May 09, 2017

Selamat Tinggal, Jakarta!

source: https://cdns.klimg.com/merdeka.com/i/w/news/2017/03/17/823711/670x335.jpg


Bahagiakah kamu jika hasil jerih payahmu dihargai?
Atau.... apakah kamu melakukan sesuatu dengan harapan diakui orang lain?
Semua orang tahu bahwa bekerja sepenuh hati adalah kewajiban yang harus dilakukan untuk mendapat hasil yang baik. Tapi, kalau kamu sudah bekerja sepenuh hati dan tetap tidak dihargai, bagaimana perasaanmu?

Hari ini warga Jakarta(khususnya), sedang belajar betapa pentingnya sebuah proses menuju kedewasaan. Dan ada Basuki Tjahaja Purnama di dalamnya. Saya, teman-teman yang membaca tulisan ini, semua warga Jakarta, hari ini menjadi saksi betapa arti keadilan sesungguhnya sedang dipertanyakan. Memang, kita hidup di negara yang berjalan berdasarkan koridor undang-undang, dan kita semua patut untuk taat pada hukum yang berlaku. Tapi, kesulitan yang kita rasakan hari ini di luar kendali, melihat seorang Ahok duduk mendengar putusan hakim terhadap kasus yang didakwakan padanya. Sudah jatuh tertimpa tangga, saya rasa ungkapan itu yang tepat untuk peristiwa hari ini. Beliau kalah dalam pilkada sekaligus menjadi tahanan, tidak main-main pula, dua tahun. Semua orang bertanya-tanya, apakah ini kiamat bagi Ahok? Atau hanya skenario yang dijalankan seperti sebelumnya untuk 'meredam' gaung yang selama ini sudah mengacaukan kedamaian kita sebagai warga Jakarta?

Ahok sudah memberikan seluruh waktu hingga mungkin jiwanya untuk warga Jakarta selama lima tahun belakangan, ia tidak meminta hiruk pikuk pengakuan dari media massa tentang apa yang sudah dan akan ia lakukan untuk Jakarta kita tercinta ini. Ia bekerja, melayani warga, melindungi rakyat kecil,untuk apa? Kepentingan dirinya? Menambah rekening dollar-nya? Toh, buktinya dia ke mana-mana naik Land Cruiser, itupun peninggalan sejarah alias bekas gubernur sebelumnya. Ia tak mengendarai Ferrari, apalagi Private Jet seperti politikus palsu bergaya penuh kilau kemewahan ala rapper tapi memakai uang rakyat. Ia membela semua golongan tanpa memandang agama, melindungi warga Jakarta sekaligus mendidik mereka menjadi orang yang lebih mandiri, membangun infrastruktur yang layak di Jakarta, tidakkah pengorbanan yang Ahok berikan ini terlalu besar untuk kita? Dan apa yang sudah kita lakukan sekarang adalah membiarkan ia mengorbankan dirinya(lagi) sebagai tumbal dari skenario kejam yang tersembunyi di balik manis asamnya sirup lemon yang saya minum sore ini. "Kamu tidak boleh begitu, kita harus hargai putusan hakim. Ini negara hukum!" Oke. Kita hidup di negara yang menjunjung tinggi demokrasi, kan? Kami berhak menyuarakan hak kami untuk tidak setuju Ahok dihukum penjara selama dua tahun, tapi apa yang akan kami dapat? Penolakan. Kami dibiarkan ribut di sosial media, adu argumen dengan saudara kami di lain pulau, saling berteriak lantang siapa yang benar dan salah. Lalu apa kabar mereka yang sudah menyakiti bangsa ini tanpa memberikan kontribusi yang sepadan? Kalian tentunya akan diam. Tolong pahami satu hal, kami sangat mencintai Indonesia dan patuh pada hukum yang berlaku di negara ini, tapi, dengan satu syarat. Berikan keadilan yang REALISTIS. Pengadilan bukanlah panggung sandiwara, dengan sangat hormat, Hakim adalah pekerjaan yang mulia. Tapi, bagaimana dengan mereka yang sudah sejak lama menggerogoti akar bangsa ini untuk mempertahankan eksistensi kelompoknya? Dapatkah kalian memberikan keadilan yang sama untuk mereka? Jika Ahok memang berbuat hal yang fatal di mata hukum, lalu apa gunanya ia mengerahkan daya upayanya selama ini untuk membangun Jakarta? Hanya untuk dipenjara? Jelas tidak masuk akal. Perlakukan mereka yang sudah meremehkan dan menginjak bangsa ini dengan hukuman yang pantas.

Kami sebagai rakyat bekerja pagi hingga malam untuk menghidupi keluarga, menginkan tempat yang nyaman untuk dihuni, damai dan kondusif. Dengan sabar kami mengikuti setiap pergerakan, menaati semua peraturan, membayar kewajiban, memberikan dukungan moral dan material untuk kebaikan kami juga. Namun, saat ada sosok yang mulai bisa kami yakini mampu untuk menggendong kepercayaan kami yang selama ini mulai luntur, kami dihempaskan.
Dan hari ini, tepat tanggal 9 Mei 2017 Ahok resmi menjadi tahanan di Cipinang. Ia persis seperti Kim Shin dalam serial Goblin yang pulang setelah perang melindungi negeri Goryeo dari musuh jahat, lalu dibunuh oleh Raja Wang Yeo karena dianggap sebagai prajurit pengkhianat karena dipengaruhi oleh ayah angkatnya yang licik dan ingin menguasai kerajaan, Park Joong Won. Meski begitu, semuanya sudah terjadi. Palu sudah diketuk, dan kita tidak sedang bermimpi. Inilah kenyataan yang harus dihadapi warga Jakarta hari ini,apa yang sudah direncakan sudah terealisasikan, dan Ahok sudah berhasil dituntun ke ruangan gelap tanpa jendela, tanpa keluarga, sendirian merenungi semua kerja keras yang telah ia berikan untuk Jakarta, dan bisa jadi sebagai tempat introspeksi terhadap semua kesalahan yang tak sengaja ia perbuat.
Dan disini, kita berdoa dalam hati bahwa cukup kali ini saja kita kalah melawan tidak adilan. Kita semua yakin, Tuhan tidak pernah tidur.


Sampai bertemu lagi, Basuki Tjahaja Purnama. Salam untuk mereka yang di Cipinang, dari kami warga Jakarta yang terlalu mencintaimu, dan tolong maafkan kami karena tidak bisa menggantikanmu menghuni lantai yang dingin itu. Semoga Jakarta menjadi lebih damai...


---