, lebih rasional dan lebih bersyukur untuk hal-hal kecil yang sudah Tuhan berikan untukku dan keluarga kecilku. 

Aku tentu saja memiliki banyak keinginan yang ingin dicapai, dan ada beberapa hal di tahun 2018 yang masih kubawa sampai 2019 yang masih belum bisa kurealisasikan, begitu banyak. Tapi, aku tidak mau terfokus untukmemikirkan apa yang belum terjadi, sampai lupa untuk menikmati apa yang ada di depan mataku. Meskipun tidak semua hal bisa kunikmati dengan bahagia karena suka dan duka selalu berjalan beriringan, tapi aku ingin belajar menjadi manusia yang dewasa dan bijaksana. 

Hal terpenting yang kusyukuri masih kumiliki di tahun ini adalah kesehatan. Sungguh, tidak ada hal yang bisa digantikan oleh kesehatan. Uang sekalipun, memang benar, tidak semudah yang dituliskan, tetapi aku ingin lebih menjaga kesehatanku, mengurangi makanan enak yang merusak tubuh, aku akan jadikan anakku sebagai motivasi untukku jadi lebih sehat dan kuat. Kuharap kalian semua juga bisa lebih menjaga kesehatan di tahun ini, karena tanpa kesehatan, kehidupan tidak akan berjalan sesuai harapan.


January, 18th